Sebenarnya saya binggung untuk memulai cerita dari mana, memang ini antara curahan hati(bahasa bekennya CURHAT), hasil analisa dan kenyataan. Awal mula saya akan coba deskripsikan mengenai korupsi, korupsi menurut saya adalah sesuatu yang kita pergunakan atau terima tetapi bukan merupakan hak kita.
Nah sekarang saya ingin berbagi cerita, saya mempunyai kios di sebuah pasar tradisional, lebih tepatnya memakai kios orang tua saya untuk mencoba mencari sesuap nasi(dramatis sekali...). Usaha utama dari kios adalah penjualan seragam sekolah. Setiap orang kenal atau menetahui jenis usaha saya sebagian orang pasti memberikan saran untuk mencoba menjadi pemasok sekolah, dan hal itu selalu saya tolak dengan alasan saya tidak biasa bermain'amplop'. Seperti kita tahu sudah menjadi hal yang lumrah jika kita 'membagikan' sedikit rejeki kepada orang yang telah membantu usaha kita. Alasan penolakan saya, saya harus menghitung ulang harga barang supaya harganya kompetitif namun tidak rugi jika harus memberikan 'amplop'. Menurut saya itu merepotkan, dan bisa jadi saya dijadikan 'langganan' atas pungli-pungli itu.
Roda kehidupan berputar, dan sampailah di saat saya harus berhadapan dengan pihak sekolah. Bisa dibilang ini suatu rejeki yang tidak saya harapan. Rejeki karena dimana keadaan pasar yang baru sepi namun saya mendapat konsumen baru, sedangkan hal ini tidak saya harapkan karena saya harus memberikan sesuatu yang bukan haknya. Pihak sekolah meminta saya memberikan stempel, hal yang tidak biasa terjadi di pasar tradisional, untungnya dapat saya tolak. Percobaan pertama telah terlewati, karena saya telah menghindari membantu korupsi. Jikalau nantinya oknum-oknum tersebut nota palsu, saya tidak menanggung dosa tersebut.
Setelah selesai transaksi, mereka meminta bonus, hal yang membuat saraf ketawa saya berkontraksi, anda siapa? Baru berbelanja sekian rupiah kok sudah meminta bonus, sedangkan banyak dari langganan saya yang transaksinya lebih rutin dan sebagian nominalnya melebihi oknum sekolah ini saja tidak pernah meminta bonus, pertimbangan apa yang mengharuskan saya memberi anda bonus.
Ternyata masalah belum selesai sampai titik ini, ternyata dari pertama kali oknum sekolah sampai di tempat saya, sudah ada 3 orang yang meminta komisi atas jasanya mengantarkan konsumen ke kios saya. Tiga orang??? Gila, preman dari mana saja ini? Karena saya tidak pernah menjumpai kejadian semacam ini, saya bertanya kepada karyawan saya(sudah berkecimpung di pasar selama 10 tahun), adat kebiasaannya bagaimana? Karyawan saya berkata, bahwa dia juga baru kali ini menjumpai hal ini, meski sudah lama bekerja di beberapa kios dan lama menjadi karyawan pasar. Saya mengutarakan, kalau dikasih X rupiah bagaimana? Wajarkah? Karyawan saya hanya menimpali, seikhlasnya saja, daripada memberi tetapi tidak ikhlas. Dan akhirnya diputuskan memberi sejumlah uang kepada salah seorang dan tolong dibagi buat bertiga.
Apakah tulisan saya ini menandakan saya belum ikhlas? Sebetulnya tidak, saya ikhlas, disini saya hanya ingin berbagi, kalau transaksi di pasar tradisional saja pungutan liarnya sudah seperti itu, ditambah (diskusi dari oknum sekolah yang saya dengar) rencana penjualan seragam yang akan di mark up(diambil untung yang tidak wajar), lalu saya berpikir mau jadi apa negeri ini? Bekerja mencari laba itu sudah pasti, akan tetapi alngkah lebih bijak tidak menggunakan kekuasaan atau pangkat untuk menumpuk kekayaan pribadi. Jika seorang oknum dari sekolah berbisnis peralatan sekolah, menurut pandangan saya kurang elok, dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi kasus. Sudah berapa berita di koran yang memberitakan 'mantan' oknum sekolah yang terkena kasus korupsi.
