Friday, February 8, 2019

Budidaya LAT ( Lobster Air Tawar)

Budidaya LAT ( Lobster Air Tawar)
Dalam tulisan ini....coba berbagi pengalaman untuk Budidaya LAT ( Lobster Air Tawar)
Masalah yang biasa menjadi pertanyaan awal oleh orabg yang ingin mulai Budidaya LAT ( Lobster Air Tawar) akan coba dijabarkan di tulisan ini.

Apa yang dapat dijadikan pakan dalam Budidaya LAT ( Lobster Air Tawar)?
Karena LAT adalah hewan omnivora ...maka semua bisa dijadikan pakan si LAT, dengan syarat bahan pakan tenggelam di dalam air,karena LAT termasuk hewan di dasar air . Di kolam yg digunakan Ketela (harga 4.000-5.000/kg ) Kedelai ( harga 6.000- 8.000/kg ) Kacang hijau ( harga 15.000-24.000/kg) Putihan telur rebus Cacing sutra ( untuk bibit LAT yang baru menetas ) Cacing tanah (45.000-55.000/kg) Pelet tenggelam ( 18.000-22.000/kg) Jagung Kentang
Harga disusaikan dengan lokasi , banyaknya pembelian dan waktu pembelian, harga diatas adalah acuan harga bulan januari 2019 Selain itu bisa juga digunakan limbah sayur rumah tangga untuk menekan harga pakan . Semua jenis pakan ada konsekuensinya dalam percepatan pertumbukan LAT.

Lingkungan hidup LAT
LAT bisa mengambil oksigen dari air dan udara , jadi untuk lebih amannya air hanya pendek, kira-kira 5cm - 20cm ( semakin tinggi air semakin sedikit kandungan oksigen di dalam air ). Kenapa permukaan air pendek? Karena LAT mampu mengambil oksigen dari udara bebas, jika oksigen terlarut dalam air menipis LAT bisa naik ke permukaan untuk mengambil asupan oksigen. Tentunya kebutuha dan pengaturan tiap kolam akan berbeda - beda. Ada kolam yang menggunakan aerator atau pompa filter, kedua alat ini bisa diandalkan untuk asupan oksigen terlarut di dalam air kolam atau akuarium .Bagaimana jika tidak memakai alat elektronik dalam pembudidayaan LAT ? Hal ini sangat mungkin dilakukan, dengan menjaga kualitas air, dan mengganti air secara berkala ( sekalian membuang kotoran untuk menghindari kadar amoniak tinggi dari kotoran dan sisa pakan).
Untuk siklus hidup LAT akan mengalami moulting( ganti kulit) jika tumbuh besar, pada saat moulting ini adalah waktu yang krusial bagi LAT karena LAT tidak mempunyai kulit yang keras dan bisa menjadi target ( LAT adakalah hewan kanibal) temannya. Untuk mengurangi resiko kematian pada saat moulting bisa dengan cara memberikan tempat sembunyi. Tempat sembunyi bisa memakai beberapa media, bisa dengan potongan paralon, loster tanah liat( lubang angin) dan yang paling murah bisa menggunakan tali rafia. Pada saat moulting LAT juga membutuhkan asupan oksigen yang mencukupi.
Air yang dapat digunakan untuk Budidaya LAT ( Lobster Air Tawar) adalah air hujan dan air sumur. Air PDAM bisa digunakan setelah didiamkan selama 1 -2 hari, air PDAM diusakan didiamkan dahulunkarena mengandung bahan kimia yang tinggi .

Siklus hidup LAT
LAT dewasa di kolam perkawinan kira-kira membutuhkan waktu sebulan untuk dapat bertelor. Setelah bertelor( indukan gendong telur) membutuhkan waktu kira-kira sebulan dalam menetaskan benih LAT. Benih LAT akan terlepas dari badan induk betina, setelah itu induk betina di pindah ke kolam perkawinan.
Bibit LAT setelah terlepas sari induknya akan mencapai ukuran 1inc ( 2,5cm ) setelah 1 bulan, dan mencapai 2inch (5cm) setalah 2 bulan. Untuk mencapai ukuran konsumsi ( 10-25 ekor /kg ) dibutuhkan waktu 5-6 bulan. #LAT #BUDIDAYA

