Showing posts with label bumbu. Show all posts
Showing posts with label bumbu. Show all posts

Tuesday, February 16, 2010

Olahragawan sejati

Olah raga, salah satu kegiatan yang dibutuhkan dan penting bagi kehidupan manusia. Jika dilihat dari hal yang paling mendasar, manfaat olah raga adalah membuat badan kita sehat, selain asupan gisi yang seimbang dan pola hidup yang baik. Olah raga berdampak pada keseimbangan metabolisme tubuh, mengeluarkan zat-zat yang berlebihan di dalam tubuh dan dapat sebagai sarana detoksinasi.

Dari sudut pandang yang lain, olah raga juga dapat membentuk pribadi yang lebih baik. Di dalam dunia olah raga kita dituntut untuk lebih sportif dan jujur. Tidak malu mengakui keunggulan atlet lain, dan jika anda ingin menjadi atlet yang sukses, jangan berhenti pada titik mengakui kehebatan para pesaing anda, anda harus lebih giat berlatih supaya ganti anda yang diakui keunggulannya dari pesaing anda. Tidak mudah cepat puas dan putus asa merupakan nilai lain jika anda ingin menjadi atlet yang sukses. Namun alangkah lebih baik lagi jika anda tidak menjadi sombong atas kesuksesan anda.

Sekedar ingin berbagi mengenai pengalaman pribadi. Saya termasuk orang yang mempunyai kemampuan di bidang olah raga, namun mungkin bukan merupakan pilihan dari teman-teman saat berolahraga. Kebetulan olah raga yang saya gemari adalah olah raga beregu. Saya mampu beradaptasi dengan teman waktu permainan dimulai, namun tujuan saya adalah bermain dengan baik, dalam artian tidak banyak melakukan kesalahan dan berguna bagi regu saya. Yang menjadi masalah, saya tidak menjadikan kemenangan sebagai tujuan saya terkecuali pada saat bertanding. Pada saat latihan saya merasa puas jika telah bermain baik, kemenangan merupakan bonus bagi saya. Saya juga memilih bermain aman, dalam artian lebih berhati-hati, supaya saya atau teman latihan jangan sampai ada yang cidera menggingat usia saya dan teman sepermainan.

Saran saya, jika anda ingin menjadi olahragawan anda tetap dapat mengambil nilai positif dari diri saya, yaitu bermain baik dan hati-hati namun anda harus memiliki nilai yang lain, jangan mau kalah dan tetaplah rendah hati.

Apa yang membuat anda merasa lebih dari orang lain? Apakah di bidang yang anda pilih tidak ada orang yang melebihi kemampuan anda?

Monday, February 8, 2010

Mulilevel Marketing (bagian 1) Apa itu multilevel marketing?

Multilevel marketing atau lebih kita kenal dengan MLM merupakan salah satu bentuk manajemen pemasaran yang ada. Sistem ini menggunakan konsumen sebagai bagian dari pendistribusian suatu barang dan sekaligus menjadikan konsumen sebagai bagian dari tenaga pemasaran dari perusahaan. Karena sistem marketing dan pendistribusian barangnya sedemikian rupa maka perusahaan telah mengurangi beban usahanya dalam pendistribusian dan marketingnya. Mereka membuat rantai distribusi lebih pendek, yaitu dari perusahaan langsung ke konsumen. Tidak seperti perusahaan konvesional yang rantai distribusinya panjang. Mulai dari perusahaan sebagai produsen, lalu distrbutor, agen, pengecer dan berakhir ditangan konsumen.

Lalu dengan skema distribusi yang semacam itu dan manajemen pemasaran yang berbeda apakah menjadikan harga barang yang dijual menjadi lebih murah? TIDAK.Karena sebetulnya yang dilakukan adalah mengalihkan alokasi dana yang semestinya dipergunakan dalam proses pendistribusian barang dan materi marketing(termasuk iklan ataupun tenaga kanvaser/kelilingan) ke dalam BONUS untuk para anggotanya. Dan tidak menutup kemungkinan harga barang lebih mahal jika dibandingkan dengan produk yang sama kualitasnya. Kita tidak mungkin mendapatkan barang dari suatu MLM dipasar bebas, karena itulah salah satu strategi penjualan dari MLM, kecuali MLM itu sudah tidak sehat,maka produknya sudah tersebar dipasar secara bebas, dan yang lebih parahnya lagi harga produk ditentukan oleh pasar.

Tulisan ini merupakan perkenalan tentang MLM. Nantikan tulisan berikutnya :).

Friday, February 5, 2010

Masalah dihadapi, resiko dihimdari(diminimalisir)

Dua penangganan yang bertolak belakang, masalah ada untuk dihadapi, sedangkan resiko perlu dihindari. Namun keduanya saling berhubungan, dan urutan yang terjadi adalah meminimalisir resiko dan selanjutnya menghadapi 'sisa' resiko setelah pengambilan keputusan.

Seperti tulisan saya sebelumnya yang membahas tentang keputusan yang kita ambil pastilah ada 'sisa' resiko yang mesti kita tanggung. Untuk mendapat hasil yang maksimal atau sesuai dengan keinginan kita, akan lebih baik jika keputusan yang kita ambil beresiko seminimal mungkin. Setelah menimbang-nimbang pilihan mana yang sesuai dengan keinginan kita dan beresiko paling kecil maka kita tentukan apa yang menjadi pilihan kita. Kita berharap keputusan itu merupakan keputusan yang terbaik, dan akan menjadi baik adanya.

Namun anda jangan bernapas lega dahulu, karena sebaik apapun keputusan yang kita ambil pastilah ada 'sisa' resikonya. Kita harus berani menghadapi masalah tersebut. Jika anda tidak siap hal yang biasa terjadi adalah menghindarinya. Yang menjadi titik perhatian setelah kita mengindar dari masalah, apakah sudah selesai? BELUM !!! Karena menghindar dari masalah sebenarnya hanya mengulur waktu, kita harus tetap menghadapinya.

Masalah yang harus dihadapi tidak semata-mata bersumber dari keputusan yang kita ambil. Tidak menutup kemungkinan berasal dari alam atau orang lain. Sebagai contoh adalah kehancuran rumah karena gempa(bencana alam) atau kebakaran karena kecerobohan anggota keluarga kita. Itu saya anggap suatu masalah, namun setelah rumah kita rusak, apakah kita harus merenung, bersedih? Boleh merenung atau bersedih karena itu ungkapan perasaan. Setelah itu, ya anda harus terus memikirkan kelanjutan hidup anda.

