Bahasa gaulnya 'ikuti saja arusnya', ini hasil nyontek dari seorang teman yang pernah tinggal di luar negeri. Di sini saya akan berbagi tentang pengalaman saya tentang pekerjaan(mungkin ini hanya contoh kecil dan kebetulan mengenai pekerjaan).
Setelah saya keluar dari pekerjaan saya(sebagai pegawai suatu perusahaan), ada tawaran dari orang tua untuk membantu dan nantinya melanjutkan usahanya.Di satu sisi ini tawaran yang menggiurkan , dimana banyak orang kebinggungan untuk mencari pekerjaan, binggung akan memulai usaha karena terbentur berbagai hal(modal, keahlian, dll). Di sisi lain , sebagai orang muda(setengah tua juga seh,29) dan belum mempunyai tanggungan (keluarga), jiwa muda saya bergolak. Kata hati atau ego (saya kurang bisa membedakannya) saya bekata, 'Masa hanya melanjutkan usaha orang tua, tidak mampukan saya membangun usaha sendiri? Bukankah jika berhasil saya akan merasa lebih bangga?'
Ada peluang usaha yang lain, ini kebetulan berasal dari keahlian dan tidak membutuhkan modal banyak, programmer. Itu disebabkan karena background pendidikan saya Sarjana Komputer Teknologi informatika dari STTS. Saya sudah menghindari profesi yang satu ini, karena saya tidak tahan dengan keuntungan menjadi seorang programmer(aneh, keuntungan tapi kok ndak suka :( ). Keuntungan dari programmer, menurut pengalaman saya, anda akan dipakai atau dipanggil sewaktu-waktu jika ada pengembangan sistem dari perusahaan yang pernah anda tangani. Tapi hal ini menurut saya menganggu, karena saya ada rencana atau kegiatan lain.
Dan hal yang aneh, setelah 2 bulan saya berkutat dengan usaha untuk melepaskan diri dari kedua pekerjaan tadi, hal yang terjadi malah sebaliknya, saya dalam proses pengajuan tender konveksi , dan tiba-tiba teman saya telepon untuk membuatkan sistem untuk perusahaannya.
Yang saya tangkap, semakin saya menghindar, semakin saya dipaksa untuk masuk ke dalam hal yang saya hindari. Bagaimana dengan anda? Ada masukkan dari teman saya, hidup itu ada siklusnya, dimana anda dipaksa untuk mengikuti arus, dan meninggalkannya, hal ini akan saya cermati.
Friday, April 17, 2009
Tuesday, March 17, 2009
Passive Income ? Bullshit!!!!! (If you want get maximal)
Kasar dan brutal ya? Tapi ini kenyataannya, saya menghargai buku dari Pak Robert T Kiyosaki(Rich Dad Poor Dad), dibukunya terdapat beberapa wacana baru tentang usaha dan pendapatan, tapi saya tidak setuju dengan anggapan passive income, dengan catatan seperti yang saya tulis di atas 'Jika anda ingin hasil yang maksimal'.
Tidak ada di dunia ini anda bisa mendapatkan uang sedangkan anda tidur-tiduran. Ongkang-ongkang kaki tapi dapat uang. Jika anda berinvestasi (biarkan uang yang bekerja untuk anda :p ), adalah benar adanya anda mendapat kelebihan 'value' atau keuntungan tanpa bekerja. Disini kita bisa contohkan berupa emas, harga saham, atau property. Vaaluenya naik? Tentu, tapi apa anda sadar, harga kebutuhan pokok juga naik? Untungkah? Yap, anda mendapat untung, dan sangat besar jika dibandingkan dengan bunga bank, bahkan mungkin lebih besar dari bunga deposito. Tapi tunggu dulu, ulasan semua ini hanya berlaku jika keadaan ekonominya normal, atau tidak ada krisis seperti yang sekarang terjadi(akhir 2008 - awal 2009).
Nah apa jadinya jika anda hanya ongkang-ongkang kaki, tidur-tiduran, nonton tv atau apalah yang menjadi hobby anda dalam membuang waktu, apakah nilai value anda bertambah? Wah bisa-bisa kalau anda membuka telinga untuk mendengar berita, anda bisa kena serangan jantung ( ihhh, amit-amit, omongannya jelek banget, dari tadi kok ndak ada bagus-bagusnya, sekali-kali ambil dari sudut pandang positif donk :) ). Ya maaf kalau apa yang saya tulis terlalu jujur. Tujuan saya hanya mau mengatakan, jika anda ingin mendapat hasil yang anda harapkan(mungkin tidak sampai ke batas maksimal) anda harus sering membuka telinga, baca berita.
