Pertanyaan yang mendasar, namun menjadi mudah-mudah susah dalam menjawabnya. Sebetulnya dapat dibuat mudah, jika anda pasrah dan mengikuti alur dari kehidupan ini, namun menjadi sangat komplek jika kita memiliki ambisi yang besar. Jadi apakah mempunyai ambisi yang besar salah? Tidak, 1000% tidak salah, bahkan orang harus memiliki ambisi untuk dapat berkembang.
Apa yang mejadi tujuan hidup anda? Menjadi orang kaya?menjadi orang terkenal? Apa yang akan anda lakukan jika sudah kaya? Seberapa kaya yang anda inginkan? Apakah setelah kaya anda bahagia? Begitupula jika anda ingin menjadi terkenal,beberapa pertanyaan diatas dapat anda aplikasikan.
Memang tidak dapat dipungkiri, manusia hidup memerlukan materi. Kita perlu materi untuk dapat bertahan hidup, kita perlu materi untuk membeli makanan dan minuman yang menjadi salah satu dari tiga kebutuhan pokok(pangan,papan,sandang). Meski hal ini mungkin dapat anda counter(tidak setuju atas pernyataan saya), bagaimana jika hidup di desa atau hutan, dimana air dan makanam dapat kita ambil dari alam. Memang jika kita tengok ke belakang, Tuhan telah menyediakan semua kebutuhan semua makhluk hidup, namun dengan adanya perkembangan peradaban juga telah berkembang. Apakah kita tidak memerlukan materi? Pasti perlu, namun pertanyaan selanjutnya, sebanyak apa? Sampai cukup? Apa yang menjadi batas cukup anda? Bahagiakah anda?
Kenapa bahagia selalu menjadi pertanyaan terakhir dari saya? Karena menurut saya, bahagia,tentram dan damai menjadi tujuan hidup saya. Bagaimana caranya supaya kita dapat hidup damai? Anda harus dapat menempatkan diri anda, baik dalam keadaan susah, gembira, di masyarakat. Jika ego kita masih besar, kita akan kesusahan dlm menempatkan diri, akan menjadi baik jika kita senantiasa mengembangkan diri dan berani bercermin untuk memperbaiki kesalahan dan tingkah laku kita.
Jika saya ingin melalui kehidupan ini dengan sesuatu yang lebih baik, dengan cara selalu mengembangkan diri namun yang lebih penting hidup harus bahagia dan tentram(meski duka&kecewa mesti kita hadapi karena itulah yang membuat kehidupan menjadi menarik).
Bagaimana dengan anda?apa yang menjadi tujuan hidup anda? Mungkin hari-hari menjelang pergantian tahun dapat anda manfaatkan untuk menemukan hal yang ingin anda lakukan di tahun mendatang.
Saturday, December 26, 2009
Friday, December 25, 2009
MINTA Dimengerti tanpa mau Mengerti
Momennya mungkin sedikit cocok dgn judul diatas, bertepatan dgn hari raya Natal, semoga ide saya menjadi inspirasi untuk mengembangkan diri. Sejatinya, manusia akan merasa bosan dgn kehidupan, karena jika mau dievaluasi, hidup itu ya hanya seperti begitu-begitu saja. Tanpa adanya 'Sandiwara Kehidupan' dan niatan pengembangan diri, bisa dikatakan hidup akan menjadi datar-datar saja. Tidak ada bumbu kehidupan, yg dapat membuat hidup menjadi lebih hidup(losta masta jika dalam bahasa iklan yang sempat populer).
Pengembangan diri untuk topik ini sejatinya untuk menjadikan manusia lebih ingin menjadi subyek(awalan me-), bukan obyek(awalan di-). Lebih nyaman untuk menjadi obyek, namun sampai kapan anda akan menjadi obyek. Maaf, bukannya saya tidak memiliki rasa bangga menjadi orang indonesia, namun banyak orang indonesia yang lebih memilih menjadi obyek, meskipun hal itu tergantung dari tingkat pendidikan, ekonomi, lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar. Menjadi obyek akan menghambat kita maju, bahkan akan menghancurkan kita, contoh kecil dan paling yang dpt kita temui, untuk tahu diri akan hak dan kewajiban dalan mengantri, mereka lebih banyak minta dimengerti daripada mengerti, jika datang belakangan, akan sangat wajar jika dilayani belakangan.
Memang tidak bisa dipungkiri manusia adalah makhluk sosial yang ingin diperhatikan, dimengerti, disayang, dimanja, dan masih banyak lagi di- di- yang lain. Tapi apakah tidak menjadi lebih baik jika anda bisa mengerti,memperhatikan, menyayangi, memanjakan orang lain? Apakah anda tidak mendapat suatu kepuasan tersendiri setelah anda melakukan hal diatas untuk orang lain? Akan menjadi lebih berarti lagi,jika anda melakukannya dengan ikhlas atau tanpa pamrih, karena percayalah kalau karma(hukum tabur tuai) itu ada.