Yang ingin saya sampaikan, tidak mungkin anda terus menghindar dari masalah, memecahkan masalah akan membuat anda telah menyelesaikan sedikit dari total beban hidup anda. Setujukan anda?

Tuesday, February 2, 2010

Hargailah prestasi orang lain

Pernahkah anda memandang sebelah mata prestasi seseorang? Entah itu saudara, teman bawahan anda. Jika jawabannya YA, alangkah akan lebih baik jika anda berusaha untuk mengubahnya, sesuai dengan dengan kata pepatah ‘ diatas langit masih ada langit’.

Tulisan ini terinspirasi dari kejadian sewaktu saya masih di bangku sekolah dasar, saya lupa waktu itu saya kelas berapa namun itu tidak terlalu penting. Inti masalahnya bermula dari adik sepupu(SS) saya yang ditanya oleh kakak sepupu saya (ES), ED bertanya ‘dapat ranking berapa ?’ dan sejurus SS menjawab ‘ranking 5 kak’. Sang kakak sepupu mengatakan alangkah pandai kamu SS bisa mendapat ranking 5. Karena EGO saya bekata ‘ kalau kelas X dapat ranking di kelas sudah biasa, bahan pelajarannya kan masih relative lebih mudah’. ED menasehati saya ‘ kamu tidak boleh berkata seperti itu, kalau kamu mengatakan bahan pelajaran kelas X lebih mudah, apakah kamu juga mendapat ranking sewaktu kelas X? kamu dapat mengatakan bahwa pelajaran di kelas X gampang saat ini, karena kamu sudah melalui nya(semacam phase of life)’.

Dan hal ini sebaiknya menjadikan kita untuk tidak memandang sebelah mata atas prestasi seseorang. Mereka tentu mempunyai kemampuan, dan belum tentu dengan parameter-paramater tertentu kita mendapat prestasi yang baik seperti presatasi yang diraih seseorang dengan keadaan yang sama. Yang menjadi lebih penting lagi hal ini bukan hanya pada lingkungan sekolah, namun pada semua aspek kehidupan kita. Pada lingkungan pekerjaan, lingkungan social(kemampuan bersosialisasi) dan lain-lain.

Apakah anda masih akan memandang remeh prestasi seseorang?

Wednesday, January 20, 2010

Nasionalisme penangkal perdagangan bebas

Kenapa orang-orang meributkan keterlibatan indonesia dalam perdagangan bebas dengan Tiongkok? Apakah bangsa kita akan selamanya bersembunyi di belakang kebijakan pemerintah dari perdagangan bebas?

Perdagangan bebas sudah tidak dapat kita hindarkan. Yang dapat kita usahakan hanya agar bangsa ini tetap bertahan dalam dunia perdagangan bebas. Bagaimana caranya? Dengan menimbulkan kembali nasionalisme kita. Kenapa?

Dengan nasionalisme yang tinggi, kita pasti bertahan. Bagaimana Tiongkok menjadi gurita ekonomi dunia? Karena rakyat Tiongkok bangga dengan bangsanya dan mereka tidak malu dalam menggunakan produk lokal.

Penggunaan produk lokal amat besar dampaknya dalam ketahanan ekonomi dalam negeri. Saya contohkan penggunaan pakaian merk lokal. Anda berarti telah memberi penghidupan kepada beberapa jiwa. Mulai dari yang melakukan proses produksi hingga yang menjalankan distribusi. Bayangkan jika semua barang kebutuhan kita sehari-hari kita menggunakan produk lokal, apakah perdagangan bebas masih menakutkan?

Lalu bagaimana dengan rakyat yang dapat dikategorikan dalam golongan ekonomi menengah ke bawah atau penduduk di pedesaan? Mereka dpt turut andil dalam ketahanan ekonomi kita, sadarkah anda siapa yang menyediakan bahan mentah bagi industri? Siapa yang menghasilkan kapas? Siapa yang menghasilkan pangan untuk semua rakyat indonesia?

Tapi bagaimanapun,pemerintahlah yang menjadi penentu bangsa ini akan dibawa kemana, bak nahkoda dari sebuah perahu. Yang pasti, kita juga punya andil dalam mempertahankan perekonomian kita. Maukah dan sudahkah anda mengambil peran itu?

Monday, January 11, 2010

Tidak Ada keputusan/tindakan yang BENAR !!!

Mungkin akan terbesit di benak pembaca, 'Apa orang ini sehat jasmani&rohani? Sudah putus harapankah yang menulis artikel ini? Atau jangan-jangan penulis akan mengikuti tren saat ini (bunuh diri di pusat perbelanjaan)?'

Sebenarnya saya hanya ingin berbagi, bahwa sebenarnya memang tidak ada keputusan/tindakan yang benar. Apapun yang anda putuskan/perbuat, anda hanya memilih pilihan yang paling baik dari sekian banyak pilihan. Sebaik apapun pilihan yang anda pilih, pasti ada sisi kesalahan/dicela oleh orang lain. Karena pandangan tiap orang berbeda berdasarkan banyak faktor,yaitu faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, dan masih banyak lagi.

Seperti halnya hukum ekonomi, semua pilihan ada nilai positif dan negatifnya. Sebagai contoh, saat kita akan membeli baju. Pilihan pertama kita beli di departemen store, kelebihannya kualitas bahan dan proses produksinya bagus, kekurangannya dari segi harga yang relatif mahal. Pilihan kedua jika ingin membeli di pasar tradisional dengan kelebihan harga relatif murah namun terdapat kekurangan dari kualitas bahan dan proses produksinya. Sekarang giliran kita yang menentukan pilihan, berdasar kebutuhan dan keuangan kita tentukan pilihan kita,dan kita harus menerima segala kekurangan dan kelebihan dari pilihan yang kita tentukan.

Mungkin itulah gambaran mengapa keputusan/tindakan kita tidak pernah benar, pasti ada sisi negatifnya. Yang dapat kita lakukan hanya memilih keputusan yang terbaik supaya kita jangan menyesal nantinya. Setujukah anda dengan pendapat saya?

Catatan : Karena banyak komentar baik melalui facebook maupun di blogger yang mengasumsikan bahwa topik ini berkaitan dengan suatu barang, maka saya perjelas, bahwa topik ini dapat diaplikasikan di semua bidang. Anggaplah perjalanan hidup adalah persimpangan jalan, dimana setiap saat kita harus memilih/memutuskan suatu keputusan, maka yang dpat kita pilih adalah pilihan yang tebaik, dengan catatan selalu ada sisi negatif yang harus kita tanggung.