Point dari judul yang saya pilih, masihkah ada passive income? Tidak, semua butuh waktu untuk mendapatkan hasil yang anda harapkan. Bagaimana kalau MLM, bukankah JIKA downline saya bekerja saya mendapat passive income? Jika anda tidap SUPPORT downline anda, apakah anda mendapatkan hasil yang anda harapkan??? Mustahil jawaban saya. Saham, Property dan emas, bukankah valuenya naik terus?? Ya, tapai bagaimana saat menghadapi krisi seperti sekrang ini, saham rontok, property tumbang, emas membumbung tinggi ( nah ada kan passive income), eitt tunggu dulu, coba anda cek, apakah kebutuhan belanja anda tidak bertambah banyak?? Inflasi teman, kita juga dilanda inflasi. Value yang anda dapat mungkin hanya lebih besar dari bunga bank, tapi anda juga harus hati-hati, kalau anda tidak membuka telingga bisa-bisa anda masuk ke jurang 'tumbang' dan 'rontok' seperti saham dan property.
Kerja apapun itu pasti membutuhkan waktu untuk memantaunya. Setujukah anda akan hal ini? Maaf jika akhir-akhir ini banyak tulisan saya dengan judul kebarat-baratan, bukannya saya tidak cinta indonesia atau tergerus dengan gelombang budaya barat, namun saya bercita-cita untuk membagikan ide-ide yang saya tulis kepada orang asing, namun keterbasanlah bahasa inggris dan pengetahuan budaya barat yang menghalanginya :).
Tidak ada di dunia ini anda bisa mendapatkan uang sedangkan anda tidur-tiduran. Ongkang-ongkang kaki tapi dapat uang. Jika anda berinvestasi (biarkan uang yang bekerja untuk anda :p ), adalah benar adanya anda mendapat kelebihan 'value' atau keuntungan tanpa bekerja. Disini kita bisa contohkan berupa emas, harga saham, atau property. Vaaluenya naik? Tentu, tapi apa anda sadar, harga kebutuhan pokok juga naik? Untungkah? Yap, anda mendapat untung, dan sangat besar jika dibandingkan dengan bunga bank, bahkan mungkin lebih besar dari bunga deposito. Tapi tunggu dulu, ulasan semua ini hanya berlaku jika keadaan ekonominya normal, atau tidak ada krisis seperti yang sekarang terjadi(akhir 2008 - awal 2009).
Nah apa jadinya jika anda hanya ongkang-ongkang kaki, tidur-tiduran, nonton tv atau apalah yang menjadi hobby anda dalam membuang waktu, apakah nilai value anda bertambah? Wah bisa-bisa kalau anda membuka telinga untuk mendengar berita, anda bisa kena serangan jantung ( ihhh, amit-amit, omongannya jelek banget, dari tadi kok ndak ada bagus-bagusnya, sekali-kali ambil dari sudut pandang positif donk :) ). Ya maaf kalau apa yang saya tulis terlalu jujur. Tujuan saya hanya mau mengatakan, jika anda ingin mendapat hasil yang anda harapkan(mungkin tidak sampai ke batas maksimal) anda harus sering membuka telinga, baca berita.
Point dari judul yang saya pilih, masihkah ada passive income? Tidak, semua butuh waktu untuk mendapatkan hasil yang anda harapkan. Bagaimana kalau MLM, bukankah JIKA downline saya bekerja saya mendapat passive income? Jika anda tidap SUPPORT downline anda, apakah anda mendapatkan hasil yang anda harapkan??? Mustahil jawaban saya. Saham, Property dan emas, bukankah valuenya naik terus?? Ya, tapai bagaimana saat menghadapi krisi seperti sekrang ini, saham rontok, property tumbang, emas membumbung tinggi ( nah ada kan passive income), eitt tunggu dulu, coba anda cek, apakah kebutuhan belanja anda tidak bertambah banyak?? Inflasi teman, kita juga dilanda inflasi. Value yang anda dapat mungkin hanya lebih besar dari bunga bank, tapi anda juga harus hati-hati, kalau anda tidak membuka telingga bisa-bisa anda masuk ke jurang 'tumbang' dan 'rontok' seperti saham dan property.