Monday, December 29, 2014

efek domino terbakarnya pusat

Sebuah pasar tradisonal di kota solo.....yang sudah terkenal dengan pusat grosir untuk tekstil terbakar pada hari sabtu , 27 desember 2014. Hal yang mengejutkan banyak pihak, termasuk saya. Pada malam itu saya sedang bersama anak dan istri di rumah....semari bermain dengan anak...kebetulan istri membuka smartphone dan istri memberitahu berita yang mengejutkan.....berita akan kebakaran pasar klewer di terima dari media sosial. Tepatnya pukul 20.00 waktu itu, karena mata pencaharian saya dan orang tua saya fibtempat itu.....segera sepeda motor buatan tahun 97 menemani saya ke tempat kejadian. Disini saya tidak akan banyak membahas mengenai kronologi kejadian dari menit ke menit....tapi lebih kepada efek domino uang terjadi setelah musibah itu. Saya melalukan usaha di los A1xx....dimana kita tahu pasar klewer ada 8 blok huruf abjad....A,B,C,D,E,F,G,H. Dimana untuk abjad A,B,C,D adalah blok kios ditengah dan sisanya mengitari blok yang di tengah. Berarti untuk lantai satu ada 400 kios lebih dan lantai dua( dengan dobel abjad , misal AA,BB,CC,dst). Ini berarti ada sekitar 1000 kios. Dengan peristiwa terbakarnya pusat bianis di solo ini...dengan asumsi tiap kios ada pemilik usaha dan seorang karyawan....sudah jelas ada 2000 orang yang untuk sementara 'menjadi pengangguran'. Selain pemilik kios....karyawan ...masih asa kuli panggul ,tukang parkir,penjaga kamar kecil,pedagang makanan,pedagang makanan kwcil dan buah dan abang tukang becak yang tidak bisa mencari rejeki karena kejadian ini. Efek ini masih akan berlanjut ...dengan asumsi 25% pemilik kios memprosses kain menjadi produk jadi....sudah beetambh lagi orang yg menjadi 'pengangguran'. Beberapa mata pencaharian yang tidak langsung beesinggungan dengan pasar klewer harua menanggung konsekuensinya. Dengan tidak berjalannya roda perekonomian di pasar sandang ini....mereka mereka menjadi pengangguran ,senasib dengan profesi yang temat kerjanya di pasar tersebut. Itu baru permukaannya....masih banyak lagi efek dari segi yang lain...salah satunya kesehatan. Banyak pemilik kios yang syok...tidak sedikit yang tekanan darahnya naik....mentalnya down. Pastinya akan banyak pasien dadakan karena peristiwa ini. Dari segi keuangan...jika modal usaha bukan dari asset peibadi...pinjaman bank atau barang hutang dari supplier hal ini mnjadi masalah baru. Mereka tidak bisa melaksanakan kewajiban dalam membayar hutang karena modal usaha baik yang beeupa uang atau barang sudah menjadi abu. Dan tidak bisa dipungkiri segi finansial.inilah pemicu munculnya masalah kesehatam yang membuat pengeluaran karena angguan kesehatan. Begitu besarnya efek yang muncul HANYA karena suatunperistiwa kebakaran.

Sunday, July 1, 2012

Gajah musuh semut

Bagaimanapun, korporasi besar akan selalu diuntungkan jika ada kejadian seperti petang hari ini. Di bandara Internasional soekarno hatta, dengan maskapai pernerbangan berwarna merah sebagai identitas perusahaannya telah menelantarkan banyak penumpangnya. Jadwal sesusai sewaktu saya booking(memesan) tiket adalah 15.45 wwib. Sewaktu kita check in, jadwal sudah berganti menjadi 17.30wwib. Dan sampai saya menulis artikel ini kita "HANYA" diberikam kompensasi setakar nasi putih, sepotong paha ayam dan olahan sayur .

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh sekolompok penumpang untuk jadwal penerbangan ini(semut) untuk menuntu koporasi penerbangan warna merah ini(gajah). Sebenarnya bukan kita para penumpang saja yang dirugikan oleh keadaan ini, karyawan dengan jabatan rendah di maskapaiinipun telah menjadi korban atas kejadian ini, mereka kena amarah dari para penumpang. Yang sebetulnya menjadi tanggungjawab dari koporasi tempat mereka bekerja.

