Monday, December 29, 2014

efek domino terbakarnya pusat

Sebuah pasar tradisonal di kota solo.....yang sudah terkenal dengan pusat grosir untuk tekstil terbakar pada hari sabtu , 27 desember 2014. Hal yang mengejutkan banyak pihak, termasuk saya. Pada malam itu saya sedang bersama anak dan istri di rumah....semari bermain dengan anak...kebetulan istri membuka smartphone dan istri memberitahu berita yang mengejutkan.....berita akan kebakaran pasar klewer di terima dari media sosial. Tepatnya pukul 20.00 waktu itu, karena mata pencaharian saya dan orang tua saya fibtempat itu.....segera sepeda motor buatan tahun 97 menemani saya ke tempat kejadian. Disini saya tidak akan banyak membahas mengenai kronologi kejadian dari menit ke menit....tapi lebih kepada efek domino uang terjadi setelah musibah itu. Saya melalukan usaha di los A1xx....dimana kita tahu pasar klewer ada 8 blok huruf abjad....A,B,C,D,E,F,G,H. Dimana untuk abjad A,B,C,D adalah blok kios ditengah dan sisanya mengitari blok yang di tengah. Berarti untuk lantai satu ada 400 kios lebih dan lantai dua( dengan dobel abjad , misal AA,BB,CC,dst). Ini berarti ada sekitar 1000 kios. Dengan peristiwa terbakarnya pusat bianis di solo ini...dengan asumsi tiap kios ada pemilik usaha dan seorang karyawan....sudah jelas ada 2000 orang yang untuk sementara 'menjadi pengangguran'. Selain pemilik kios....karyawan ...masih asa kuli panggul ,tukang parkir,penjaga kamar kecil,pedagang makanan,pedagang makanan kwcil dan buah dan abang tukang becak yang tidak bisa mencari rejeki karena kejadian ini. Efek ini masih akan berlanjut ...dengan asumsi 25% pemilik kios memprosses kain menjadi produk jadi....sudah beetambh lagi orang yg menjadi 'pengangguran'. Beberapa mata pencaharian yang tidak langsung beesinggungan dengan pasar klewer harua menanggung konsekuensinya. Dengan tidak berjalannya roda perekonomian di pasar sandang ini....mereka mereka menjadi pengangguran ,senasib dengan profesi yang temat kerjanya di pasar tersebut. Itu baru permukaannya....masih banyak lagi efek dari segi yang lain...salah satunya kesehatan. Banyak pemilik kios yang syok...tidak sedikit yang tekanan darahnya naik....mentalnya down. Pastinya akan banyak pasien dadakan karena peristiwa ini. Dari segi keuangan...jika modal usaha bukan dari asset peibadi...pinjaman bank atau barang hutang dari supplier hal ini mnjadi masalah baru. Mereka tidak bisa melaksanakan kewajiban dalam membayar hutang karena modal usaha baik yang beeupa uang atau barang sudah menjadi abu. Dan tidak bisa dipungkiri segi finansial.inilah pemicu munculnya masalah kesehatam yang membuat pengeluaran karena angguan kesehatan. Begitu besarnya efek yang muncul HANYA karena suatunperistiwa kebakaran.

Sunday, July 1, 2012

Gajah musuh semut

Bagaimanapun, korporasi besar akan selalu diuntungkan jika ada kejadian seperti petang hari ini. Di bandara Internasional soekarno hatta, dengan maskapai pernerbangan berwarna merah sebagai identitas perusahaannya telah menelantarkan banyak penumpangnya. Jadwal sesusai sewaktu saya booking(memesan) tiket adalah 15.45 wwib. Sewaktu kita check in, jadwal sudah berganti menjadi 17.30wwib. Dan sampai saya menulis artikel ini kita "HANYA" diberikam kompensasi setakar nasi putih, sepotong paha ayam dan olahan sayur .

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh sekolompok penumpang untuk jadwal penerbangan ini(semut) untuk menuntu koporasi penerbangan warna merah ini(gajah). Sebenarnya bukan kita para penumpang saja yang dirugikan oleh keadaan ini, karyawan dengan jabatan rendah di maskapaiinipun telah menjadi korban atas kejadian ini, mereka kena amarah dari para penumpang. Yang sebetulnya menjadi tanggungjawab dari koporasi tempat mereka bekerja.