Kerja apapun itu pasti membutuhkan waktu untuk memantaunya. Setujukah anda akan hal ini? Maaf jika akhir-akhir ini banyak tulisan saya dengan judul kebarat-baratan, bukannya saya tidak cinta indonesia atau tergerus dengan gelombang budaya barat, namun saya bercita-cita untuk membagikan ide-ide yang saya tulis kepada orang asing, namun keterbasanlah bahasa inggris dan pengetahuan budaya barat yang menghalanginya :).
Sunday, March 1, 2009
Cuek (sometimes) is the best
Yaaaa...., mana ada orang yang mau bergaul dengan orang cuek? Ngselin! Inilah mayoritas pandangan kita dengan kata 'cuek' atau tidak mau tau(tentang keadaan atau sekitarnya). Memang asumsi kita akan selalu negatif dengan kata 'cuek'(maaf jika sebagian orang tidak sependapat dengan saya)
Sikap yang mungkin tidak menyenangkan di kehidupan sosial. Namun akan menjadi perlu juga kita terapkan di kehidupan sosial. Lohhh, kok perlu? Iya, akan menjadi perlu untuk orang yang suka bermain perasaan.
Coba kita ambil contoh kasus pertemanan. Pada umumnya, kita akan keluar dengan kelompok orang yang sama (mungkin bisa seperti semacam group). dan jika pada suatu ketika, semua kelompok group itu akan keluar untuk makan dan mereka lupa untuk memberitahu si A (kita sebut saja begitu, dengan catatan si A ini tipe orang yang lebih memakai perasaan daripada logika). Entah itu disengaja ataupun tidak (dan sebenarnya tidak ada hukum tertulis untuk memberitahu semua anggota group mengenai kegiatan yang akan dilakukan). Suatu hari si A mengetahui acara tersebut dan sedih dengan keadaan ini, merenung, intropeksi diri dll(mungkin sampe menangis, maaf kalau pembaca mengalami hal yang sama). Dan mulai ada beberapa pertanyaan yang muncul di benaknya 'apakah saya kurang diterima di grup itu? Apakah saya sudah dilupakan oleh teman-teman saya? ' dan masih banyak pertanyaan yang muncul dan semuanya membuat si A menjadi minder.
Jika si A tidak memiliki sedikit rasa cuek, dia bisa-bisa terkena depresi (hiiii...,mengerikan amat). Jika saya jadi si A, saya akan berpikiran, mungkin mereka kelupaan memberitahu saya, mereka tidak akan mau bergaul dengan saya jika memang mereka tidak suka dengan saya. Jadi kalau anda tidak dikabari, ya anda yang konta mereka. Kalau ada pandangan wah, anda hanya mengontak kami jika anda butuh! Ya memang, karena memang itulah teman, ada di saat butuh, dan bersiaplah menolong jika ada teman juga membutuhkan bantuan anda.
Jadi apa cuek itu selalu negatif? TIDAK, jika anda mengunakan dengan porsi yang tepat, setau saya, semua jika kita gunakan secara tepat akan menjadi baik hasilnya. Bagaimana contohnya ? Saya tidak bisa menjawab, karena itu bergantung kepada pribadi masing-masing, tapi saya juga sedang belajar tentang kehidupan yang begitu INDAH.
Sikap yang mungkin tidak menyenangkan di kehidupan sosial. Namun akan menjadi perlu juga kita terapkan di kehidupan sosial. Lohhh, kok perlu? Iya, akan menjadi perlu untuk orang yang suka bermain perasaan.
Coba kita ambil contoh kasus pertemanan. Pada umumnya, kita akan keluar dengan kelompok orang yang sama (mungkin bisa seperti semacam group). dan jika pada suatu ketika, semua kelompok group itu akan keluar untuk makan dan mereka lupa untuk memberitahu si A (kita sebut saja begitu, dengan catatan si A ini tipe orang yang lebih memakai perasaan daripada logika). Entah itu disengaja ataupun tidak (dan sebenarnya tidak ada hukum tertulis untuk memberitahu semua anggota group mengenai kegiatan yang akan dilakukan). Suatu hari si A mengetahui acara tersebut dan sedih dengan keadaan ini, merenung, intropeksi diri dll(mungkin sampe menangis, maaf kalau pembaca mengalami hal yang sama). Dan mulai ada beberapa pertanyaan yang muncul di benaknya 'apakah saya kurang diterima di grup itu? Apakah saya sudah dilupakan oleh teman-teman saya? ' dan masih banyak pertanyaan yang muncul dan semuanya membuat si A menjadi minder.