Dan jikalau kitaingin mencarikambing hitam atas kejadian ini. Akan sangat panjang antriannya. Bagaiamana pemerintah selaku pihak yang memberikan ijin usaha bisa meloloskan ijin usaha mereka jikalau manajemen perusahaannya kurang bertanggung jawab . Dan apabila rencana BUMN untuk memasukkan rating dari bandara kita , apakah ini tidak merupakan misi mencoreng muka sendiri. Bukankah akan lebih baik jikalau semua ijin dan kelsyakan maskapai penerbangan diperikss ulang untuk menghindari penumpang menjadi gelandangan di bandara.

Itikad baik dan tekad memang haru dipertahankan dan diperjuangkan untuk menjadi lebih baik. Namun koreksi diri dan bercermin nampaknya perlu dilakukan supaya bangsa tidak 'begitu' malu karena hal ini .

Friday, March 16, 2012

Go Green !!! feat electric vehicle

Go Green  !!! merupakan frasa yang terasa sering kita dengar dan tidak asing lagi di telinga kita. Arti dari frasa tersebut adalah mengajak kita untuk melakukan aktivitas yang ramah lingkungan.  Banyak hal yang sebenarnya dapat kita lakukan untuk (aktivitas) hidup yang ramah lingkunan. Sedangkan feat berarti menampilkan artinya  dan electric vehicle artinya kendaraan bermotor yang menggunakan listrik sebagai sumber energinya. Gaya hidup ramah lingkungan menggunakan kendaraan elektrik sebagai alat transportasi.

Tulisan ini terinspirasi dengan tulisan mantan CEO Jawapos (maafkan jika saya salah mencantumkan jabatan anda) Pak Dahlan Iskan pada surat kabar Jawapos tgl 12 Maret 2012. Dengan menggebu-gebu Beliau mendorong dimulainya proyek mobnas(mobil nasional) dengan  konsep yang berbeda, yaitu berbahan bakar listrik, dan memalui tulisan ini saya bersemangat kembali untuk berbagi ide. Meskipun tidak ada latar belakang mekanikal dan elektikal, namun saya tertarik dengan gaya hidup yang ramah terhadap lingkungan.

Konsep kendaraan listrik yang menjadi ide saya adalah kendaraan listrik yang dapat menghasilkan listrik sendiri saat kendaraan berjalan maupun berhenti. Dimana atapnya diaplikasikan panel surya dan menggunakan sistem pengubah daya saaat pengereman menjadi energi listrik untuk mengisi batereinya. Dengan begitu kendaraan ini akan menjadi lebih efisien dan hijau serta membantu pemilik kendaraan  jika malam harinya lupa meng-charge beterinya.

Sebenarnya apa yang menjadikan kendaraan listrik menjadi kurang diminati oleh sebagian besar penduduk dunia? Salah satu faktor kenapa kendaraan listrik kurang diminati adalah akses pengisian bahan bakar. Hal ini tidak akan menjadi kendala yang berarti jika kendaraan tersebut hanya dimanfaatkan untuk keperluan di kota. Tapi akan menjadi kendala jika kendaraan digunakan untuk perjalanan jarak jauh, karena dibutuhkan pengisian bahan bakar(dalam hal ini bateri) sebelum mencapai tujuan dan dana yang tidak sedikit untuk membangun infrastruktur pengisian bahan bakar listrik. Selain itu waktu yang dibutuhkan untuk mengisi baterei juga tergolong lama, kurang praktis jika dibandingkan kendaraan bermotor berbahan minyak.

Namun hal ini bukan menjadi harga mati untuk tidak mengembangkan kendaraan listrik, karena sebetulnya ada beberapa alat dan teknologi yang sudah dapat dipergunakan untuk “sedikit” menutupi kekurangan ini. Kita telah diberi energi secara gratis, yaitu matahari. Dan alatnya pun sudah dijual dipasaran, memang secara ekonomi masih mahal karena (mungkin) belum dibuat secara massal. Atap kendaraan bermotor dapat disusun panel surya untuk mengisi baterei. Dapat kita lihat negara tetangga (Thailand)  kita sudah menghasilkan kendaraan transportasi umum roda tiga (kalau dijakarta lebih dikenal dengan nama bajai) dengan bahan bakar tenaga matahari. Bisa jadi ini juga merupakan prototipe, karena hanya diulas seagai iklan di suatu channel televisi yang membahas tentang teknologi dan alam(discovery channel).