Jadi kapan anda akan memulai menjadi subyek? Kapan anda akan menjadi subyek yang ikhlas?
Pengembangan diri untuk topik ini sejatinya untuk menjadikan manusia lebih ingin menjadi subyek(awalan me-), bukan obyek(awalan di-). Lebih nyaman untuk menjadi obyek, namun sampai kapan anda akan menjadi obyek. Maaf, bukannya saya tidak memiliki rasa bangga menjadi orang indonesia, namun banyak orang indonesia yang lebih memilih menjadi obyek, meskipun hal itu tergantung dari tingkat pendidikan, ekonomi, lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar. Menjadi obyek akan menghambat kita maju, bahkan akan menghancurkan kita, contoh kecil dan paling yang dpt kita temui, untuk tahu diri akan hak dan kewajiban dalan mengantri, mereka lebih banyak minta dimengerti daripada mengerti, jika datang belakangan, akan sangat wajar jika dilayani belakangan.
Memang tidak bisa dipungkiri manusia adalah makhluk sosial yang ingin diperhatikan, dimengerti, disayang, dimanja, dan masih banyak lagi di- di- yang lain. Tapi apakah tidak menjadi lebih baik jika anda bisa mengerti,memperhatikan, menyayangi, memanjakan orang lain? Apakah anda tidak mendapat suatu kepuasan tersendiri setelah anda melakukan hal diatas untuk orang lain? Akan menjadi lebih berarti lagi,jika anda melakukannya dengan ikhlas atau tanpa pamrih, karena percayalah kalau karma(hukum tabur tuai) itu ada.
Jadi kapan anda akan memulai menjadi subyek? Kapan anda akan menjadi subyek yang ikhlas?
Sunday, December 20, 2009
EVOLUSI dari Karyawan menjadi ENTREPENUER
Wiraswasta menjadi wabah yang sangat dahsyat,dan semoga ini berdampak positif. Entah karena kebutuhan untuk mengembangkan diri, keterhimpitan di bidang ekonomi atau efek dari para pembicara di bidang ekonomi. Namun apapun yang menyebabkan 'wiraswasta' menjadi naik daun,perlu kita APRESIASI dan kita WASPADAI. Kita apresiasi karena dengan banyaknya wiraswasta baik itu dalam skala besar atau kecil maka keadaan ekonomi mikro kita akan menjadi semakin kuat. Dan sebaliknya kita juga tetap harus waspadai dampak buruk atas mewabahnya wiraswasta baru.
Bukannya saya tidak suka atau setuju dengan banyaknya wiraswasta baru (meski itu menjadi titik perhatian baru bagi saya supaya usaha saya tetap bertahan meski banyak wiraswasta baru/ pesaing yang muncul ), namun ini akan memiliki dampak dalam bebagai aspek kehidupan , JIKA mereka belum siap menjadi wiraswasta. Akan banyak kredit macet jika mereka menggunakan pinjaman dalam membangun usaha. Keluarga yang berantakan karena gagalnya seorang kepala keluarga dalam membangun usahanya. Dan masih banyak cerita tragis dan bisa berdampak luas karena kegagalan dalam membangun usahanya.
Banyak kenalan saya bermimpi untuk menjadi wiraswata dan ingin meninggalkan pekerjaan mereka sebagai karyawan, namun 70% dari mereka,hanya berharap penghasilan yang besar dalam waktu yang cepat. Jika anda pernah membaca artikel saya yang membahas tentang 'instan', itulah jiwa mereka. Menjadi wiraswasta yang sukses tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang harus diperhatikan.
Satu hal yang pasti, anda tidak akan memperoleh hasil yang banyak dalam waktu yang cepat. Hal yang paling mudah untuk mendapatkan pendapatan yang besar dalam waktu cepat dalam berdagang adalah anda harus bisa mendapat supplier dengan harga terendah dan bisa mendapat customer dengan kuantitas pengambilan banyak dengan margin sedikit atau customer dengan kuantitas pengambilan sedikit namun margin tinggi. Untuk mendapat supplier dengan harga murah, itu bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami, ada berapa pemain lama dan besar di bidang yang akan kamu geluti. Jikalau nasib anda baik, dengan tempo yang singkat anda bisa mengetahui distributor daerah, apakah dengan begitu masalah selesai? Tentu saja belum saudara, jangan anda bemimpi mendapat harga termurah dengan mengetahui siapa yang menjadi distributor suatu barang, belum tentu anda mendapat harga terendah, karena kapasitas pengambilan anda belum sesuai dengan standar mereka.