Jika si A tidak memiliki sedikit rasa cuek, dia bisa-bisa terkena depresi (hiiii...,mengerikan amat). Jika saya jadi si A, saya akan berpikiran, mungkin mereka kelupaan memberitahu saya, mereka tidak akan mau bergaul dengan saya jika memang mereka tidak suka dengan saya. Jadi kalau anda tidak dikabari, ya anda yang konta mereka. Kalau ada pandangan wah, anda hanya mengontak kami jika anda butuh! Ya memang, karena memang itulah teman, ada di saat butuh, dan bersiaplah menolong jika ada teman juga membutuhkan bantuan anda.
Jadi apa cuek itu selalu negatif? TIDAK, jika anda mengunakan dengan porsi yang tepat, setau saya, semua jika kita gunakan secara tepat akan menjadi baik hasilnya. Bagaimana contohnya ? Saya tidak bisa menjawab, karena itu bergantung kepada pribadi masing-masing, tapi saya juga sedang belajar tentang kehidupan yang begitu INDAH.
Labels:
best,
bumbu,
bumbu kehidupan,
cuek,
is,
kehidupan,
sometimes,
the,
the best cuek is the best
Pembenaran Diri (pendukung)
Sudah menjadi sifat manusia untuk mencari pembenaran diri atas keputusan yang diambil maupun atas prinsip yang menjadi pegangan hidupnya. Hal ini bukan sesuatu yang aneh, dan sangat wajar adanya, karena manusia akan menjadi lebih lega jikalau ada orang yang mempunyai pendapat yang sama atas prinsip hidup atau kesamaan pandangan atas keputusan yang diambilnya. Saya yakin anda yang membaca ini, juga pernah mengalaminya.
Jika kita bertukar pendapat dengan teman ataupun orang lain atas keputusan yang telah kita ambil atau prinsip hidup kita, dan jika jawaban orang itu sama dengan pendapat kita, tentu kita mendapat ke-LEGA-an. Hendaknya anda jangan terlena dengan kesamaan pendapat ata pandangan dengan orang lain. Anda harus tetap berkaca, dan terus belajar untuk mengetahui apakah anda benar atau salah.
Namun apakah kelagaan itu yang kita cari? Jika pendapat orang itu berbeda dengan kita, tentu ke_KECEWA-an yang kita dapat. Menurut saya, sebenarnya orang tidak perlu tidak percaya diri (PD) atas perbedaan pandangan atau prinsip dengan orang lain. Karena orang diciptakan unik dan diberi akal budi. Unik, ya memang manusia diciptakan unik, dan ada kemungkinan perbedaan pandangan dan keyakinan, karena hal itulah sebenarnnya perbedaan padangan ataupun prinsip adalah wajar. Bagaimana jika prinsip saya salah? atau pandangan saya salah? Ya, mana ada orang yang tidak pernah salah, hal itu wajar, dan dapat dimaklumi, tapi alangkah baiknya jika anda berusaha untuk memperbaikinya. Namun saya juga mempunyai suatu masalah untuk merumuskan apa itu 'benar' dan apa itu 'salah'. Bukankah masing-masing individu akan memiliki jawaban yang berbeda untuk kasus yang sama, bukankah 'benar' dan 'salah' menjadi sesuatu yang kasusistis?
Jadi jika anda sudah mengambil keputusan(seperti tulisan saya yang berjuul'PILIHAN'), maka bertanggung jawablah akan keputusan anda, dan tanggung lah segala konsekuensinya(bisa juga diartikan 'Kompensasi' seperti tulisan saya sebelumnya, maaf setengah beriklan :) ). Jika sudah benar(menurut anda) maka lanjutkanlah, jika salah(menurut anda juga) maka beranilah untuk mengakui dan segera perbaiki.
Sulit???? Memang sulit, karena berani untuk mengakui itu sudah membutuhkan keberanian yang besar, kadang anda harus merendahkan harga diri anda, namun itu anda butuhkan jika ingin berkembang.
Apakah anda ingin berkembang? Berusahalah karena hidup ini penuh pembelajaran.
Jika kita bertukar pendapat dengan teman ataupun orang lain atas keputusan yang telah kita ambil atau prinsip hidup kita, dan jika jawaban orang itu sama dengan pendapat kita, tentu kita mendapat ke-LEGA-an. Hendaknya anda jangan terlena dengan kesamaan pendapat ata pandangan dengan orang lain. Anda harus tetap berkaca, dan terus belajar untuk mengetahui apakah anda benar atau salah.