Dan jikalau kitaingin mencarikambing hitam atas kejadian ini. Akan sangat panjang antriannya. Bagaiamana pemerintah selaku pihak yang memberikan ijin usaha bisa meloloskan ijin usaha mereka jikalau manajemen perusahaannya kurang bertanggung jawab . Dan apabila rencana BUMN untuk memasukkan rating dari bandara kita , apakah ini tidak merupakan misi mencoreng muka sendiri. Bukankah akan lebih baik jikalau semua ijin dan kelsyakan maskapai penerbangan diperikss ulang untuk menghindari penumpang menjadi gelandangan di bandara.

Itikad baik dan tekad memang haru dipertahankan dan diperjuangkan untuk menjadi lebih baik. Namun koreksi diri dan bercermin nampaknya perlu dilakukan supaya bangsa tidak 'begitu' malu karena hal ini .

Friday, March 16, 2012

Go Green !!! feat electric vehicle

Go Green  !!! merupakan frasa yang terasa sering kita dengar dan tidak asing lagi di telinga kita. Arti dari frasa tersebut adalah mengajak kita untuk melakukan aktivitas yang ramah lingkungan.  Banyak hal yang sebenarnya dapat kita lakukan untuk (aktivitas) hidup yang ramah lingkunan. Sedangkan feat berarti menampilkan artinya  dan electric vehicle artinya kendaraan bermotor yang menggunakan listrik sebagai sumber energinya. Gaya hidup ramah lingkungan menggunakan kendaraan elektrik sebagai alat transportasi.

Tulisan ini terinspirasi dengan tulisan mantan CEO Jawapos (maafkan jika saya salah mencantumkan jabatan anda) Pak Dahlan Iskan pada surat kabar Jawapos tgl 12 Maret 2012. Dengan menggebu-gebu Beliau mendorong dimulainya proyek mobnas(mobil nasional) dengan  konsep yang berbeda, yaitu berbahan bakar listrik, dan memalui tulisan ini saya bersemangat kembali untuk berbagi ide. Meskipun tidak ada latar belakang mekanikal dan elektikal, namun saya tertarik dengan gaya hidup yang ramah terhadap lingkungan.

Konsep kendaraan listrik yang menjadi ide saya adalah kendaraan listrik yang dapat menghasilkan listrik sendiri saat kendaraan berjalan maupun berhenti. Dimana atapnya diaplikasikan panel surya dan menggunakan sistem pengubah daya saaat pengereman menjadi energi listrik untuk mengisi batereinya. Dengan begitu kendaraan ini akan menjadi lebih efisien dan hijau serta membantu pemilik kendaraan  jika malam harinya lupa meng-charge beterinya.

Sebenarnya apa yang menjadikan kendaraan listrik menjadi kurang diminati oleh sebagian besar penduduk dunia? Salah satu faktor kenapa kendaraan listrik kurang diminati adalah akses pengisian bahan bakar. Hal ini tidak akan menjadi kendala yang berarti jika kendaraan tersebut hanya dimanfaatkan untuk keperluan di kota. Tapi akan menjadi kendala jika kendaraan digunakan untuk perjalanan jarak jauh, karena dibutuhkan pengisian bahan bakar(dalam hal ini bateri) sebelum mencapai tujuan dan dana yang tidak sedikit untuk membangun infrastruktur pengisian bahan bakar listrik. Selain itu waktu yang dibutuhkan untuk mengisi baterei juga tergolong lama, kurang praktis jika dibandingkan kendaraan bermotor berbahan minyak.

Namun hal ini bukan menjadi harga mati untuk tidak mengembangkan kendaraan listrik, karena sebetulnya ada beberapa alat dan teknologi yang sudah dapat dipergunakan untuk “sedikit” menutupi kekurangan ini. Kita telah diberi energi secara gratis, yaitu matahari. Dan alatnya pun sudah dijual dipasaran, memang secara ekonomi masih mahal karena (mungkin) belum dibuat secara massal. Atap kendaraan bermotor dapat disusun panel surya untuk mengisi baterei. Dapat kita lihat negara tetangga (Thailand)  kita sudah menghasilkan kendaraan transportasi umum roda tiga (kalau dijakarta lebih dikenal dengan nama bajai) dengan bahan bakar tenaga matahari. Bisa jadi ini juga merupakan prototipe, karena hanya diulas seagai iklan di suatu channel televisi yang membahas tentang teknologi dan alam(discovery channel).