Selain itu, terdapat alternatif lain untuk menghasilkan energi tanpa harus berhenti dan menunggu baterei di-charge. Dapat juga kita menngaplikasikan teknologi yang dipakai di sirkus mobil dunia (formula one), dimana mereka tenaga yang dihasilkan saat pengereman diubah menjadi energi listrik untuk mengisi baterei.

Yang dijadikan alasan utama kenapa kendaraan istrik kurang diminati adalah dari segi ekonomi.  Kendaraan listrik mahal harganya, karena harganya termasuk biaya penelitan dan pengembangan (R & D) dan beberapa komponennya memang mahal. Layaknya lampu LED yang sebenarnya sangat efisien dalam penggunaan listriknya untuk saat ini tidak dapat bersaing dengan lampu hemat energi. Karena nilai keekonomisannya masih jauh dengan lampu hemat energi. Harga lampu LED  lebih mahal  tujuh kali lipat jika dibandingkan dengan lampu hemat energi yang lumensnya( satuan cahaya yang dihasilkan) setara. Sedangkan konsumsi listrik lampu LED ini  “hanya” setengah dari konsumsi listrik lampu hemat energi
 
Panel surya harganya memang semakin terjangkau, namun bisa dikategorikan mahal untuk masyarakat kita. Belum lagi pengembangan untuk merubah daya saat pengereman mennjadi energi listrik serta bataeri yang dapat menampung daya listrik yang besar dan dapat di-charge dengan waktu yang singkat. Namun saya yakin kedua hal ini akan dengan mudah dipecahkan jika janji Pak Dahlan untuk membantu mengembangkan memalui kementrian BUMN benar-benar berjalan. Entah itu dari sisi produksi, dengan  cara mendanai penelitian dan pengembangannya atau kebijakan keuangannya (subsidi harga jual kendaraan listrik).

Ulasan dan ide diatas dapat juga diserap dan dipergunakan oleh Pak Jokowi (walikota Surakarta) yang telah berhasil mengangkat pamor mobil nasional(dalam hal ini esemka). Jika mobil nasional kita mempunyai nilai lebih, yaitu ramah lingkungan, bukan hanya masyarakat kita secara nasional saja yang antusias, tidak menutup kemungkinan produsen mobil tingkat dunia akan tertarik. Dari sini negara kita dapat mencuri perhatian dunia dan diperhatikan dunia, karena masyarakat dunia (khusunya negara maju) menaruh perhatian yang banyak tentang isu pemanasan global.  Dan ini merupakan penerapan dari hidup  yang ramah lingkungan. Karena kendaraan listrik tidak menghasilkan gas CO2 yang dapat membuat lapisan ozon kita rusak dan mengakibatkan pemanasan global.

Penerapannya dapat dimulai dari transportasi umum(seperti angkutan kota / angkot,busway,bajai), dimana banyak orang membutuhkan transportasi ini dan tentunya para pengguna transportasi umum akan senang karena tarifnya tidak mengalami banyak kenaikan seiring naiknya harga bahan bakar minyak. Suatu hal yang mustahil jika kenaikan bahan bakar minyak tidak berdampak  pada ongkos angkutan umum( meskipun sudah memakai kendaraan listrik), karena orang yang mengoperasikan transportasi umum juga terkena imbas dari kenaikan bahan bakar minyak. Harga kebutuhan pokok menjadi meningkat, karena biaya produksi dan distribusi ke barang  kebutuhan pokok mengalami kenaikan. Setidaknya dengan adanya kendaraanumum yang berbahan listrik dapat menekan salah satu pos pengeluaran dari masyarakat banyak.

Semoga ide ini dapat membantu kita terlepas dari ketergantungan akan bahan bakar minyaK,dan yang lebih penting lagi dapat mengurangi polusi udara dan membuat dunia semakin panjang umurnya.