Monday, January 4, 2010

CERMIN itu LANGKA atau MAHAL?

Di tiap kota dapat dipastikan kita dapat menemukan penjual cermin. Semua pengendara kendaraan bermotor juga menggunakan cermin untuk membantunya dalam berkendara. Lalu mengapa cermin itu langka atau mahal? Karena cernin yang saya maksud digunakan manusia yang ingin mengembangkan dirinya.

Kenapa manusia sulit untuk melihat dirinya terlebih dahulu sebelum menegur atau membicarakan orang lain. Kenapa manusia selalu merasa dirinya adalah yang paling benar? Jawabannya hanya satu, EGO. Karena ego ini orang menjadi congkak. Orang lebih mementingkan harga diri daripada menjadi orang yang tau diri. Ada beberapa orang suka memberikan kritik terhadap orang lain tanpa melihat terlebih dahulu kepribadiannya seperti apa.

Apakah mereka tidak menjadi lebih malu karena kritik yang mereka tujukan kepada orang ternyata juga terdapat dalam diri mereka. Entah kritik itu adalah kritik atas kelakuan orang lain ataupun kepribadian orang lain. Kenapa mereka tidak bercermin terlebih dahulu sebelum melontarkan kritik?

Saya bukan tipe manusia yang menutup diri akan kritik, karena kritik dapat membuat orang lebih berkembang, namun alangkah lebih baik jika yang melontarkan kritik telah mengkritik dirinya sendiri. Untuk kritik yang menyangkut fisik, saya sama sekali tidak setuju, karena itu anugrah Tuhan, dan mereka akan menjadi sangat sensitif dengan itu. Fisik yang saya maksud adalah yang bersifat bawaan dan tidak dapat dirubah, seperti tinggi badan, rambut botak, warna kulit dll.

Sudahkah anda bercermin hari ini?

Saturday, January 2, 2010

Kapan ANAK dianggap DEWASA?

Apakah setelah si anak berusia 17 tahun? Setelah si anak mendapat KTP(dianggap dewasa oleh negara)? Setelah si anak bekerja? Setelah si anak menikah? Setelah si anak beranak pinak?

Di sini saya ingin berbagi, kenapa kita(kaum anak) sebagian besar dianggap masih belum dewasa oleh orang yang lebih tua. Seakan-akan kita tidak bisa berkembang menjadi dewasa, dan selalu melakukan kesalahan. Kesalahan itu wajar, namun akan lebih baik jika kesalahan menjadikan si anak menjadi berkembang. Secara umum, jika saya bertanya apakah anda tidak pernah salah? Baik anda yang berusia muda maupun yang sudah berumur, anda pasti akan menjawab pernah, jika anda menjawab tidak, apakah anda TUHAN? Yang sudah berumur juga pernah melakukan kesalahan, tapi mengapa orang yang lebih muda ketika melakukan kesalahan seakan-akan dunia menjadi kiamat karena kesalahan ya diperbuatnya? Kenapa jika yang melakukan kesalahan yang sudah berumur, mereka akan lebih sulit untuk meminta maaf? Apakah ego mereka lebih tinggi untuk mengakui kesalahan yang diperbuatnya? Sulitkah bagi mereka untuk menjadi gentle man?

Maafkan saya jika pembaca sudah berumur dan merasa terpojokkan dgn tulisan saya diatas. Sebenarnya saya hanya menginginkan orang bertoleransi, bisa mengerti dan memahami orang lain. Pertengkaran antara anak dan orang tua akan sesuatu hal atas kesalahan anak dapat dihindari, jika mereka dapat berkomunikasi dengan lebih baik, mereka bisa saling mengerti akan kebutuhan dan keadaan masing-masing. Apakah sulit bagi anak untuk mengerti keinginan orang tua? Apakah juga menyulitkan orang tua untuk mengerti impian si anak dengan memahami gejolak muda dari si anak?
Seperti tulisan saya tentang fase kehidupan, apakah orang tua sewaktu muda tidak pernah berbuat salah? Apakah orang tua sewaktu muda juga dipersalahkan orang tua mereka sewaktu berbuat salah dan melakukannya kepap anak2 mereka? Tidak kah lebih baik jika orang tua tidak menyalahkan/mengatur anak mereka terlalu jauh, dengan masukkan berdasar pengalaman dari orang tua saya rasa akan menjadi lebih berarti untuk si anak dalam mengambil keputusan, karena anak juga berkembang dan tentunya dapat berpikir dalam mengambil keputusan.

Angan-angan yang terlalu tinggi untuk dicapai? Hanya diperlukan komunikasi dan toleransi, beratkah hal tersebut?

Monday, December 28, 2009

Karyawan sebagai Bos atau Bos sebagai Karyawan?

Seperti ramalan sang empu joyoboyo, jaman e jaman edan,sing ora edan ora kumanan(jamannya sudah berubah, yang tidak gila tidak kebagian). Sudah banyak norma dalam masyarakat yang berubah, bahkan kegiatan yang dahulunya dianggap jelek sekarang sudah dianggap wajar. Lalu apa hubungannya dengan judul diatas?

Sekarang ini banyak karyawan(terutama yang mempunyai kemampuan tertentu) menempatkan dirinya layaknya Bos. Supaya tidak rancu, kita sepakati dahulu, bos disini kita artikan orang yang mempunyai usaha dan memperkejakan beberapa(bahkan banyak) karyawan. Karyawan banyak yang mempunyai pandangan 'jika tidak saya, maka perusahaan(yang dipimpin bos) tidak akan berjalan lancar'. Karyawan yang seperti ini biasanya akan bekerja semau dia, tidak begitu menghormati Bos, atau akan selalu meminta kenaikan gaji.

Sepatutnya anda berhati-hati jika anda karyawan dgn pemikiran atau bertingkah laku seperti gambaran diatas, untuk saat ini banyak sumberdaya yang belum terserap di dunia kerja sehingga memudahkan bagi si Bos untuk meregenerasi anda. Mungkin beberapa pihak akan berasumsi bahwa penulis terlalu memihak Bos dan tidak pernah menjadi karyawan. Jika anda salah satu orang yang berpikiran demikian, anda salah, saya pernah menjadi karyawan, dan sedang dalan proses belajar menjadi bos yang baik.