Selain itu, terdapat alternatif lain untuk menghasilkan energi tanpa harus berhenti dan menunggu baterei di-charge. Dapat juga kita menngaplikasikan teknologi yang dipakai di sirkus mobil dunia (formula one), dimana mereka tenaga yang dihasilkan saat pengereman diubah menjadi energi listrik untuk mengisi baterei.

Yang dijadikan alasan utama kenapa kendaraan istrik kurang diminati adalah dari segi ekonomi.  Kendaraan listrik mahal harganya, karena harganya termasuk biaya penelitan dan pengembangan (R & D) dan beberapa komponennya memang mahal. Layaknya lampu LED yang sebenarnya sangat efisien dalam penggunaan listriknya untuk saat ini tidak dapat bersaing dengan lampu hemat energi. Karena nilai keekonomisannya masih jauh dengan lampu hemat energi. Harga lampu LED  lebih mahal  tujuh kali lipat jika dibandingkan dengan lampu hemat energi yang lumensnya( satuan cahaya yang dihasilkan) setara. Sedangkan konsumsi listrik lampu LED ini  “hanya” setengah dari konsumsi listrik lampu hemat energi
 
Panel surya harganya memang semakin terjangkau, namun bisa dikategorikan mahal untuk masyarakat kita. Belum lagi pengembangan untuk merubah daya saat pengereman mennjadi energi listrik serta bataeri yang dapat menampung daya listrik yang besar dan dapat di-charge dengan waktu yang singkat. Namun saya yakin kedua hal ini akan dengan mudah dipecahkan jika janji Pak Dahlan untuk membantu mengembangkan memalui kementrian BUMN benar-benar berjalan. Entah itu dari sisi produksi, dengan  cara mendanai penelitian dan pengembangannya atau kebijakan keuangannya (subsidi harga jual kendaraan listrik).

Ulasan dan ide diatas dapat juga diserap dan dipergunakan oleh Pak Jokowi (walikota Surakarta) yang telah berhasil mengangkat pamor mobil nasional(dalam hal ini esemka). Jika mobil nasional kita mempunyai nilai lebih, yaitu ramah lingkungan, bukan hanya masyarakat kita secara nasional saja yang antusias, tidak menutup kemungkinan produsen mobil tingkat dunia akan tertarik. Dari sini negara kita dapat mencuri perhatian dunia dan diperhatikan dunia, karena masyarakat dunia (khusunya negara maju) menaruh perhatian yang banyak tentang isu pemanasan global.  Dan ini merupakan penerapan dari hidup  yang ramah lingkungan. Karena kendaraan listrik tidak menghasilkan gas CO2 yang dapat membuat lapisan ozon kita rusak dan mengakibatkan pemanasan global.

Penerapannya dapat dimulai dari transportasi umum(seperti angkutan kota / angkot,busway,bajai), dimana banyak orang membutuhkan transportasi ini dan tentunya para pengguna transportasi umum akan senang karena tarifnya tidak mengalami banyak kenaikan seiring naiknya harga bahan bakar minyak. Suatu hal yang mustahil jika kenaikan bahan bakar minyak tidak berdampak  pada ongkos angkutan umum( meskipun sudah memakai kendaraan listrik), karena orang yang mengoperasikan transportasi umum juga terkena imbas dari kenaikan bahan bakar minyak. Harga kebutuhan pokok menjadi meningkat, karena biaya produksi dan distribusi ke barang  kebutuhan pokok mengalami kenaikan. Setidaknya dengan adanya kendaraanumum yang berbahan listrik dapat menekan salah satu pos pengeluaran dari masyarakat banyak.

Semoga ide ini dapat membantu kita terlepas dari ketergantungan akan bahan bakar minyaK,dan yang lebih penting lagi dapat mengurangi polusi udara dan membuat dunia semakin panjang umurnya.

Tuesday, April 26, 2011

Guruku Malang, Guruku sayang

Ini bukan menceritakan kisah seorang guru yang tinggal di kota Malang, dan bukan juga cerita romantisme anak asuh yang jatuh cinta kepada gurunya(kebanyakan nonton sinetron kali yeeee). Cerita ini berawal dari obrolan santai sebuah Group di perangkat keras telepon seluler buatan Kanada. Kebetulan kami alumnus sebuah perguruan tinggi membuat group untuk sekedar ngobrol atau bertukar informasi.