Untuk menjadi wiraswasta anda juga harus yakin dan mengatahui dengan pasti dengan apa yang anda jual. Jual disini bisa saja suatu barang atau jasa, yang menjadi lebih penting adalah anda mengetahui dengan pasti barang yang akan anda jual. Setelah itu mari kita sedikit masuk ke ilmu ekonomi (maaf ini saya bahas berdasar pengalaman , karena sebenarnya saya bergelar S.KOM). Dasar dari wiaswasta adalah menjual, anda haus menentukan target market anda, entah itu berdasar usia konsumen, keuangan konsumen, usia konsumen, demografi ,dll. Tentukan nilai lebih barang anda disbanding dengan produk dari kompetitor anda, ini yang akan menjadi nilai jual produk anda dan sekaligus memudahkan anda dalam menentukan taget market.
Apa setelah anda membaca tulisan anda, anda sudah berangapan hal ini sudah terlalu banyak? Jika ya, sebaiknya anda untuk sementara waktu jangan berpindah pofesi menjadi wiraswasta. Hal diatas bisa saya kategorikan menjadi awal untuk menjadi wiraswasta. Yang menjadi penting dan krusial, setelah anda bekerja seharian di kantor anda tetap harus memeras keringat untuk meraih harapan menjadi wiraswasta. Anda harus melakukan suvey untuk dapat memetakkan kompetitor anda, anda harus mencari supplier(jika berdagang). CAPEK!!!!! Ya iya, mana ada perintisan yang tidak melelahkan, mungkin akan menjadi sedikit lebih ringan, jika nasib baik menghampiri anda. Namun saran saya, jangan tinggalkan profesi anda sebelum usaha anda berkembang dan hal yang lebih penting, pendapatan anda belum bisa menyamai dengan gaji anda. Kita tidak bisa munafik, yang menjadi tujuan utama kita untuk menjadi wiraswasta adalah keuangan bukan. Atau anda juga dapat memutuskan untuk memulai menjadi wiraswasta jika sudah ada perkembangan yang signifikan dan potensi untuk berkembangnya usaha anda meski secara finansial belum sama dengan pendapatan anda sebagai karyawan, namun awalannya sudah terlihat. Untuk kasus ini tentu butuh waktu dan tenaga lebih untuk mencapai tujuan anda.
Jadi sudah siapkah anda menjadi wiraswasta yang sukses????
Bukannya saya tidak suka atau setuju dengan banyaknya wiraswasta baru (meski itu menjadi titik perhatian baru bagi saya supaya usaha saya tetap bertahan meski banyak wiraswasta baru/ pesaing yang muncul ), namun ini akan memiliki dampak dalam bebagai aspek kehidupan , JIKA mereka belum siap menjadi wiraswasta. Akan banyak kredit macet jika mereka menggunakan pinjaman dalam membangun usaha. Keluarga yang berantakan karena gagalnya seorang kepala keluarga dalam membangun usahanya. Dan masih banyak cerita tragis dan bisa berdampak luas karena kegagalan dalam membangun usahanya.
Banyak kenalan saya bermimpi untuk menjadi wiraswata dan ingin meninggalkan pekerjaan mereka sebagai karyawan, namun 70% dari mereka,hanya berharap penghasilan yang besar dalam waktu yang cepat. Jika anda pernah membaca artikel saya yang membahas tentang 'instan', itulah jiwa mereka. Menjadi wiraswasta yang sukses tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang harus diperhatikan.
Satu hal yang pasti, anda tidak akan memperoleh hasil yang banyak dalam waktu yang cepat. Hal yang paling mudah untuk mendapatkan pendapatan yang besar dalam waktu cepat dalam berdagang adalah anda harus bisa mendapat supplier dengan harga terendah dan bisa mendapat customer dengan kuantitas pengambilan banyak dengan margin sedikit atau customer dengan kuantitas pengambilan sedikit namun margin tinggi. Untuk mendapat supplier dengan harga murah, itu bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami, ada berapa pemain lama dan besar di bidang yang akan kamu geluti. Jikalau nasib anda baik, dengan tempo yang singkat anda bisa mengetahui distributor daerah, apakah dengan begitu masalah selesai? Tentu saja belum saudara, jangan anda bemimpi mendapat harga termurah dengan mengetahui siapa yang menjadi distributor suatu barang, belum tentu anda mendapat harga terendah, karena kapasitas pengambilan anda belum sesuai dengan standar mereka.
Untuk menjadi wiraswasta anda juga harus yakin dan mengatahui dengan pasti dengan apa yang anda jual. Jual disini bisa saja suatu barang atau jasa, yang menjadi lebih penting adalah anda mengetahui dengan pasti barang yang akan anda jual. Setelah itu mari kita sedikit masuk ke ilmu ekonomi (maaf ini saya bahas berdasar pengalaman , karena sebenarnya saya bergelar S.KOM). Dasar dari wiaswasta adalah menjual, anda haus menentukan target market anda, entah itu berdasar usia konsumen, keuangan konsumen, usia konsumen, demografi ,dll. Tentukan nilai lebih barang anda disbanding dengan produk dari kompetitor anda, ini yang akan menjadi nilai jual produk anda dan sekaligus memudahkan anda dalam menentukan taget market.