Karyawan seyogyanya memenuhi kewajibannya, dan bos memberikan hak atas karyawan. Jika karyawan ingin mendapat lebih maka kewajiban yang harus dipenuhi juga harus lebih. Namun jika perusahaan tidak memenuhi hak karyawan yang memberikan kewajiban yang maksimal, anda jangan menggerutu. Ungkapkan apa yang menjadi keinginan anda dari perusahaan atas hasil kerja anda. Bila perusahaan tidak dapat memenuhinya dan anda dapat tawaran lebih, menjadi sah jika anda mengambil tawaran tersebut. Inilah yang dinamakan adil(menurut saya), karena menggerutu tidak menyelesaikan masalah.
Bagaimana peran bos? Pandangan saya bos lebih berat lagi tanggung jawabnya, mereka harus memikirkan kelanjutan dari hidup karyawannya. Mereka mendapat pekerjaan rumah dari karyawan, bagaimana caranya mengembangkan usaha. Dimana dengan berkembangnya usaha akan berdampak dengan kenaikan upah karyawan(kesejahteraan dari karyawan meningkat), di lain pihak tentu pendapatan dari Bos juga meningkat dan itu adalah wajar, karena bos yang berusaha mengembangkan perusahaan. Hal yang tidak wajar apabila perusahaan berkembang pesat namung kesejahteraan karyawan hanya sedikit mengalami peningkatan atau bahkan stagnan.

Nah,Lalu apa hubungannya judul diatas dengan yang telah saya paparkan diatas? Bos yang bersusah payah berusaha mengembangkan usaha, mereka bekerja seperti karyawan yang workaholik,namun karyawan bekerja semaunya sendiri atau menuntut kenaikan kesejahteraan yang tidak sebanding dengan apa yang telah dikerjakan. Akan menjadi lebih baik jika bos mau tau kesejahteraan karyawannya dan karyawan bekerja untuk memenuhi kewajibannya. Apabila kita mengetahui peran, hak dan kewajiban nya masing, niscaya hidup akan lebih enak untuk dijalani. Seperti mengemudi di jalan bebas hambatan. Semoga....

Saturday, December 26, 2009

Apa tujuan hidup Anda?

Pertanyaan yang mendasar, namun menjadi mudah-mudah susah dalam menjawabnya. Sebetulnya dapat dibuat mudah, jika anda pasrah dan mengikuti alur dari kehidupan ini, namun menjadi sangat komplek jika kita memiliki ambisi yang besar. Jadi apakah mempunyai ambisi yang besar salah? Tidak, 1000% tidak salah, bahkan orang harus memiliki ambisi untuk dapat berkembang.

Apa yang mejadi tujuan hidup anda? Menjadi orang kaya?menjadi orang terkenal? Apa yang akan anda lakukan jika sudah kaya? Seberapa kaya yang anda inginkan? Apakah setelah kaya anda bahagia? Begitupula jika anda ingin menjadi terkenal,beberapa pertanyaan diatas dapat anda aplikasikan.

Memang tidak dapat dipungkiri, manusia hidup memerlukan materi. Kita perlu materi untuk dapat bertahan hidup, kita perlu materi untuk membeli makanan dan minuman yang menjadi salah satu dari tiga kebutuhan pokok(pangan,papan,sandang). Meski hal ini mungkin dapat anda counter(tidak setuju atas pernyataan saya), bagaimana jika hidup di desa atau hutan, dimana air dan makanam dapat kita ambil dari alam. Memang jika kita tengok ke belakang, Tuhan telah menyediakan semua kebutuhan semua makhluk hidup, namun dengan adanya perkembangan peradaban juga telah berkembang. Apakah kita tidak memerlukan materi? Pasti perlu, namun pertanyaan selanjutnya, sebanyak apa? Sampai cukup? Apa yang menjadi batas cukup anda? Bahagiakah anda?
Kenapa bahagia selalu menjadi pertanyaan terakhir dari saya? Karena menurut saya, bahagia,tentram dan damai menjadi tujuan hidup saya. Bagaimana caranya supaya kita dapat hidup damai? Anda harus dapat menempatkan diri anda, baik dalam keadaan susah, gembira, di masyarakat. Jika ego kita masih besar, kita akan kesusahan dlm menempatkan diri, akan menjadi baik jika kita senantiasa mengembangkan diri dan berani bercermin untuk memperbaiki kesalahan dan tingkah laku kita.

Jika saya ingin melalui kehidupan ini dengan sesuatu yang lebih baik, dengan cara selalu mengembangkan diri namun yang lebih penting hidup harus bahagia dan tentram(meski duka&kecewa mesti kita hadapi karena itulah yang membuat kehidupan menjadi menarik).

Bagaimana dengan anda?apa yang menjadi tujuan hidup anda? Mungkin hari-hari menjelang pergantian tahun dapat anda manfaatkan untuk menemukan hal yang ingin anda lakukan di tahun mendatang.

Friday, December 25, 2009

MINTA Dimengerti tanpa mau Mengerti

Momennya mungkin sedikit cocok dgn judul diatas, bertepatan dgn hari raya Natal, semoga ide saya menjadi inspirasi untuk mengembangkan diri. Sejatinya, manusia akan merasa bosan dgn kehidupan, karena jika mau dievaluasi, hidup itu ya hanya seperti begitu-begitu saja. Tanpa adanya 'Sandiwara Kehidupan' dan niatan pengembangan diri, bisa dikatakan hidup akan menjadi datar-datar saja. Tidak ada bumbu kehidupan, yg dapat membuat hidup menjadi lebih hidup(losta masta jika dalam bahasa iklan yang sempat populer).

Pengembangan diri untuk topik ini sejatinya untuk menjadikan manusia lebih ingin menjadi subyek(awalan me-), bukan obyek(awalan di-). Lebih nyaman untuk menjadi obyek, namun sampai kapan anda akan menjadi obyek. Maaf, bukannya saya tidak memiliki rasa bangga menjadi orang indonesia, namun banyak orang indonesia yang lebih memilih menjadi obyek, meskipun hal itu tergantung dari tingkat pendidikan, ekonomi, lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar. Menjadi obyek akan menghambat kita maju, bahkan akan menghancurkan kita, contoh kecil dan paling yang dpt kita temui, untuk tahu diri akan hak dan kewajiban dalan mengantri, mereka lebih banyak minta dimengerti daripada mengerti, jika datang belakangan, akan sangat wajar jika dilayani belakangan.