Pada saat suatu topik membahas dosen, seorang teman yang telah berprofesi sebagai guru berbagi cerita, kalau beberapa dosen pernah ke sekolahnya untuk mempresentasikan kampus kami. Betapa bahagianya teman saya itu, bisa membanggakan kampusnya dahulu, dan bertemu dengan dosen yang pernah mengajarnya.Mungkin teman saya juga sudah siap jika sang dosen tidak menggingat teman saya, maklum anak asuhnya bertambah dari tahun ke tahun , dan jika teman saya tidak mempunyai ciri khas, tentunya sang dosen tidak mengginggatnya.

Setelah bercakap-cakap, sang dosen terkejut karena salah seorang guru di sekolah yersebut adalah anak didiknya. Tapi teman saya dibuat lebih terkejut lagi dengan pernyataan seorang dosen 'dengan ipk(indek prestasi kuliah) yang hanya cukup, apakah kamu bisa mengajar?'.

Yang buat saya berpikir, begitu congkaknya orang-orang pandai yang telah menjadi dosen. Dan yang lebih mengenaskan, kenapa dosennya tidak merasa ikut senang atas kesuksesan muridnya, terlepas dari berapa ipknya. Begitu malangnya dosenku, dan begitu sayangnya guruku(teman yang menjadi dosen).

Thursday, January 20, 2011

Rasanya.......

Jika berhubungan dengan makanan, ada pedas, asin, manis, asam atau campuran dari beberapa rasa. Yang mana yang enak, suatu hal yang sangatlah subjektif. Namun yang paling menyiksa jika seseorang suka suatu rasa, semisal pedas, namun karena suatu dan lain hal, orang tersebut tidak dapat lagi mengonsumsi makanan pedas, bisa karena orang tersebut mempunyai penyakit maag(lambung)

Dan jika menyangkut hati atau perasaan orang, rasa adalah yang brhungan dengan hati. Senang, susah, jatuh cinta, marah, benci dan masih banyak poerasaan yang lain. Hal ini juga merupakan sesuatu yang subjektif, seperti rasa makanan. Yang dapat menilai adalah individu per individu. Dan yang lebih mencengangkan, rasa tidak ada takaran atau standarnya.

Lalu mengapa saya membahas sesuatu tentang rasa, suatu hal yuang tidak terukur dan subjektif? Karena saya merasa hal ini adalah kelebihan manusia. Segala kegiatan tentulah berhubungan dengan rasa. Dan itu berpengaruh kepada hasil akhir suatu kegiatan. Entah dari kualitas dari hasil maupun waktu yang dibutuhkan oleh individu untuk mencapai suatu tujuan.

Kadang kala saya merasa kasihan dimana ada orang yang takut atau khawatir jika pekerjaannya tergantikan oleh orang lain, yang lebih mengenaskan jika ada orang yang ketakutan jika profesinya tergantikan oleh mesin. Bukanlah robot atau mesin tidak mempunyai perasaan? Bukankah kita sebagai makhluk yang dikaruniai perasaan akan mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan robot ataupun mesin? Lalu akan muncul pertanyaan, mengapa diciptakan mesin? Orang menciptakan mesin karena kita butuh standarisasi produk, dan efisiensi. Namun kalau tidak ada manusia, apakah mesin atau robot akan 'ada' dan lebih jauh lagi dapat beroperasi? Bukankah mesin juga membutuhkan manusia. Dan yang lebih mendasar lagi, apakah anda percaya jika rejeki itu adalaj karunia Yang DiAtas dan Dia tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan umat-Nya? Jika ya maka pergunakanlah hati sebaik-baiknya dan jagalah kondisinya. Dan pertanyaan terakhir setujukah anda dengan pandangan saya?

Saturday, January 8, 2011

Rapor

Bagi yang masih sekolah, mungkin sekarang saatnya pengembalian rapor karena habis libur tengah semester, kalau anda sedang kuliah, sekarang ini masa dimana jantung anda berolahraga, menantikan hasil mata kuliah yang anda tempuh selama setengah tahun yang lalu. Namun disini saya bukan ingin membahas rapor seperti bayangan anda. Melainkan 'Rapor kehidupan'.

Aneh??? Sedikit aneh menurut saya kehidupan ini bak kita menempuh pendidikan. Dimana banyak mata pelajaran yang harus kita ambil, dan di tiap mata pelajaran memiliki nilai. Kalau anda binggung dan tidak percaya mari kita bahas lebih mendalam.