Tuesday, April 26, 2011

Guruku Malang, Guruku sayang

Ini bukan menceritakan kisah seorang guru yang tinggal di kota Malang, dan bukan juga cerita romantisme anak asuh yang jatuh cinta kepada gurunya(kebanyakan nonton sinetron kali yeeee). Cerita ini berawal dari obrolan santai sebuah Group di perangkat keras telepon seluler buatan Kanada. Kebetulan kami alumnus sebuah perguruan tinggi membuat group untuk sekedar ngobrol atau bertukar informasi.

Pada saat suatu topik membahas dosen, seorang teman yang telah berprofesi sebagai guru berbagi cerita, kalau beberapa dosen pernah ke sekolahnya untuk mempresentasikan kampus kami. Betapa bahagianya teman saya itu, bisa membanggakan kampusnya dahulu, dan bertemu dengan dosen yang pernah mengajarnya.Mungkin teman saya juga sudah siap jika sang dosen tidak menggingat teman saya, maklum anak asuhnya bertambah dari tahun ke tahun , dan jika teman saya tidak mempunyai ciri khas, tentunya sang dosen tidak mengginggatnya.

Setelah bercakap-cakap, sang dosen terkejut karena salah seorang guru di sekolah yersebut adalah anak didiknya. Tapi teman saya dibuat lebih terkejut lagi dengan pernyataan seorang dosen 'dengan ipk(indek prestasi kuliah) yang hanya cukup, apakah kamu bisa mengajar?'.

Yang buat saya berpikir, begitu congkaknya orang-orang pandai yang telah menjadi dosen. Dan yang lebih mengenaskan, kenapa dosennya tidak merasa ikut senang atas kesuksesan muridnya, terlepas dari berapa ipknya. Begitu malangnya dosenku, dan begitu sayangnya guruku(teman yang menjadi dosen).

Thursday, January 20, 2011

Rasanya.......

Jika berhubungan dengan makanan, ada pedas, asin, manis, asam atau campuran dari beberapa rasa. Yang mana yang enak, suatu hal yang sangatlah subjektif. Namun yang paling menyiksa jika seseorang suka suatu rasa, semisal pedas, namun karena suatu dan lain hal, orang tersebut tidak dapat lagi mengonsumsi makanan pedas, bisa karena orang tersebut mempunyai penyakit maag(lambung)

Dan jika menyangkut hati atau perasaan orang, rasa adalah yang brhungan dengan hati. Senang, susah, jatuh cinta, marah, benci dan masih banyak poerasaan yang lain. Hal ini juga merupakan sesuatu yang subjektif, seperti rasa makanan. Yang dapat menilai adalah individu per individu. Dan yang lebih mencengangkan, rasa tidak ada takaran atau standarnya.

Lalu mengapa saya membahas sesuatu tentang rasa, suatu hal yuang tidak terukur dan subjektif? Karena saya merasa hal ini adalah kelebihan manusia. Segala kegiatan tentulah berhubungan dengan rasa. Dan itu berpengaruh kepada hasil akhir suatu kegiatan. Entah dari kualitas dari hasil maupun waktu yang dibutuhkan oleh individu untuk mencapai suatu tujuan.

Kadang kala saya merasa kasihan dimana ada orang yang takut atau khawatir jika pekerjaannya tergantikan oleh orang lain, yang lebih mengenaskan jika ada orang yang ketakutan jika profesinya tergantikan oleh mesin. Bukanlah robot atau mesin tidak mempunyai perasaan? Bukankah kita sebagai makhluk yang dikaruniai perasaan akan mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan robot ataupun mesin? Lalu akan muncul pertanyaan, mengapa diciptakan mesin? Orang menciptakan mesin karena kita butuh standarisasi produk, dan efisiensi. Namun kalau tidak ada manusia, apakah mesin atau robot akan 'ada' dan lebih jauh lagi dapat beroperasi? Bukankah mesin juga membutuhkan manusia. Dan yang lebih mendasar lagi, apakah anda percaya jika rejeki itu adalaj karunia Yang DiAtas dan Dia tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan umat-Nya? Jika ya maka pergunakanlah hati sebaik-baiknya dan jagalah kondisinya. Dan pertanyaan terakhir setujukah anda dengan pandangan saya?