Memang tidak bisa dipungkiri manusia adalah makhluk sosial yang ingin diperhatikan, dimengerti, disayang, dimanja, dan masih banyak lagi di- di- yang lain. Tapi apakah tidak menjadi lebih baik jika anda bisa mengerti,memperhatikan, menyayangi, memanjakan orang lain? Apakah anda tidak mendapat suatu kepuasan tersendiri setelah anda melakukan hal diatas untuk orang lain? Akan menjadi lebih berarti lagi,jika anda melakukannya dengan ikhlas atau tanpa pamrih, karena percayalah kalau karma(hukum tabur tuai) itu ada.

Jadi kapan anda akan memulai menjadi subyek? Kapan anda akan menjadi subyek yang ikhlas?

Friday, April 17, 2009

Go With The Flow

Bahasa gaulnya 'ikuti saja arusnya', ini hasil nyontek dari seorang teman yang pernah tinggal di luar negeri. Di sini saya akan berbagi tentang pengalaman saya tentang pekerjaan(mungkin ini hanya contoh kecil dan kebetulan mengenai pekerjaan).

Setelah saya keluar dari pekerjaan saya(sebagai pegawai suatu perusahaan), ada tawaran dari orang tua untuk membantu dan nantinya melanjutkan usahanya.Di satu sisi ini tawaran yang menggiurkan , dimana banyak orang kebinggungan untuk mencari pekerjaan, binggung akan memulai usaha karena terbentur berbagai hal(modal, keahlian, dll). Di sisi lain , sebagai orang muda(setengah tua juga seh,29) dan belum mempunyai tanggungan (keluarga), jiwa muda saya bergolak. Kata hati atau ego (saya kurang bisa membedakannya) saya bekata, 'Masa hanya melanjutkan usaha orang tua, tidak mampukan saya membangun usaha sendiri? Bukankah jika berhasil saya akan merasa lebih bangga?'

Ada peluang usaha yang lain, ini kebetulan berasal dari keahlian dan tidak membutuhkan modal banyak, programmer. Itu disebabkan karena background pendidikan saya Sarjana Komputer Teknologi informatika dari STTS. Saya sudah menghindari profesi yang satu ini, karena saya tidak tahan dengan keuntungan menjadi seorang programmer(aneh, keuntungan tapi kok ndak suka :( ). Keuntungan dari programmer, menurut pengalaman saya, anda akan dipakai atau dipanggil sewaktu-waktu jika ada pengembangan sistem dari perusahaan yang pernah anda tangani. Tapi hal ini menurut saya menganggu, karena saya ada rencana atau kegiatan lain.

Dan hal yang aneh, setelah 2 bulan saya berkutat dengan usaha untuk melepaskan diri dari kedua pekerjaan tadi, hal yang terjadi malah sebaliknya, saya dalam proses pengajuan tender konveksi , dan tiba-tiba teman saya telepon untuk membuatkan sistem untuk perusahaannya.

Yang saya tangkap, semakin saya menghindar, semakin saya dipaksa untuk masuk ke dalam hal yang saya hindari. Bagaimana dengan anda? Ada masukkan dari teman saya, hidup itu ada siklusnya, dimana anda dipaksa untuk mengikuti arus, dan meninggalkannya, hal ini akan saya cermati.

Tuesday, March 17, 2009

Passive Income ? Bullshit!!!!! (If you want get maximal)

Kasar dan brutal ya? Tapi ini kenyataannya, saya menghargai buku dari Pak Robert T Kiyosaki(Rich Dad Poor Dad), dibukunya terdapat beberapa wacana baru tentang usaha dan pendapatan, tapi saya tidak setuju dengan anggapan passive income, dengan catatan seperti yang saya tulis di atas 'Jika anda ingin hasil yang maksimal'.

Tidak ada di dunia ini anda bisa mendapatkan uang sedangkan anda tidur-tiduran. Ongkang-ongkang kaki tapi dapat uang. Jika anda berinvestasi (biarkan uang yang bekerja untuk anda :p ), adalah benar adanya anda mendapat kelebihan 'value' atau keuntungan tanpa bekerja. Disini kita bisa contohkan berupa emas, harga saham, atau property. Vaaluenya naik? Tentu, tapi apa anda sadar, harga kebutuhan pokok juga naik? Untungkah? Yap, anda mendapat untung, dan sangat besar jika dibandingkan dengan bunga bank, bahkan mungkin lebih besar dari bunga deposito. Tapi tunggu dulu, ulasan semua ini hanya berlaku jika keadaan ekonominya normal, atau tidak ada krisis seperti yang sekarang terjadi(akhir 2008 - awal 2009).

Nah apa jadinya jika anda hanya ongkang-ongkang kaki, tidur-tiduran, nonton tv atau apalah yang menjadi hobby anda dalam membuang waktu, apakah nilai value anda bertambah? Wah bisa-bisa kalau anda membuka telinga untuk mendengar berita, anda bisa kena serangan jantung ( ihhh, amit-amit, omongannya jelek banget, dari tadi kok ndak ada bagus-bagusnya, sekali-kali ambil dari sudut pandang positif donk :) ). Ya maaf kalau apa yang saya tulis terlalu jujur. Tujuan saya hanya mau mengatakan, jika anda ingin mendapat hasil yang anda harapkan(mungkin tidak sampai ke batas maksimal) anda harus sering membuka telinga, baca berita.

Point dari judul yang saya pilih, masihkah ada passive income? Tidak, semua butuh waktu untuk mendapatkan hasil yang anda harapkan. Bagaimana kalau MLM, bukankah JIKA downline saya bekerja saya mendapat passive income? Jika anda tidap SUPPORT downline anda, apakah anda mendapatkan hasil yang anda harapkan??? Mustahil jawaban saya. Saham, Property dan emas, bukankah valuenya naik terus?? Ya, tapai bagaimana saat menghadapi krisi seperti sekrang ini, saham rontok, property tumbang, emas membumbung tinggi ( nah ada kan passive income), eitt tunggu dulu, coba anda cek, apakah kebutuhan belanja anda tidak bertambah banyak?? Inflasi teman, kita juga dilanda inflasi. Value yang anda dapat mungkin hanya lebih besar dari bunga bank, tapi anda juga harus hati-hati, kalau anda tidak membuka telingga bisa-bisa anda masuk ke jurang 'tumbang' dan 'rontok' seperti saham dan property.

Kerja apapun itu pasti membutuhkan waktu untuk memantaunya. Setujukah anda akan hal ini? Maaf jika akhir-akhir ini banyak tulisan saya dengan judul kebarat-baratan, bukannya saya tidak cinta indonesia atau tergerus dengan gelombang budaya barat, namun saya bercita-cita untuk membagikan ide-ide yang saya tulis kepada orang asing, namun keterbasanlah bahasa inggris dan pengetahuan budaya barat yang menghalanginya :).