Namun apakah kelagaan itu yang kita cari? Jika pendapat orang itu berbeda dengan kita, tentu ke_KECEWA-an yang kita dapat. Menurut saya, sebenarnya orang tidak perlu tidak percaya diri (PD) atas perbedaan pandangan atau prinsip dengan orang lain. Karena orang diciptakan unik dan diberi akal budi. Unik, ya memang manusia diciptakan unik, dan ada kemungkinan perbedaan pandangan dan keyakinan, karena hal itulah sebenarnnya perbedaan padangan ataupun prinsip adalah wajar. Bagaimana jika prinsip saya salah? atau pandangan saya salah? Ya, mana ada orang yang tidak pernah salah, hal itu wajar, dan dapat dimaklumi, tapi alangkah baiknya jika anda berusaha untuk memperbaikinya. Namun saya juga mempunyai suatu masalah untuk merumuskan apa itu 'benar' dan apa itu 'salah'. Bukankah masing-masing individu akan memiliki jawaban yang berbeda untuk kasus yang sama, bukankah 'benar' dan 'salah' menjadi sesuatu yang kasusistis?
Jadi jika anda sudah mengambil keputusan(seperti tulisan saya yang berjuul'PILIHAN'), maka bertanggung jawablah akan keputusan anda, dan tanggung lah segala konsekuensinya(bisa juga diartikan 'Kompensasi' seperti tulisan saya sebelumnya, maaf setengah beriklan :) ). Jika sudah benar(menurut anda) maka lanjutkanlah, jika salah(menurut anda juga) maka beranilah untuk mengakui dan segera perbaiki.
Sulit???? Memang sulit, karena berani untuk mengakui itu sudah membutuhkan keberanian yang besar, kadang anda harus merendahkan harga diri anda, namun itu anda butuhkan jika ingin berkembang.
Apakah anda ingin berkembang? Berusahalah karena hidup ini penuh pembelajaran.
Labels:
benar,
bumbu,
bumbu kehidupan,
diri,
dukung,
dukungan,
kehidupan,
pembenaran,
pembenaran diri
Thursday, February 5, 2009
I Love Dustbin
Ihhhhh, menjijikkan kali ini orang. Apa tidak tahu kalau tempat sampah itu menjijikan. Bau, kotor, tidak higienis. Ehhhh, yang dipandang jangan dari sisi yang negatif aja donk. Kita harus berimbang dalam menilai sesuatu, apa anda tidak menyadari betapa indahnya tempat sampah, dia yang menampung sampah di rumah kita. Lebih jauh, dia bisa menghasilkan kompos buat kita(kalau dibuat keranjang takakura dan sampahnya dipilah). Maaf kalo topiknya berubah ke "GREEN LIVING". Karena saya baru jatuh cinta dengan "GREEN LIVING", setelah melihat banyaknya bencana di dunia ini :((
OK, back to the main topic. Kehidupan, sebagaimana orang yang memiliki kehidupan sosial, tempat sampah disini berati tempat curhat(curahan hati, bahasa gaulnya, kalau belum diganti istilah gaulnya ya). Kenapa saya suka dengan tempat curhat? Karena saat terjadi sharing, ada suatu perasaan lega yang muncul dari kedua belah pihak.
Dari yang sedang bermasalah, dia merasa sebagian beban hidupnya sudah lebih ringan dari waktu sebelum dia sharing. Ada orang yang mendengarkan aku, dan berbagi dengan aku, dan jikalau orang itu hanya mampu mendengar ceritaku, itu sudah sangat membantu dalam menanggung bebanku, dan akan menjadi lebih baik kalau orang itu mampu memberi nasihat atau berbagi pengalaman hidup untuk memecahkan masalahku. Apakah demikian? Coba anda praktekkan sendiri !
Di sisi orang yang mendengarkan, ada perasaan bangga, ternyata ada orang yang mempercayai aku, ada orang yang mau berbagi dengan aku, ada orang yang bisa mendengarkan pengalamanku, ada orang yang mau mendengar nasihatku (walaupun aku tidak tahu apakah nasihatku berguna dan dilaksanakan oleh orang itu). Ada suatu kepuasan sendiri. Namun hal ini mungkin tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Ya, kenapa saya suka tempat sampah dan menjadi tempat sampah, karena selain kita bisa mengembangkan diri dari persoalan yang dihadapi orang lain, ada rasa puas jika bisa membantu teman. Menjadi pendengar yang baik itu susah dan itu salah satu pembelajaran hidup.
