Sebuah film nasional yang memuat pesan moral, dan menggambarkan kerumitan hidup di negara Indonesia. Sebuah komplektivitas antara religi, moral, dan realita kehidupan.
Dalam film ini diceritakan, dimana seorang yang berpendidikan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Karena ilmu yang didapat adalah manajemen, maka ia mencoba mengatur kehidupan gerombolan pencopet supaya dapat menjadi orang yang mempunyai pekerjaan yang halal. Konflik dalam dirinya terjadi ketika hal ini dihubungkan dengan kehidupan rohani atau religinya, karena 'membenarkan' mencari modal dari hasil pekerjaan haram supaya para pencopet dapat bekerja secara halal.
Setelah modal terkumpul, dan dapat digunakan sebagai modal, bukannya masalah telah terselesaikan, bahkan sebaliknya, timbul masalah baru. MORAL, dimana para pencopet biasa mendapat penghasilan yang dapat dikatakan besar, mereka tidak dapat menerima jika pendapatannya berkurang jika mereka berubah menjadi pengasong. Adapun beberapa orang telah mau menjadi pengasong, persoalan belum juga selesai. Para pengasong dikejar-kejar oleh aparat pemerintah karena 'dianggap' menggangu ketertiban umum.
Sungguh ironi, dimana orang yang berniat baik dan terkendala modal dicap sebagai orang yang melanggar nilai agama. Dan setelah orang mau bertobat malah menjadi pelaku pelanggaran peraturan pemerintah. Lantas harus dimulai dari mana agar negara ini dapat mengurangi angka kemiskinan dan memperbaiki moral rakyatnya? Sudikah anda berbagi pendapat untuk memutus lingkaran setan ini?
Showing posts with label usaha. Show all posts
Showing posts with label usaha. Show all posts
Wednesday, October 27, 2010
Thursday, March 4, 2010
Teguran di Persimpangan Jalan
Suatu ketika saat bepergian dengan teman, pada saat kendaraan kami berhenti di persimpangan jalan karena lampu lalu lintas(traffic light) sedang berwarna merah saya ditegur oleh teman saya 'Apa uang kecilmu(recehmu) habis? Pake ini saja(teman saya menawarkan uang receh/kecil)'. Kebetulan saya yang mengemudikan kendaraan dan maksud teman saya menanyakan uang receh/kecil untuk memberi sedekah kepada pengemis.
Saya jawab 'ada kok (uang kecil/receh saya masih ada)'. Lalu setelah beberapa saat lampu lalu lintas berganti warna menjadi hijau, setelah beberapa saat saya menerangkan alasan saya tidak memberi sedekah kepada para pengemis.
Saya memang sudah lama tidak memberi sedekah kepada para pengemis. Alasan saya, mereka masih muda dan bisa berkarya, kenapa mereka 'merendahkan diri' mereka sendiri dengan meminta-minta kepada orang lain. Meski cacat, tentunya ada kegiatan yang dapat mereka lakukan selain mengemis. Mereka hanya tidak mau berusaha. Dan yang lebih parahnya, ada sebagian dari mereka yang menjadikan pengemis sebagai pekerjaan mereka.
Ini fakta dan saya pernah mendengar ini dari teman saya yang kebetulan mempunyai usaha sablon dalam skala rumahan. Ada karyawan teman saya yang sudah berumur (kisaran 45 tahun) yang ijin tidak masuk hanya pada hari jumat. Alasannya? Upah harian yang diterima sebagai buruh sablon lebih kecil daripada mengemis. Ada juga karyawan yang lain dan masih berada pada usia produktif(kisaran 25 tahun), dia berhenti bekerja tanpa pamit. Setelah didatangi rumahnya, dari keterangan keluarga dan tetangga terdekatnya ternyata karyawan teman saya itu KEMBALI menjadi pengamen, lagi-lagi dengan alasan pendapatan yang lebih besar jika menjadi pengamen. SUNGGUH pengakuan MENCENGANGKAN.
Mereka rela berpanas-panas di persimpangan jalan, menanggung malu dengan meminta-minta. Dari sini beberapa dari anda mungkin berpikir, penjabaran diatas hanya sebuah 'pembenaran diri' dari penulis atas ketidak sosialan penulis. Sekarang saatnya pembenaran diri saya jabarkan, saya lebih memilih membantu yayasan penyandang cacat atau yatim piatu agar mereka dapat mempunyai keahlian.
Dan jika saya memberi sedekah, dan beberapa orang juga memberi sedekah juga. Maka jika dijumlah, sedekah yang mereka dapat(pengemis,anak jalanan,pengamen,dll) akan selalu melebih i upah yang mampu diberikan oleh usaha rumahan. Jika demikian maka akan lebih banyak lagi pengemis,anak jalanan,pengamen,dll karena pekerjaan yang menjajikan upah diatas pendapatan mereka semakin terbatas dan memerlukan keahlian khusus(yang mungkin tidak dimiliki oleh mereka). Lalu apa yang akan terjadi dengan usaha rumahan yang selama ini digembar-gemborkan sebagai penopang ekonomi nasional saat krisis 2008 terjadi?
Tapi yang menjadi lebih penting adalah pengembalian moral anak muda, agar mereka mau bekerja keras(memeras keringat) untuk mendapatkan sesuatu. Dan tentunya dengan berkarya,bukan bermandikan peluh karena panasnya sengatan sinar mentari di perempatan jalan dan menengadahkan tangan.
Saya jawab 'ada kok (uang kecil/receh saya masih ada)'. Lalu setelah beberapa saat lampu lalu lintas berganti warna menjadi hijau, setelah beberapa saat saya menerangkan alasan saya tidak memberi sedekah kepada para pengemis.