Sunday, March 1, 2009

Cuek (sometimes) is the best

Yaaaa...., mana ada orang yang mau bergaul dengan orang cuek? Ngselin! Inilah mayoritas pandangan kita dengan kata 'cuek' atau tidak mau tau(tentang keadaan atau sekitarnya). Memang asumsi kita akan selalu negatif dengan kata 'cuek'(maaf jika sebagian orang tidak sependapat dengan saya)

Sikap yang mungkin tidak menyenangkan di kehidupan sosial. Namun akan menjadi perlu juga kita terapkan di kehidupan sosial. Lohhh, kok perlu? Iya, akan menjadi perlu untuk orang yang suka bermain perasaan.

Coba kita ambil contoh kasus pertemanan. Pada umumnya, kita akan keluar dengan kelompok orang yang sama (mungkin bisa seperti semacam group). dan jika pada suatu ketika, semua kelompok group itu akan keluar untuk makan dan mereka lupa untuk memberitahu si A (kita sebut saja begitu, dengan catatan si A ini tipe orang yang lebih memakai perasaan daripada logika). Entah itu disengaja ataupun tidak (dan sebenarnya tidak ada hukum tertulis untuk memberitahu semua anggota group mengenai kegiatan yang akan dilakukan). Suatu hari si A mengetahui acara tersebut dan sedih dengan keadaan ini, merenung, intropeksi diri dll(mungkin sampe menangis, maaf kalau pembaca mengalami hal yang sama). Dan mulai ada beberapa pertanyaan yang muncul di benaknya 'apakah saya kurang diterima di grup itu? Apakah saya sudah dilupakan oleh teman-teman saya? ' dan masih banyak pertanyaan yang muncul dan semuanya membuat si A menjadi minder.

Jika si A tidak memiliki sedikit rasa cuek, dia bisa-bisa terkena depresi (hiiii...,mengerikan amat). Jika saya jadi si A, saya akan berpikiran, mungkin mereka kelupaan memberitahu saya, mereka tidak akan mau bergaul dengan saya jika memang mereka tidak suka dengan saya. Jadi kalau anda tidak dikabari, ya anda yang konta mereka. Kalau ada pandangan wah, anda hanya mengontak kami jika anda butuh! Ya memang, karena memang itulah teman, ada di saat butuh, dan bersiaplah menolong jika ada teman juga membutuhkan bantuan anda.

Jadi apa cuek itu selalu negatif? TIDAK, jika anda mengunakan dengan porsi yang tepat, setau saya, semua jika kita gunakan secara tepat akan menjadi baik hasilnya. Bagaimana contohnya ? Saya tidak bisa menjawab, karena itu bergantung kepada pribadi masing-masing, tapi saya juga sedang belajar tentang kehidupan yang begitu INDAH.

Pembenaran Diri (pendukung)

Sudah menjadi sifat manusia untuk mencari pembenaran diri atas keputusan yang diambil maupun atas prinsip yang menjadi pegangan hidupnya. Hal ini bukan sesuatu yang aneh, dan sangat wajar adanya, karena manusia akan menjadi lebih lega jikalau ada orang yang mempunyai pendapat yang sama atas prinsip hidup atau kesamaan pandangan atas keputusan yang diambilnya. Saya yakin anda yang membaca ini, juga pernah mengalaminya.

Jika kita bertukar pendapat dengan teman ataupun orang lain atas keputusan yang telah kita ambil atau prinsip hidup kita, dan jika jawaban orang itu sama dengan pendapat kita, tentu kita mendapat ke-LEGA-an. Hendaknya anda jangan terlena dengan kesamaan pendapat ata pandangan dengan orang lain. Anda harus tetap berkaca, dan terus belajar untuk mengetahui apakah anda benar atau salah.

Namun apakah kelagaan itu yang kita cari? Jika pendapat orang itu berbeda dengan kita, tentu ke_KECEWA-an yang kita dapat. Menurut saya, sebenarnya orang tidak perlu tidak percaya diri (PD) atas perbedaan pandangan atau prinsip dengan orang lain. Karena orang diciptakan unik dan diberi akal budi. Unik, ya memang manusia diciptakan unik, dan ada kemungkinan perbedaan pandangan dan keyakinan, karena hal itulah sebenarnnya perbedaan padangan ataupun prinsip adalah wajar. Bagaimana jika prinsip saya salah? atau pandangan saya salah? Ya, mana ada orang yang tidak pernah salah, hal itu wajar, dan dapat dimaklumi, tapi alangkah baiknya jika anda berusaha untuk memperbaikinya. Namun saya juga mempunyai suatu masalah untuk merumuskan apa itu 'benar' dan apa itu 'salah'. Bukankah masing-masing individu akan memiliki jawaban yang berbeda untuk kasus yang sama, bukankah 'benar' dan 'salah' menjadi sesuatu yang kasusistis?

Jadi jika anda sudah mengambil keputusan(seperti tulisan saya yang berjuul'PILIHAN'), maka bertanggung jawablah akan keputusan anda, dan tanggung lah segala konsekuensinya(bisa juga diartikan 'Kompensasi' seperti tulisan saya sebelumnya, maaf setengah beriklan :) ). Jika sudah benar(menurut anda) maka lanjutkanlah, jika salah(menurut anda juga) maka beranilah untuk mengakui dan segera perbaiki.

Sulit???? Memang sulit, karena berani untuk mengakui itu sudah membutuhkan keberanian yang besar, kadang anda harus merendahkan harga diri anda, namun itu anda butuhkan jika ingin berkembang.


Apakah anda ingin berkembang? Berusahalah karena hidup ini penuh pembelajaran.

Thursday, February 5, 2009

I Love Dustbin

Ihhhhh, menjijikkan kali ini orang. Apa tidak tahu kalau tempat sampah itu menjijikan. Bau, kotor, tidak higienis. Ehhhh, yang dipandang jangan dari sisi yang negatif aja donk. Kita harus berimbang dalam menilai sesuatu, apa anda tidak menyadari betapa indahnya tempat sampah, dia yang menampung sampah di rumah kita. Lebih jauh, dia bisa menghasilkan kompos buat kita(kalau dibuat keranjang takakura dan sampahnya dipilah). Maaf kalo topiknya berubah ke "GREEN LIVING". Karena saya baru jatuh cinta dengan "GREEN LIVING", setelah melihat banyaknya bencana di dunia ini :((

OK, back to the main topic. Kehidupan, sebagaimana orang yang memiliki kehidupan sosial, tempat sampah disini berati tempat curhat(curahan hati, bahasa gaulnya, kalau belum diganti istilah gaulnya ya). Kenapa saya suka dengan tempat curhat? Karena saat terjadi sharing, ada suatu perasaan lega yang muncul dari kedua belah pihak.