OK, back to the main topic. Kehidupan, sebagaimana orang yang memiliki kehidupan sosial, tempat sampah disini berati tempat curhat(curahan hati, bahasa gaulnya, kalau belum diganti istilah gaulnya ya). Kenapa saya suka dengan tempat curhat? Karena saat terjadi sharing, ada suatu perasaan lega yang muncul dari kedua belah pihak.
Dari yang sedang bermasalah, dia merasa sebagian beban hidupnya sudah lebih ringan dari waktu sebelum dia sharing. Ada orang yang mendengarkan aku, dan berbagi dengan aku, dan jikalau orang itu hanya mampu mendengar ceritaku, itu sudah sangat membantu dalam menanggung bebanku, dan akan menjadi lebih baik kalau orang itu mampu memberi nasihat atau berbagi pengalaman hidup untuk memecahkan masalahku. Apakah demikian? Coba anda praktekkan sendiri !
Di sisi orang yang mendengarkan, ada perasaan bangga, ternyata ada orang yang mempercayai aku, ada orang yang mau berbagi dengan aku, ada orang yang bisa mendengarkan pengalamanku, ada orang yang mau mendengar nasihatku (walaupun aku tidak tahu apakah nasihatku berguna dan dilaksanakan oleh orang itu). Ada suatu kepuasan sendiri. Namun hal ini mungkin tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Ya, kenapa saya suka tempat sampah dan menjadi tempat sampah, karena selain kita bisa mengembangkan diri dari persoalan yang dihadapi orang lain, ada rasa puas jika bisa membantu teman. Menjadi pendengar yang baik itu susah dan itu salah satu pembelajaran hidup.
Labels:
bumbu,
bumbu kehidupan,
Dustbin,
green,
green living,
I,
I Love Dustbin,
kehidupan,
living,
Love
Tuesday, January 27, 2009
Phase of Life
Dalam kehidupan ini ada banyak terdapat fase-fasenya. Dan anehnya, masing-masing individu memiliki path atau cerita sendiri dalam menjalani fase kehidupan. Tidak semua fase juga dilalui oleh seseorang. Mungkin bisa dibilang, bahwa pilihan dalam hidup juga menentukan sejarah kehidupan seseorang. Di sini saya tidak menyebut jalan hidup, karena menurut saya jalan hidup seseorang bergantung kepada orang itu sendiri(seperti tulisan saya yang berjudul "Pilihan"), jadi saya merasa lebih tepat menyebutnya dengan sejarah hidup.
Sejarah hidup seseorang juga dipengaruhi dari kelompok sosial, baik itu teman sepergaulan maupun lingkungan keluarga. Contoh yang paling mudah dan merupakan pengalaman hidup saya adalah mencari arti hidup. Konon(kok seperti donggeng sebelum tidur ya), ada 3 orang, yang nantinya menjadi sahabat, bertemu dan membicarakan tentang esensi atau inti dari hidup.
Si A dengan latar belakang kedekatan keluarga dan finansial yang mencukupi, lebih mencari inti dari hidup untuk membuat dunia lebih baik, seperti seorang spiritual, jadi sudah tidak terlalu memikirkan materi. Namun dia masih mencari-cari esensi hidup, masih menggali lebih dalam apa tujuan hidup.Hal ini terjadi karena dia belum pernah memiliki teman yang suka dengan asti kehidupan.
Si B dengan latar belakang keluarga yang dapat dibilang lumayan harmonis, dan ekonomi yang cukup, sudah beberapa lama berteman dengan teman-teman yang secara kebetulan mencari arti hidup. Saling berbagi tentang kehidupan dengan teman-temannya. Ia sudah mendapat suatu pegangan tentang apa arti hidup(sebagian, karena kita akan belajar sepanjang hidup kita), dan memilih mengaplikasikan langsung di kehidupan sehari-hari. Dalam hal materi, masih berambisi karena belum merasakan tingkat cukup dari dirinya (salah satu sifat dasar manusia, Tidak Ada Kata Puas).
Sedangkan Si C, dengan latar belakang kelurga yang kurang harmonis, kehidupan ekonomi yang dibawah dari kedua temannya, namun terlebih dahulu mencari arti kehidupan. Didukung oleh lingkungan sepergaulan yang suka dalam menggali dan belajar arti kehidupan. Dia menjadi orang yang pertama kali dari ketiga individu ini dalam mengaplikasikan pelajaran hidup dan arti hidup. Material masih dicarinya, namun dia bisa lebih menerima(legowo) dalam pencariannya, karena ditunjang pengetahuannya tentang arti hidup.