Kita akan bernostalgia dengan keadaan atau situasi sewaktu di SD. Tentunya kita semua pernah menempuh pendidikan itu. Simpel saja, di SD ada mata pelajaran Agama. Di kehidupan ini mata pelajaran tersebut akan kita ikuti sampai kita 'kembali kepadaNya. Suatu yang berhubungan dengan kedekatan kita pada Sang Pencipta. Ada juga pelajaran PPKN(jaman saya sekolah lebih dikenal dengan PMP), pelajaran tentang moral, kalau pelajaran Agama bersifat vertikal, maka PPKN lebih bersifat horisontal, namun tetap pondasi atau dasarnuya adalah hati. Lalu ada pelajaran IPS, yang mengajak kita lebih menjadi makhluk sosial, dan IPA yang berhubungan dengan alam.

Lalu apa yang menjadikan menarik? Ternyata hidup lebih kondisional, dimana kita dihadapkan pilihan mata pelajaran mana yang akan kita prioritaskan. Tidak seperti sekolah, dengan belajar supaya dapat mengerjakan ujian, maka nilai di rapor kita tentu akan bagus semuanya. Di saat kita ingin menjadi makmur, maka banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mencapai tujuan kita. Jika ongin cepat makmur, maka konsekuensinya akan ada nilai di rapor kita yang merah. Contoh extrem dengan berjudi(walau sebenarnya hidup adalah perjudian), atau menipu orang.

Memang kita bisa mendapat nilai yang sedang-sedang di semua mata pelajaran, namun konsekuensinya tujuan kita juga akan lamban juga tercapainya. Nah, sekarang nilai rapor kehidupan anda sepenuhnya ada di tangan anda, mau mengorbankan salah satu mata pelajaran, atau anda lebih memilih nilai yang rata-rata namun hidup tentram. Selamat menjalani hidup ini.....

Thursday, January 6, 2011

Korek Api

Barang yang kecil, sepele, tapi banyak manfaatnya. Bayangkan jika tidak ada korek api, betapa susahnya ibu-ibu rumah tangga jika ingin memasak(terutama beberapa tahun yang lalu sebelum adanya kebijakan gas 3kg). Betapa susahnya juga bagi perokok( kebetulan saya juga seorang perokok).

Namun bukan itu semua yang mengelitik pikiran saya, saya kebetulan juga memiliki kertetarikan dengan green living(mungkin saya belum dapat mengaplikasikan dari hal yang kecil, karena saya perokok). Terlepas dari itu semua, saya hanya ada sebuah pemikiran yang mungkin sepele tapi mungkin akan menjadi bahan yang menarik untuk disimak. Antara keekonomisan suatu barang dan green living, dua hal yang sangat bertolak belakang.

Dari banyaknya merk korek api gas, ada salah satu merk korek api(Cri***t) yang tidak dapat diisi ulang. 'Lalu apa yang meresahkan anda jika suatu korek api tidak bisa diisi ulang, toh harga korek api gas berapa sih? Sehingga hal tersebut memancing anda untuk membahasnya'Mungkin pertanyanyaan-pertanyaan ini yang akan muncul di benak pembaca.

Mari kita lihatdari segi ekonomi, secara bisnis perusahaan itu telah dengan baik menerapkan strategi bisnisnya, dimana orang diharuskan membeli korek api jika gasnya telah habis. Perlu juga untuk para pembaca ketahui, harga korek api merk Cri***t lebih mahal dari korek api merk lain yang dapat diisi ulang. Tapi coba pembaca bayangkan, berapa plastik yang digunakan pabrik tersebut untuk berproduksi selama sebulan, dan itu juga berarti sama dengan banyaknya limbah plastik yang dihasilkan oleh konsumen korek api tersebut. Kita juga tahu bahwa plastik adalah zat yang tidak mudah terurai dan tidak ramah lingkungan.

Ya begitulah sulitnya menerapkan green living, seperti halnya lampu LED ataupun solarcell, karena harganya masih mahal, maka masih sedikit sekali orang yang memanfaatkannya, dan karena alasan ekonomis inilah yang membuat orang tidak bisa menerapkan green living. Mungkin anda juga akan bertanya dengan kebiasaan saya merokok, sementara saya belum berkomitmen untuk berhenti, namun proses untuk pengurangan konsumsi sudah saya lakukan walaupun belum signifikan. Maka dari itu saya belum berani mengajak pembaca untuk berkomitmen dengan green living :)