Ya itu pandangan dari saya, jika hal ini menyinggung pembaca, saya mohon maaf, saya adalah orang naif yang hidup di waktu yang salah, karena idealisme yang tinggi dan ingin merubah dunia, tetapi malah menjerumuskan tiga orang ke jalan yang menurut saya salah.....pelajaran hidup ini semoga membawa saya menjadi orang yang lebih tegas.
Showing posts with label sekolah. Show all posts
Showing posts with label sekolah. Show all posts
Thursday, December 23, 2010
Tuesday, February 2, 2010
Hargailah prestasi orang lain
Pernahkah anda memandang sebelah mata prestasi seseorang? Entah itu saudara, teman bawahan anda. Jika jawabannya YA, alangkah akan lebih baik jika anda berusaha untuk mengubahnya, sesuai dengan dengan kata pepatah ‘ diatas langit masih ada langit’.
Tulisan ini terinspirasi dari kejadian sewaktu saya masih di bangku sekolah dasar, saya lupa waktu itu saya kelas berapa namun itu tidak terlalu penting. Inti masalahnya bermula dari adik sepupu(SS) saya yang ditanya oleh kakak sepupu saya (ES), ED bertanya ‘dapat ranking berapa ?’ dan sejurus SS menjawab ‘ranking 5 kak’. Sang kakak sepupu mengatakan alangkah pandai kamu SS bisa mendapat ranking 5. Karena EGO saya bekata ‘ kalau kelas X dapat ranking di kelas sudah biasa, bahan pelajarannya kan masih relative lebih mudah’. ED menasehati saya ‘ kamu tidak boleh berkata seperti itu, kalau kamu mengatakan bahan pelajaran kelas X lebih mudah, apakah kamu juga mendapat ranking sewaktu kelas X? kamu dapat mengatakan bahwa pelajaran di kelas X gampang saat ini, karena kamu sudah melalui nya(semacam phase of life)’.
Dan hal ini sebaiknya menjadikan kita untuk tidak memandang sebelah mata atas prestasi seseorang. Mereka tentu mempunyai kemampuan, dan belum tentu dengan parameter-paramater tertentu kita mendapat prestasi yang baik seperti presatasi yang diraih seseorang dengan keadaan yang sama. Yang menjadi lebih penting lagi hal ini bukan hanya pada lingkungan sekolah, namun pada semua aspek kehidupan kita. Pada lingkungan pekerjaan, lingkungan social(kemampuan bersosialisasi) dan lain-lain.
Apakah anda masih akan memandang remeh prestasi seseorang?
Tulisan ini terinspirasi dari kejadian sewaktu saya masih di bangku sekolah dasar, saya lupa waktu itu saya kelas berapa namun itu tidak terlalu penting. Inti masalahnya bermula dari adik sepupu(SS) saya yang ditanya oleh kakak sepupu saya (ES), ED bertanya ‘dapat ranking berapa ?’ dan sejurus SS menjawab ‘ranking 5 kak’. Sang kakak sepupu mengatakan alangkah pandai kamu SS bisa mendapat ranking 5. Karena EGO saya bekata ‘ kalau kelas X dapat ranking di kelas sudah biasa, bahan pelajarannya kan masih relative lebih mudah’. ED menasehati saya ‘ kamu tidak boleh berkata seperti itu, kalau kamu mengatakan bahan pelajaran kelas X lebih mudah, apakah kamu juga mendapat ranking sewaktu kelas X? kamu dapat mengatakan bahwa pelajaran di kelas X gampang saat ini, karena kamu sudah melalui nya(semacam phase of life)’.
Dan hal ini sebaiknya menjadikan kita untuk tidak memandang sebelah mata atas prestasi seseorang. Mereka tentu mempunyai kemampuan, dan belum tentu dengan parameter-paramater tertentu kita mendapat prestasi yang baik seperti presatasi yang diraih seseorang dengan keadaan yang sama. Yang menjadi lebih penting lagi hal ini bukan hanya pada lingkungan sekolah, namun pada semua aspek kehidupan kita. Pada lingkungan pekerjaan, lingkungan social(kemampuan bersosialisasi) dan lain-lain.
Apakah anda masih akan memandang remeh prestasi seseorang?
Subscribe to:
Posts (Atom)