Saya memang sudah lama tidak memberi sedekah kepada para pengemis. Alasan saya, mereka masih muda dan bisa berkarya, kenapa mereka 'merendahkan diri' mereka sendiri dengan meminta-minta kepada orang lain. Meski cacat, tentunya ada kegiatan yang dapat mereka lakukan selain mengemis. Mereka hanya tidak mau berusaha. Dan yang lebih parahnya, ada sebagian dari mereka yang menjadikan pengemis sebagai pekerjaan mereka.
Ini fakta dan saya pernah mendengar ini dari teman saya yang kebetulan mempunyai usaha sablon dalam skala rumahan. Ada karyawan teman saya yang sudah berumur (kisaran 45 tahun) yang ijin tidak masuk hanya pada hari jumat. Alasannya? Upah harian yang diterima sebagai buruh sablon lebih kecil daripada mengemis. Ada juga karyawan yang lain dan masih berada pada usia produktif(kisaran 25 tahun), dia berhenti bekerja tanpa pamit. Setelah didatangi rumahnya, dari keterangan keluarga dan tetangga terdekatnya ternyata karyawan teman saya itu KEMBALI menjadi pengamen, lagi-lagi dengan alasan pendapatan yang lebih besar jika menjadi pengamen. SUNGGUH pengakuan MENCENGANGKAN.
Mereka rela berpanas-panas di persimpangan jalan, menanggung malu dengan meminta-minta. Dari sini beberapa dari anda mungkin berpikir, penjabaran diatas hanya sebuah 'pembenaran diri' dari penulis atas ketidak sosialan penulis. Sekarang saatnya pembenaran diri saya jabarkan, saya lebih memilih membantu yayasan penyandang cacat atau yatim piatu agar mereka dapat mempunyai keahlian.
Dan jika saya memberi sedekah, dan beberapa orang juga memberi sedekah juga. Maka jika dijumlah, sedekah yang mereka dapat(pengemis,anak jalanan,pengamen,dll) akan selalu melebih i upah yang mampu diberikan oleh usaha rumahan. Jika demikian maka akan lebih banyak lagi pengemis,anak jalanan,pengamen,dll karena pekerjaan yang menjajikan upah diatas pendapatan mereka semakin terbatas dan memerlukan keahlian khusus(yang mungkin tidak dimiliki oleh mereka). Lalu apa yang akan terjadi dengan usaha rumahan yang selama ini digembar-gemborkan sebagai penopang ekonomi nasional saat krisis 2008 terjadi?
Tapi yang menjadi lebih penting adalah pengembalian moral anak muda, agar mereka mau bekerja keras(memeras keringat) untuk mendapatkan sesuatu. Dan tentunya dengan berkarya,bukan bermandikan peluh karena panasnya sengatan sinar mentari di perempatan jalan dan menengadahkan tangan.
Monday, February 8, 2010
Mulilevel Marketing (bagian 1) Apa itu multilevel marketing?
Multilevel marketing atau lebih kita kenal dengan MLM merupakan salah satu bentuk manajemen pemasaran yang ada. Sistem ini menggunakan konsumen sebagai bagian dari pendistribusian suatu barang dan sekaligus menjadikan konsumen sebagai bagian dari tenaga pemasaran dari perusahaan. Karena sistem marketing dan pendistribusian barangnya sedemikian rupa maka perusahaan telah mengurangi beban usahanya dalam pendistribusian dan marketingnya. Mereka membuat rantai distribusi lebih pendek, yaitu dari perusahaan langsung ke konsumen. Tidak seperti perusahaan konvesional yang rantai distribusinya panjang. Mulai dari perusahaan sebagai produsen, lalu distrbutor, agen, pengecer dan berakhir ditangan konsumen.
Lalu dengan skema distribusi yang semacam itu dan manajemen pemasaran yang berbeda apakah menjadikan harga barang yang dijual menjadi lebih murah? TIDAK.Karena sebetulnya yang dilakukan adalah mengalihkan alokasi dana yang semestinya dipergunakan dalam proses pendistribusian barang dan materi marketing(termasuk iklan ataupun tenaga kanvaser/kelilingan) ke dalam BONUS untuk para anggotanya. Dan tidak menutup kemungkinan harga barang lebih mahal jika dibandingkan dengan produk yang sama kualitasnya. Kita tidak mungkin mendapatkan barang dari suatu MLM dipasar bebas, karena itulah salah satu strategi penjualan dari MLM, kecuali MLM itu sudah tidak sehat,maka produknya sudah tersebar dipasar secara bebas, dan yang lebih parahnya lagi harga produk ditentukan oleh pasar.
Tulisan ini merupakan perkenalan tentang MLM. Nantikan tulisan berikutnya :).
Lalu dengan skema distribusi yang semacam itu dan manajemen pemasaran yang berbeda apakah menjadikan harga barang yang dijual menjadi lebih murah? TIDAK.Karena sebetulnya yang dilakukan adalah mengalihkan alokasi dana yang semestinya dipergunakan dalam proses pendistribusian barang dan materi marketing(termasuk iklan ataupun tenaga kanvaser/kelilingan) ke dalam BONUS untuk para anggotanya. Dan tidak menutup kemungkinan harga barang lebih mahal jika dibandingkan dengan produk yang sama kualitasnya. Kita tidak mungkin mendapatkan barang dari suatu MLM dipasar bebas, karena itulah salah satu strategi penjualan dari MLM, kecuali MLM itu sudah tidak sehat,maka produknya sudah tersebar dipasar secara bebas, dan yang lebih parahnya lagi harga produk ditentukan oleh pasar.
Tulisan ini merupakan perkenalan tentang MLM. Nantikan tulisan berikutnya :).
Subscribe to:
Posts (Atom)