Apa setelah anda membaca tulisan anda, anda sudah berangapan hal ini sudah terlalu banyak? Jika ya, sebaiknya anda untuk sementara waktu jangan berpindah pofesi menjadi wiraswasta. Hal diatas bisa saya kategorikan menjadi awal untuk menjadi wiraswasta. Yang menjadi penting dan krusial, setelah anda bekerja seharian di kantor anda tetap harus memeras keringat untuk meraih harapan menjadi wiraswasta. Anda harus melakukan suvey untuk dapat memetakkan kompetitor anda, anda harus mencari supplier(jika berdagang). CAPEK!!!!! Ya iya, mana ada perintisan yang tidak melelahkan, mungkin akan menjadi sedikit lebih ringan, jika nasib baik menghampiri anda. Namun saran saya, jangan tinggalkan profesi anda sebelum usaha anda berkembang dan hal yang lebih penting, pendapatan anda belum bisa menyamai dengan gaji anda. Kita tidak bisa munafik, yang menjadi tujuan utama kita untuk menjadi wiraswasta adalah keuangan bukan. Atau anda juga dapat memutuskan untuk memulai menjadi wiraswasta jika sudah ada perkembangan yang signifikan dan potensi untuk berkembangnya usaha anda meski secara finansial belum sama dengan pendapatan anda sebagai karyawan, namun awalannya sudah terlihat. Untuk kasus ini tentu butuh waktu dan tenaga lebih untuk mencapai tujuan anda.
Jadi sudah siapkah anda menjadi wiraswasta yang sukses????
Labels:
entrepenuer,
karyawan,
menjadi wiraswasta,
wiraswasta
Friday, April 17, 2009
Go With The Flow
Bahasa gaulnya 'ikuti saja arusnya', ini hasil nyontek dari seorang teman yang pernah tinggal di luar negeri. Di sini saya akan berbagi tentang pengalaman saya tentang pekerjaan(mungkin ini hanya contoh kecil dan kebetulan mengenai pekerjaan).
Setelah saya keluar dari pekerjaan saya(sebagai pegawai suatu perusahaan), ada tawaran dari orang tua untuk membantu dan nantinya melanjutkan usahanya.Di satu sisi ini tawaran yang menggiurkan , dimana banyak orang kebinggungan untuk mencari pekerjaan, binggung akan memulai usaha karena terbentur berbagai hal(modal, keahlian, dll). Di sisi lain , sebagai orang muda(setengah tua juga seh,29) dan belum mempunyai tanggungan (keluarga), jiwa muda saya bergolak. Kata hati atau ego (saya kurang bisa membedakannya) saya bekata, 'Masa hanya melanjutkan usaha orang tua, tidak mampukan saya membangun usaha sendiri? Bukankah jika berhasil saya akan merasa lebih bangga?'
Ada peluang usaha yang lain, ini kebetulan berasal dari keahlian dan tidak membutuhkan modal banyak, programmer. Itu disebabkan karena background pendidikan saya Sarjana Komputer Teknologi informatika dari STTS. Saya sudah menghindari profesi yang satu ini, karena saya tidak tahan dengan keuntungan menjadi seorang programmer(aneh, keuntungan tapi kok ndak suka :( ). Keuntungan dari programmer, menurut pengalaman saya, anda akan dipakai atau dipanggil sewaktu-waktu jika ada pengembangan sistem dari perusahaan yang pernah anda tangani. Tapi hal ini menurut saya menganggu, karena saya ada rencana atau kegiatan lain.
Dan hal yang aneh, setelah 2 bulan saya berkutat dengan usaha untuk melepaskan diri dari kedua pekerjaan tadi, hal yang terjadi malah sebaliknya, saya dalam proses pengajuan tender konveksi , dan tiba-tiba teman saya telepon untuk membuatkan sistem untuk perusahaannya.
Yang saya tangkap, semakin saya menghindar, semakin saya dipaksa untuk masuk ke dalam hal yang saya hindari. Bagaimana dengan anda? Ada masukkan dari teman saya, hidup itu ada siklusnya, dimana anda dipaksa untuk mengikuti arus, dan meninggalkannya, hal ini akan saya cermati.
Setelah saya keluar dari pekerjaan saya(sebagai pegawai suatu perusahaan), ada tawaran dari orang tua untuk membantu dan nantinya melanjutkan usahanya.Di satu sisi ini tawaran yang menggiurkan , dimana banyak orang kebinggungan untuk mencari pekerjaan, binggung akan memulai usaha karena terbentur berbagai hal(modal, keahlian, dll). Di sisi lain , sebagai orang muda(setengah tua juga seh,29) dan belum mempunyai tanggungan (keluarga), jiwa muda saya bergolak. Kata hati atau ego (saya kurang bisa membedakannya) saya bekata, 'Masa hanya melanjutkan usaha orang tua, tidak mampukan saya membangun usaha sendiri? Bukankah jika berhasil saya akan merasa lebih bangga?'