Dari yang sedang bermasalah, dia merasa sebagian beban hidupnya sudah lebih ringan dari waktu sebelum dia sharing. Ada orang yang mendengarkan aku, dan berbagi dengan aku, dan jikalau orang itu hanya mampu mendengar ceritaku, itu sudah sangat membantu dalam menanggung bebanku, dan akan menjadi lebih baik kalau orang itu mampu memberi nasihat atau berbagi pengalaman hidup untuk memecahkan masalahku. Apakah demikian? Coba anda praktekkan sendiri !

Di sisi orang yang mendengarkan, ada perasaan bangga, ternyata ada orang yang mempercayai aku, ada orang yang mau berbagi dengan aku, ada orang yang bisa mendengarkan pengalamanku, ada orang yang mau mendengar nasihatku (walaupun aku tidak tahu apakah nasihatku berguna dan dilaksanakan oleh orang itu). Ada suatu kepuasan sendiri. Namun hal ini mungkin tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Ya, kenapa saya suka tempat sampah dan menjadi tempat sampah, karena selain kita bisa mengembangkan diri dari persoalan yang dihadapi orang lain, ada rasa puas jika bisa membantu teman. Menjadi pendengar yang baik itu susah dan itu salah satu pembelajaran hidup.

Tuesday, January 27, 2009

Phase of Life

Dalam kehidupan ini ada banyak terdapat fase-fasenya. Dan anehnya, masing-masing individu memiliki path atau cerita sendiri dalam menjalani fase kehidupan. Tidak semua fase juga dilalui oleh seseorang. Mungkin bisa dibilang, bahwa pilihan dalam hidup juga menentukan sejarah kehidupan seseorang. Di sini saya tidak menyebut jalan hidup, karena menurut saya jalan hidup seseorang bergantung kepada orang itu sendiri(seperti tulisan saya yang berjudul "Pilihan"), jadi saya merasa lebih tepat menyebutnya dengan sejarah hidup.

Sejarah hidup seseorang juga dipengaruhi dari kelompok sosial, baik itu teman sepergaulan maupun lingkungan keluarga. Contoh yang paling mudah dan merupakan pengalaman hidup saya adalah mencari arti hidup. Konon(kok seperti donggeng sebelum tidur ya), ada 3 orang, yang nantinya menjadi sahabat, bertemu dan membicarakan tentang esensi atau inti dari hidup.

Si A dengan latar belakang kedekatan keluarga dan finansial yang mencukupi, lebih mencari inti dari hidup untuk membuat dunia lebih baik, seperti seorang spiritual, jadi sudah tidak terlalu memikirkan materi. Namun dia masih mencari-cari esensi hidup, masih menggali lebih dalam apa tujuan hidup.Hal ini terjadi karena dia belum pernah memiliki teman yang suka dengan asti kehidupan.

Si B dengan latar belakang keluarga yang dapat dibilang lumayan harmonis, dan ekonomi yang cukup, sudah beberapa lama berteman dengan teman-teman yang secara kebetulan mencari arti hidup. Saling berbagi tentang kehidupan dengan teman-temannya. Ia sudah mendapat suatu pegangan tentang apa arti hidup(sebagian, karena kita akan belajar sepanjang hidup kita), dan memilih mengaplikasikan langsung di kehidupan sehari-hari. Dalam hal materi, masih berambisi karena belum merasakan tingkat cukup dari dirinya (salah satu sifat dasar manusia, Tidak Ada Kata Puas).

Sedangkan Si C, dengan latar belakang kelurga yang kurang harmonis, kehidupan ekonomi yang dibawah dari kedua temannya, namun terlebih dahulu mencari arti kehidupan. Didukung oleh lingkungan sepergaulan yang suka dalam menggali dan belajar arti kehidupan. Dia menjadi orang yang pertama kali dari ketiga individu ini dalam mengaplikasikan pelajaran hidup dan arti hidup. Material masih dicarinya, namun dia bisa lebih menerima(legowo) dalam pencariannya, karena ditunjang pengetahuannya tentang arti hidup.

Hanya dari 3 orang, dengan latar belakang yang berdeda secara kedekatan keluarga, ekonomi dan teman pergaulan, mareka telah melewati fase kehidupan yang berbeda, walau secara umur, mereka sama. Si A masih dalam pencarian inti kehidupan, dan lebih bisa menerima dalam hal material. Si B sudah pernah memasuki fase pencarian inti kehidupan, sudah mengaplikasikan, namun belum bisa meninggalkan material. Sedangakan si C sudah pernah mencari inti dari kehidupan, sudah mengaplikasikan, dan sudah bisa menerimanya.

Pada akhirnya, saya hanya bisa mengatakan, semua orang memiliki masalahnya masing-masing. Waktu kapan kita mengalami atau masuk ke suatu fase kehidupan itu ada di tangan anda (Pilihan )!!!! Jika anda mengalami kesulitan dalam menjalani salah satu fase kehidupan, bertanyalah kepada orang yang pernah mengalaminya, berbagi akan membuat beban hidup kita menjadi lebih ringan kita.

Saturday, January 24, 2009

Kita dalam mengikuti ................

Saat ini kita akan berbicara tentang pilihan kita dalam mengikuti sesuatu. Sesuatu ini bisa diaplikasikan ke dalam banyak hal, bisa dalam bidang teknologi, fashion, trend(sesuatu yang sifatnya booming/ mewabah secara mendadak atau musiman),dll.

Sebenarnya ada 4 kelompok orang yang mengikuti perkembangan suatu hal. Mereka adalah :


1. Orang yang mengikuti dan membelinya

Orang ini selalu up to date dalam suatu hal. Kita ambil contoh fashion, orang dalam kelompok ini akan mencari tahu apa trend fashoion saat ini, dan akan rela mengeluarkan uang untuk dapat mengikuti tren ini. Selalu tahu berita terkini dan ikut ambil bagian dalam mengikutinya.