Hanya dari 3 orang, dengan latar belakang yang berdeda secara kedekatan keluarga, ekonomi dan teman pergaulan, mareka telah melewati fase kehidupan yang berbeda, walau secara umur, mereka sama. Si A masih dalam pencarian inti kehidupan, dan lebih bisa menerima dalam hal material. Si B sudah pernah memasuki fase pencarian inti kehidupan, sudah mengaplikasikan, namun belum bisa meninggalkan material. Sedangakan si C sudah pernah mencari inti dari kehidupan, sudah mengaplikasikan, dan sudah bisa menerimanya.
Pada akhirnya, saya hanya bisa mengatakan, semua orang memiliki masalahnya masing-masing. Waktu kapan kita mengalami atau masuk ke suatu fase kehidupan itu ada di tangan anda (Pilihan )!!!! Jika anda mengalami kesulitan dalam menjalani salah satu fase kehidupan, bertanyalah kepada orang yang pernah mengalaminya, berbagi akan membuat beban hidup kita menjadi lebih ringan kita.
Sejarah hidup seseorang juga dipengaruhi dari kelompok sosial, baik itu teman sepergaulan maupun lingkungan keluarga. Contoh yang paling mudah dan merupakan pengalaman hidup saya adalah mencari arti hidup. Konon(kok seperti donggeng sebelum tidur ya), ada 3 orang, yang nantinya menjadi sahabat, bertemu dan membicarakan tentang esensi atau inti dari hidup.
Si A dengan latar belakang kedekatan keluarga dan finansial yang mencukupi, lebih mencari inti dari hidup untuk membuat dunia lebih baik, seperti seorang spiritual, jadi sudah tidak terlalu memikirkan materi. Namun dia masih mencari-cari esensi hidup, masih menggali lebih dalam apa tujuan hidup.Hal ini terjadi karena dia belum pernah memiliki teman yang suka dengan asti kehidupan.
Si B dengan latar belakang keluarga yang dapat dibilang lumayan harmonis, dan ekonomi yang cukup, sudah beberapa lama berteman dengan teman-teman yang secara kebetulan mencari arti hidup. Saling berbagi tentang kehidupan dengan teman-temannya. Ia sudah mendapat suatu pegangan tentang apa arti hidup(sebagian, karena kita akan belajar sepanjang hidup kita), dan memilih mengaplikasikan langsung di kehidupan sehari-hari. Dalam hal materi, masih berambisi karena belum merasakan tingkat cukup dari dirinya (salah satu sifat dasar manusia, Tidak Ada Kata Puas).
Sedangkan Si C, dengan latar belakang kelurga yang kurang harmonis, kehidupan ekonomi yang dibawah dari kedua temannya, namun terlebih dahulu mencari arti kehidupan. Didukung oleh lingkungan sepergaulan yang suka dalam menggali dan belajar arti kehidupan. Dia menjadi orang yang pertama kali dari ketiga individu ini dalam mengaplikasikan pelajaran hidup dan arti hidup. Material masih dicarinya, namun dia bisa lebih menerima(legowo) dalam pencariannya, karena ditunjang pengetahuannya tentang arti hidup.
Hanya dari 3 orang, dengan latar belakang yang berdeda secara kedekatan keluarga, ekonomi dan teman pergaulan, mareka telah melewati fase kehidupan yang berbeda, walau secara umur, mereka sama. Si A masih dalam pencarian inti kehidupan, dan lebih bisa menerima dalam hal material. Si B sudah pernah memasuki fase pencarian inti kehidupan, sudah mengaplikasikan, namun belum bisa meninggalkan material. Sedangakan si C sudah pernah mencari inti dari kehidupan, sudah mengaplikasikan, dan sudah bisa menerimanya.
Pada akhirnya, saya hanya bisa mengatakan, semua orang memiliki masalahnya masing-masing. Waktu kapan kita mengalami atau masuk ke suatu fase kehidupan itu ada di tangan anda (Pilihan )!!!! Jika anda mengalami kesulitan dalam menjalani salah satu fase kehidupan, bertanyalah kepada orang yang pernah mengalaminya, berbagi akan membuat beban hidup kita menjadi lebih ringan kita.