Ada peluang usaha yang lain, ini kebetulan berasal dari keahlian dan tidak membutuhkan modal banyak, programmer. Itu disebabkan karena background pendidikan saya Sarjana Komputer Teknologi informatika dari STTS. Saya sudah menghindari profesi yang satu ini, karena saya tidak tahan dengan keuntungan menjadi seorang programmer(aneh, keuntungan tapi kok ndak suka :( ). Keuntungan dari programmer, menurut pengalaman saya, anda akan dipakai atau dipanggil sewaktu-waktu jika ada pengembangan sistem dari perusahaan yang pernah anda tangani. Tapi hal ini menurut saya menganggu, karena saya ada rencana atau kegiatan lain.
Dan hal yang aneh, setelah 2 bulan saya berkutat dengan usaha untuk melepaskan diri dari kedua pekerjaan tadi, hal yang terjadi malah sebaliknya, saya dalam proses pengajuan tender konveksi , dan tiba-tiba teman saya telepon untuk membuatkan sistem untuk perusahaannya.
Yang saya tangkap, semakin saya menghindar, semakin saya dipaksa untuk masuk ke dalam hal yang saya hindari. Bagaimana dengan anda? Ada masukkan dari teman saya, hidup itu ada siklusnya, dimana anda dipaksa untuk mengikuti arus, dan meninggalkannya, hal ini akan saya cermati.
Labels:
arus,
bumbu,
bumbu kehidupan,
kehidupan,
menghindari,
pekerjaan,
siklus
Tuesday, March 17, 2009
Passive Income ? Bullshit!!!!! (If you want get maximal)
Kasar dan brutal ya? Tapi ini kenyataannya, saya menghargai buku dari Pak Robert T Kiyosaki(Rich Dad Poor Dad), dibukunya terdapat beberapa wacana baru tentang usaha dan pendapatan, tapi saya tidak setuju dengan anggapan passive income, dengan catatan seperti yang saya tulis di atas 'Jika anda ingin hasil yang maksimal'.
Tidak ada di dunia ini anda bisa mendapatkan uang sedangkan anda tidur-tiduran. Ongkang-ongkang kaki tapi dapat uang. Jika anda berinvestasi (biarkan uang yang bekerja untuk anda :p ), adalah benar adanya anda mendapat kelebihan 'value' atau keuntungan tanpa bekerja. Disini kita bisa contohkan berupa emas, harga saham, atau property. Vaaluenya naik? Tentu, tapi apa anda sadar, harga kebutuhan pokok juga naik? Untungkah? Yap, anda mendapat untung, dan sangat besar jika dibandingkan dengan bunga bank, bahkan mungkin lebih besar dari bunga deposito. Tapi tunggu dulu, ulasan semua ini hanya berlaku jika keadaan ekonominya normal, atau tidak ada krisis seperti yang sekarang terjadi(akhir 2008 - awal 2009).
Nah apa jadinya jika anda hanya ongkang-ongkang kaki, tidur-tiduran, nonton tv atau apalah yang menjadi hobby anda dalam membuang waktu, apakah nilai value anda bertambah? Wah bisa-bisa kalau anda membuka telinga untuk mendengar berita, anda bisa kena serangan jantung ( ihhh, amit-amit, omongannya jelek banget, dari tadi kok ndak ada bagus-bagusnya, sekali-kali ambil dari sudut pandang positif donk :) ). Ya maaf kalau apa yang saya tulis terlalu jujur. Tujuan saya hanya mau mengatakan, jika anda ingin mendapat hasil yang anda harapkan(mungkin tidak sampai ke batas maksimal) anda harus sering membuka telinga, baca berita.
Point dari judul yang saya pilih, masihkah ada passive income? Tidak, semua butuh waktu untuk mendapatkan hasil yang anda harapkan. Bagaimana kalau MLM, bukankah JIKA downline saya bekerja saya mendapat passive income? Jika anda tidap SUPPORT downline anda, apakah anda mendapatkan hasil yang anda harapkan??? Mustahil jawaban saya. Saham, Property dan emas, bukankah valuenya naik terus?? Ya, tapai bagaimana saat menghadapi krisi seperti sekrang ini, saham rontok, property tumbang, emas membumbung tinggi ( nah ada kan passive income), eitt tunggu dulu, coba anda cek, apakah kebutuhan belanja anda tidak bertambah banyak?? Inflasi teman, kita juga dilanda inflasi. Value yang anda dapat mungkin hanya lebih besar dari bunga bank, tapi anda juga harus hati-hati, kalau anda tidak membuka telingga bisa-bisa anda masuk ke jurang 'tumbang' dan 'rontok' seperti saham dan property.