2. Orang mengikuti sesuatu dan membeli setelah selang beberapa waktu

Orang ini mengikuti info terbaru, namun karena sesuatu hal, dia hanya akan memposisikan dirinya sebagai penonton untuk beberapa waktu, setelah cukup waktu sebagai penonton, maka dia akan mulai jadi pemain. Ia akan ikut meramaikan trend.



3. Orang mengikuti sesuatu tapi tidak membeli

Ibarat penonton, kelompok ini menjadi penonton setia, dan tidak tertarik untuk ikut dalam permainan, dia hanya kan menjadi penonton, atau mungkin lebih tepat jadi pengamat. Bagaimana menurut anda ?



4. Yang tidak mengikuti perkembangan sama sekali

Kelompok ini adalah kelompok bebek,eh maaf, maksud saya ini adalah kelompok yang cuek(bebek). Mereka tidak mengikuti perkembangan tren yang ada saat ini, mereka asyik dengan kehidupan mereka.

Setelah anda membaca paparan di atas, masuk ke dalam kelompok manakah anda? Mungkin anda akan mendapat jawaban yang berbeda-beda, maksudnya anda mungkin berada di kelompok 1 dalam hal teknologi karena memang suka, dan berada pada peringkat 3 dalam hal fashion karena anda tidak suka bersolek. Itu sah-sah saja, karena kita memang mempunyai pilihan untuk itu, dan berasa nyaman tentu lebih dari segala-galanya.

Wednesday, January 14, 2009

Merk

Beberapa orang mempunyai pemikiran, kalau membeli barang ber-'merk' itu membeli gengsi. Pendapat itu tidak salah, bahkan saya setuju. Namun, apakah mereka hanya membeli gengsi?Tidak, selain membeli gengsi ada banyak sekali hal yang mereka beli. Mereka sebenarnya membeli kualitas, bahan, dan kenyamanan(untuk sementara hanya ini yang saya temukan).

Bahan, dengan pembelian jumlah banyak, tentunya akan mendapat barang dengan kualitas bagus dengan harga yang lebih murah. inilah yang menjadi nilai tambah barang bermerk, meskipun kualitas barang tentunya ditentukan oleh segmen pasar yang menjadi tujuan penjualan dari barang tersebut. Kalau segmen pasarnya menengah, tentu saja bahan yang dipakai tidak akan sama dengan barang yang ditujukan oleh segmen menengah keatas. Namun hati-hati saat membeli barang, sebaiknya anda juga memilih bahan yang sesuai dengan harganya. Kemungkinannya kecil untuk barang yang ditujukan untuk segmen ekonomi menengah keatas namun mereka memakai bahan yang biasa dipakai untuk kelas menengah kebawah. Hal ini akan berpengaruh pada branding yang telah mereka lakukan, merk mereka akan hancur dalam sekejap, dan tentunya mereka akan berpikir dua kali untuk melakukan ini.

Kualitas, untuk mendapatkan yang satu ini, bisa dipastikan, barang yang ada di outlet(toko) telah lolos dari QC, karena QC merupakan salah satu senjata dalam melakukan branding. Dan proses ini memerlukan biaya yang tidak sedikit. Taruhlah barang yang kita produksi pakaian, anda harus membayar gaji untuk orang yang menjaga kualitas pakaian jadi. Bukan hanya gaji untuk orang ini saja, jika ada barang yang tidak lolos seleksi(reject), berapa biaya untuk memperbaiki(jika masih dapat diperbaiki), jika tidak bisa diperbaiki, berarti barang yang lolos QC juga menanggung biaya produksi barang yang tidak lolos produksi.

Kenyamanan, karena dalam proses produksinya sudah ada standarnya (SOP=standar of procedure), maka akan dihasilkan barang yang lebih bagus. Selain itu, kenyamanan akan kita dapat, karena perusahaan memakai orang yang ahli dalam bidangnya, untuk contoh yang mudah, kita pakai kembali produksi pakaian. Perusahaan akan mempekerjakan orang yang ahli dalam mendesain pakaian, bagaimana polanya supaya nyaman dipakai oleh konsumen. Jika kita mempergunakan jasa orang yang ahli, tentunya harganya akan mahal, karena biayanya kita tanggung sendiri.

Bisa saya simpulkan, barang 'merk' mahal karena ada banyak yang kita dapatkan juga. Saya tidak memaksa anda membeli barang merk, namun saya hanya ingin anda memahami proses suatu barang. Supaya anda tidak hanya menilai suatu barang dari harga dan membandingkannya dengan harga bahan bakunya dan jika anda buat sendiri. Jika anda mampu, lakukanlah karena itu akan menghemat pengeluaran anda. Jika tidak, bisa jadi niatan anda untuk berhemat akan membuat kantong anda bolong.

Bijaksanalah dalam menentukan pilihan.

Instan

Betulkah saat ini segalanya instan? Coba kita lihat barang-barang disekitar kita, sekarang banyak barang yang instan, misalnya mie instan, kopi instan, makaan cepat saji(fast food),dll. Namun apakah semua itu instan?

Pendapat saya, TIDAK. Tidak ada yang instan di dunia ini. Menurut saya, instan itu hanya pengalihan proses. Contohnya makanan cepat saji, sebenarnya prosesnya dibalik urutannya atau ditambah urutannya. Makanan cepat saji(mayoritas franchise) menganadalkan kecepatan penyajian dalam penjualannya. Sebetulnya mereka telah memakai waktu yang dibutuhkan dalam pengolahan makanan di pusat produksinya, mereka merancang bagimana cara memasak, supaya nantinya di outlet(toko) orang tidak pelu lama menunggu.

Begitu juga dengan kopi, biasanya kita butuh waktu dalam pembuatan kopi, biji kopi kita seduh dengan air panas, setelah itu, kopi sebenarnya belum bisa langsung kita nikmati. Kita harus menunggu beberapa saat supaya rasa kopi dapat maksimal, kalo ada waktu lebih, kita bisa menunggu sampai sebagian bubuk kopi tidak ada yang mengambang. Waktu dimana kita menunggu untuk dapat menikmati secangkir kopi telah digunakan di pabrik, mereka membutuhkan waktu untuk mengubah biji kopi menjadi kopi instan.

Jadi semua itu menurut saya tetap memerlukan waktu untuk prosesnya, yang diubah sebenarnya kapan proses itu dilakukan. Memang terkadang kita memerlukan sebuah kegiatan ekstra(proses tambahan yang tidak perlu dilakukan jika dikerjakan secara normal) untuk mendapat sesuatu yang sering kita sebut dengan "instan"