Labels:
bumbu,
bumbu kehidupan,
kehidupan,
life,
phase,
phase of life
Saturday, January 24, 2009
Kita dalam mengikuti ................
Saat ini kita akan berbicara tentang pilihan kita dalam mengikuti sesuatu. Sesuatu ini bisa diaplikasikan ke dalam banyak hal, bisa dalam bidang teknologi, fashion, trend(sesuatu yang sifatnya booming/ mewabah secara mendadak atau musiman),dll.
Sebenarnya ada 4 kelompok orang yang mengikuti perkembangan suatu hal. Mereka adalah :
1. Orang yang mengikuti dan membelinya
Orang ini selalu up to date dalam suatu hal. Kita ambil contoh fashion, orang dalam kelompok ini akan mencari tahu apa trend fashoion saat ini, dan akan rela mengeluarkan uang untuk dapat mengikuti tren ini. Selalu tahu berita terkini dan ikut ambil bagian dalam mengikutinya.
2. Orang mengikuti sesuatu dan membeli setelah selang beberapa waktu
Orang ini mengikuti info terbaru, namun karena sesuatu hal, dia hanya akan memposisikan dirinya sebagai penonton untuk beberapa waktu, setelah cukup waktu sebagai penonton, maka dia akan mulai jadi pemain. Ia akan ikut meramaikan trend.
3. Orang mengikuti sesuatu tapi tidak membeli
Ibarat penonton, kelompok ini menjadi penonton setia, dan tidak tertarik untuk ikut dalam permainan, dia hanya kan menjadi penonton, atau mungkin lebih tepat jadi pengamat. Bagaimana menurut anda ?
4. Yang tidak mengikuti perkembangan sama sekali
Kelompok ini adalah kelompok bebek,eh maaf, maksud saya ini adalah kelompok yang cuek(bebek). Mereka tidak mengikuti perkembangan tren yang ada saat ini, mereka asyik dengan kehidupan mereka.
Setelah anda membaca paparan di atas, masuk ke dalam kelompok manakah anda? Mungkin anda akan mendapat jawaban yang berbeda-beda, maksudnya anda mungkin berada di kelompok 1 dalam hal teknologi karena memang suka, dan berada pada peringkat 3 dalam hal fashion karena anda tidak suka bersolek. Itu sah-sah saja, karena kita memang mempunyai pilihan untuk itu, dan berasa nyaman tentu lebih dari segala-galanya.
Sebenarnya ada 4 kelompok orang yang mengikuti perkembangan suatu hal. Mereka adalah :
1. Orang yang mengikuti dan membelinya
Orang ini selalu up to date dalam suatu hal. Kita ambil contoh fashion, orang dalam kelompok ini akan mencari tahu apa trend fashoion saat ini, dan akan rela mengeluarkan uang untuk dapat mengikuti tren ini. Selalu tahu berita terkini dan ikut ambil bagian dalam mengikutinya.
2. Orang mengikuti sesuatu dan membeli setelah selang beberapa waktu
Orang ini mengikuti info terbaru, namun karena sesuatu hal, dia hanya akan memposisikan dirinya sebagai penonton untuk beberapa waktu, setelah cukup waktu sebagai penonton, maka dia akan mulai jadi pemain. Ia akan ikut meramaikan trend.
3. Orang mengikuti sesuatu tapi tidak membeli
Ibarat penonton, kelompok ini menjadi penonton setia, dan tidak tertarik untuk ikut dalam permainan, dia hanya kan menjadi penonton, atau mungkin lebih tepat jadi pengamat. Bagaimana menurut anda ?
4. Yang tidak mengikuti perkembangan sama sekali
Kelompok ini adalah kelompok bebek,eh maaf, maksud saya ini adalah kelompok yang cuek(bebek). Mereka tidak mengikuti perkembangan tren yang ada saat ini, mereka asyik dengan kehidupan mereka.
Setelah anda membaca paparan di atas, masuk ke dalam kelompok manakah anda? Mungkin anda akan mendapat jawaban yang berbeda-beda, maksudnya anda mungkin berada di kelompok 1 dalam hal teknologi karena memang suka, dan berada pada peringkat 3 dalam hal fashion karena anda tidak suka bersolek. Itu sah-sah saja, karena kita memang mempunyai pilihan untuk itu, dan berasa nyaman tentu lebih dari segala-galanya.
Labels:
bumbu,
bumbu kehidupan,
kehidupan,
Kita,
Kita dalam mengikuti,
mengikuti
Subscribe to:
Posts (Atom)