Kerja apapun itu pasti membutuhkan waktu untuk memantaunya. Setujukah anda akan hal ini? Maaf jika akhir-akhir ini banyak tulisan saya dengan judul kebarat-baratan, bukannya saya tidak cinta indonesia atau tergerus dengan gelombang budaya barat, namun saya bercita-cita untuk membagikan ide-ide yang saya tulis kepada orang asing, namun keterbasanlah bahasa inggris dan pengetahuan budaya barat yang menghalanginya :).
Tidak ada di dunia ini anda bisa mendapatkan uang sedangkan anda tidur-tiduran. Ongkang-ongkang kaki tapi dapat uang. Jika anda berinvestasi (biarkan uang yang bekerja untuk anda :p ), adalah benar adanya anda mendapat kelebihan 'value' atau keuntungan tanpa bekerja. Disini kita bisa contohkan berupa emas, harga saham, atau property. Vaaluenya naik? Tentu, tapi apa anda sadar, harga kebutuhan pokok juga naik? Untungkah? Yap, anda mendapat untung, dan sangat besar jika dibandingkan dengan bunga bank, bahkan mungkin lebih besar dari bunga deposito. Tapi tunggu dulu, ulasan semua ini hanya berlaku jika keadaan ekonominya normal, atau tidak ada krisis seperti yang sekarang terjadi(akhir 2008 - awal 2009).
Nah apa jadinya jika anda hanya ongkang-ongkang kaki, tidur-tiduran, nonton tv atau apalah yang menjadi hobby anda dalam membuang waktu, apakah nilai value anda bertambah? Wah bisa-bisa kalau anda membuka telinga untuk mendengar berita, anda bisa kena serangan jantung ( ihhh, amit-amit, omongannya jelek banget, dari tadi kok ndak ada bagus-bagusnya, sekali-kali ambil dari sudut pandang positif donk :) ). Ya maaf kalau apa yang saya tulis terlalu jujur. Tujuan saya hanya mau mengatakan, jika anda ingin mendapat hasil yang anda harapkan(mungkin tidak sampai ke batas maksimal) anda harus sering membuka telinga, baca berita.
Point dari judul yang saya pilih, masihkah ada passive income? Tidak, semua butuh waktu untuk mendapatkan hasil yang anda harapkan. Bagaimana kalau MLM, bukankah JIKA downline saya bekerja saya mendapat passive income? Jika anda tidap SUPPORT downline anda, apakah anda mendapatkan hasil yang anda harapkan??? Mustahil jawaban saya. Saham, Property dan emas, bukankah valuenya naik terus?? Ya, tapai bagaimana saat menghadapi krisi seperti sekrang ini, saham rontok, property tumbang, emas membumbung tinggi ( nah ada kan passive income), eitt tunggu dulu, coba anda cek, apakah kebutuhan belanja anda tidak bertambah banyak?? Inflasi teman, kita juga dilanda inflasi. Value yang anda dapat mungkin hanya lebih besar dari bunga bank, tapi anda juga harus hati-hati, kalau anda tidak membuka telingga bisa-bisa anda masuk ke jurang 'tumbang' dan 'rontok' seperti saham dan property.
Kerja apapun itu pasti membutuhkan waktu untuk memantaunya. Setujukah anda akan hal ini? Maaf jika akhir-akhir ini banyak tulisan saya dengan judul kebarat-baratan, bukannya saya tidak cinta indonesia atau tergerus dengan gelombang budaya barat, namun saya bercita-cita untuk membagikan ide-ide yang saya tulis kepada orang asing, namun keterbasanlah bahasa inggris dan pengetahuan budaya barat yang menghalanginya :).
Sunday, March 1, 2009
Cuek (sometimes) is the best
Yaaaa...., mana ada orang yang mau bergaul dengan orang cuek? Ngselin! Inilah mayoritas pandangan kita dengan kata 'cuek' atau tidak mau tau(tentang keadaan atau sekitarnya). Memang asumsi kita akan selalu negatif dengan kata 'cuek'(maaf jika sebagian orang tidak sependapat dengan saya)
Sikap yang mungkin tidak menyenangkan di kehidupan sosial. Namun akan menjadi perlu juga kita terapkan di kehidupan sosial. Lohhh, kok perlu? Iya, akan menjadi perlu untuk orang yang suka bermain perasaan.
Coba kita ambil contoh kasus pertemanan. Pada umumnya, kita akan keluar dengan kelompok orang yang sama (mungkin bisa seperti semacam group). dan jika pada suatu ketika, semua kelompok group itu akan keluar untuk makan dan mereka lupa untuk memberitahu si A (kita sebut saja begitu, dengan catatan si A ini tipe orang yang lebih memakai perasaan daripada logika). Entah itu disengaja ataupun tidak (dan sebenarnya tidak ada hukum tertulis untuk memberitahu semua anggota group mengenai kegiatan yang akan dilakukan). Suatu hari si A mengetahui acara tersebut dan sedih dengan keadaan ini, merenung, intropeksi diri dll(mungkin sampe menangis, maaf kalau pembaca mengalami hal yang sama). Dan mulai ada beberapa pertanyaan yang muncul di benaknya 'apakah saya kurang diterima di grup itu? Apakah saya sudah dilupakan oleh teman-teman saya? ' dan masih banyak pertanyaan yang muncul dan semuanya membuat si A menjadi minder.
Jika si A tidak memiliki sedikit rasa cuek, dia bisa-bisa terkena depresi (hiiii...,mengerikan amat). Jika saya jadi si A, saya akan berpikiran, mungkin mereka kelupaan memberitahu saya, mereka tidak akan mau bergaul dengan saya jika memang mereka tidak suka dengan saya. Jadi kalau anda tidak dikabari, ya anda yang konta mereka. Kalau ada pandangan wah, anda hanya mengontak kami jika anda butuh! Ya memang, karena memang itulah teman, ada di saat butuh, dan bersiaplah menolong jika ada teman juga membutuhkan bantuan anda.
Jadi apa cuek itu selalu negatif? TIDAK, jika anda mengunakan dengan porsi yang tepat, setau saya, semua jika kita gunakan secara tepat akan menjadi baik hasilnya. Bagaimana contohnya ? Saya tidak bisa menjawab, karena itu bergantung kepada pribadi masing-masing, tapi saya juga sedang belajar tentang kehidupan yang begitu INDAH.
Sikap yang mungkin tidak menyenangkan di kehidupan sosial. Namun akan menjadi perlu juga kita terapkan di kehidupan sosial. Lohhh, kok perlu? Iya, akan menjadi perlu untuk orang yang suka bermain perasaan.
Coba kita ambil contoh kasus pertemanan. Pada umumnya, kita akan keluar dengan kelompok orang yang sama (mungkin bisa seperti semacam group). dan jika pada suatu ketika, semua kelompok group itu akan keluar untuk makan dan mereka lupa untuk memberitahu si A (kita sebut saja begitu, dengan catatan si A ini tipe orang yang lebih memakai perasaan daripada logika). Entah itu disengaja ataupun tidak (dan sebenarnya tidak ada hukum tertulis untuk memberitahu semua anggota group mengenai kegiatan yang akan dilakukan). Suatu hari si A mengetahui acara tersebut dan sedih dengan keadaan ini, merenung, intropeksi diri dll(mungkin sampe menangis, maaf kalau pembaca mengalami hal yang sama). Dan mulai ada beberapa pertanyaan yang muncul di benaknya 'apakah saya kurang diterima di grup itu? Apakah saya sudah dilupakan oleh teman-teman saya? ' dan masih banyak pertanyaan yang muncul dan semuanya membuat si A menjadi minder.
Jika si A tidak memiliki sedikit rasa cuek, dia bisa-bisa terkena depresi (hiiii...,mengerikan amat). Jika saya jadi si A, saya akan berpikiran, mungkin mereka kelupaan memberitahu saya, mereka tidak akan mau bergaul dengan saya jika memang mereka tidak suka dengan saya. Jadi kalau anda tidak dikabari, ya anda yang konta mereka. Kalau ada pandangan wah, anda hanya mengontak kami jika anda butuh! Ya memang, karena memang itulah teman, ada di saat butuh, dan bersiaplah menolong jika ada teman juga membutuhkan bantuan anda.
Jadi apa cuek itu selalu negatif? TIDAK, jika anda mengunakan dengan porsi yang tepat, setau saya, semua jika kita gunakan secara tepat akan menjadi baik hasilnya. Bagaimana contohnya ? Saya tidak bisa menjawab, karena itu bergantung kepada pribadi masing-masing, tapi saya juga sedang belajar tentang kehidupan yang begitu INDAH.
Labels:
best,
bumbu,
bumbu kehidupan,
cuek,
is,
kehidupan,
sometimes,
the,
the best cuek is the best
Pembenaran Diri (pendukung)
Sudah menjadi sifat manusia untuk mencari pembenaran diri atas keputusan yang diambil maupun atas prinsip yang menjadi pegangan hidupnya. Hal ini bukan sesuatu yang aneh, dan sangat wajar adanya, karena manusia akan menjadi lebih lega jikalau ada orang yang mempunyai pendapat yang sama atas prinsip hidup atau kesamaan pandangan atas keputusan yang diambilnya. Saya yakin anda yang membaca ini, juga pernah mengalaminya.
Jika kita bertukar pendapat dengan teman ataupun orang lain atas keputusan yang telah kita ambil atau prinsip hidup kita, dan jika jawaban orang itu sama dengan pendapat kita, tentu kita mendapat ke-LEGA-an. Hendaknya anda jangan terlena dengan kesamaan pendapat ata pandangan dengan orang lain. Anda harus tetap berkaca, dan terus belajar untuk mengetahui apakah anda benar atau salah.
Namun apakah kelagaan itu yang kita cari? Jika pendapat orang itu berbeda dengan kita, tentu ke_KECEWA-an yang kita dapat. Menurut saya, sebenarnya orang tidak perlu tidak percaya diri (PD) atas perbedaan pandangan atau prinsip dengan orang lain. Karena orang diciptakan unik dan diberi akal budi. Unik, ya memang manusia diciptakan unik, dan ada kemungkinan perbedaan pandangan dan keyakinan, karena hal itulah sebenarnnya perbedaan padangan ataupun prinsip adalah wajar. Bagaimana jika prinsip saya salah? atau pandangan saya salah? Ya, mana ada orang yang tidak pernah salah, hal itu wajar, dan dapat dimaklumi, tapi alangkah baiknya jika anda berusaha untuk memperbaikinya. Namun saya juga mempunyai suatu masalah untuk merumuskan apa itu 'benar' dan apa itu 'salah'. Bukankah masing-masing individu akan memiliki jawaban yang berbeda untuk kasus yang sama, bukankah 'benar' dan 'salah' menjadi sesuatu yang kasusistis?
Jadi jika anda sudah mengambil keputusan(seperti tulisan saya yang berjuul'PILIHAN'), maka bertanggung jawablah akan keputusan anda, dan tanggung lah segala konsekuensinya(bisa juga diartikan 'Kompensasi' seperti tulisan saya sebelumnya, maaf setengah beriklan :) ). Jika sudah benar(menurut anda) maka lanjutkanlah, jika salah(menurut anda juga) maka beranilah untuk mengakui dan segera perbaiki.
Sulit???? Memang sulit, karena berani untuk mengakui itu sudah membutuhkan keberanian yang besar, kadang anda harus merendahkan harga diri anda, namun itu anda butuhkan jika ingin berkembang.
Apakah anda ingin berkembang? Berusahalah karena hidup ini penuh pembelajaran.
Jika kita bertukar pendapat dengan teman ataupun orang lain atas keputusan yang telah kita ambil atau prinsip hidup kita, dan jika jawaban orang itu sama dengan pendapat kita, tentu kita mendapat ke-LEGA-an. Hendaknya anda jangan terlena dengan kesamaan pendapat ata pandangan dengan orang lain. Anda harus tetap berkaca, dan terus belajar untuk mengetahui apakah anda benar atau salah.
Namun apakah kelagaan itu yang kita cari? Jika pendapat orang itu berbeda dengan kita, tentu ke_KECEWA-an yang kita dapat. Menurut saya, sebenarnya orang tidak perlu tidak percaya diri (PD) atas perbedaan pandangan atau prinsip dengan orang lain. Karena orang diciptakan unik dan diberi akal budi. Unik, ya memang manusia diciptakan unik, dan ada kemungkinan perbedaan pandangan dan keyakinan, karena hal itulah sebenarnnya perbedaan padangan ataupun prinsip adalah wajar. Bagaimana jika prinsip saya salah? atau pandangan saya salah? Ya, mana ada orang yang tidak pernah salah, hal itu wajar, dan dapat dimaklumi, tapi alangkah baiknya jika anda berusaha untuk memperbaikinya. Namun saya juga mempunyai suatu masalah untuk merumuskan apa itu 'benar' dan apa itu 'salah'. Bukankah masing-masing individu akan memiliki jawaban yang berbeda untuk kasus yang sama, bukankah 'benar' dan 'salah' menjadi sesuatu yang kasusistis?
Jadi jika anda sudah mengambil keputusan(seperti tulisan saya yang berjuul'PILIHAN'), maka bertanggung jawablah akan keputusan anda, dan tanggung lah segala konsekuensinya(bisa juga diartikan 'Kompensasi' seperti tulisan saya sebelumnya, maaf setengah beriklan :) ). Jika sudah benar(menurut anda) maka lanjutkanlah, jika salah(menurut anda juga) maka beranilah untuk mengakui dan segera perbaiki.
Sulit???? Memang sulit, karena berani untuk mengakui itu sudah membutuhkan keberanian yang besar, kadang anda harus merendahkan harga diri anda, namun itu anda butuhkan jika ingin berkembang.
Apakah anda ingin berkembang? Berusahalah karena hidup ini penuh pembelajaran.
Labels:
benar,
bumbu,
bumbu kehidupan,
diri,
dukung,
dukungan,
kehidupan,
pembenaran,
pembenaran diri
Subscribe to:
Posts (Atom)