Saturday, January 8, 2011

Rapor

Bagi yang masih sekolah, mungkin sekarang saatnya pengembalian rapor karena habis libur tengah semester, kalau anda sedang kuliah, sekarang ini masa dimana jantung anda berolahraga, menantikan hasil mata kuliah yang anda tempuh selama setengah tahun yang lalu. Namun disini saya bukan ingin membahas rapor seperti bayangan anda. Melainkan 'Rapor kehidupan'.

Aneh??? Sedikit aneh menurut saya kehidupan ini bak kita menempuh pendidikan. Dimana banyak mata pelajaran yang harus kita ambil, dan di tiap mata pelajaran memiliki nilai. Kalau anda binggung dan tidak percaya mari kita bahas lebih mendalam.

Kita akan bernostalgia dengan keadaan atau situasi sewaktu di SD. Tentunya kita semua pernah menempuh pendidikan itu. Simpel saja, di SD ada mata pelajaran Agama. Di kehidupan ini mata pelajaran tersebut akan kita ikuti sampai kita 'kembali kepadaNya. Suatu yang berhubungan dengan kedekatan kita pada Sang Pencipta. Ada juga pelajaran PPKN(jaman saya sekolah lebih dikenal dengan PMP), pelajaran tentang moral, kalau pelajaran Agama bersifat vertikal, maka PPKN lebih bersifat horisontal, namun tetap pondasi atau dasarnuya adalah hati. Lalu ada pelajaran IPS, yang mengajak kita lebih menjadi makhluk sosial, dan IPA yang berhubungan dengan alam.

Lalu apa yang menjadikan menarik? Ternyata hidup lebih kondisional, dimana kita dihadapkan pilihan mata pelajaran mana yang akan kita prioritaskan. Tidak seperti sekolah, dengan belajar supaya dapat mengerjakan ujian, maka nilai di rapor kita tentu akan bagus semuanya. Di saat kita ingin menjadi makmur, maka banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mencapai tujuan kita. Jika ongin cepat makmur, maka konsekuensinya akan ada nilai di rapor kita yang merah. Contoh extrem dengan berjudi(walau sebenarnya hidup adalah perjudian), atau menipu orang.

Memang kita bisa mendapat nilai yang sedang-sedang di semua mata pelajaran, namun konsekuensinya tujuan kita juga akan lamban juga tercapainya. Nah, sekarang nilai rapor kehidupan anda sepenuhnya ada di tangan anda, mau mengorbankan salah satu mata pelajaran, atau anda lebih memilih nilai yang rata-rata namun hidup tentram. Selamat menjalani hidup ini.....

Thursday, January 6, 2011

Korek Api

Barang yang kecil, sepele, tapi banyak manfaatnya. Bayangkan jika tidak ada korek api, betapa susahnya ibu-ibu rumah tangga jika ingin memasak(terutama beberapa tahun yang lalu sebelum adanya kebijakan gas 3kg). Betapa susahnya juga bagi perokok( kebetulan saya juga seorang perokok).

Namun bukan itu semua yang mengelitik pikiran saya, saya kebetulan juga memiliki kertetarikan dengan green living(mungkin saya belum dapat mengaplikasikan dari hal yang kecil, karena saya perokok). Terlepas dari itu semua, saya hanya ada sebuah pemikiran yang mungkin sepele tapi mungkin akan menjadi bahan yang menarik untuk disimak. Antara keekonomisan suatu barang dan green living, dua hal yang sangat bertolak belakang.

Dari banyaknya merk korek api gas, ada salah satu merk korek api(Cri***t) yang tidak dapat diisi ulang. 'Lalu apa yang meresahkan anda jika suatu korek api tidak bisa diisi ulang, toh harga korek api gas berapa sih? Sehingga hal tersebut memancing anda untuk membahasnya'Mungkin pertanyanyaan-pertanyaan ini yang akan muncul di benak pembaca.

Mari kita lihatdari segi ekonomi, secara bisnis perusahaan itu telah dengan baik menerapkan strategi bisnisnya, dimana orang diharuskan membeli korek api jika gasnya telah habis. Perlu juga untuk para pembaca ketahui, harga korek api merk Cri***t lebih mahal dari korek api merk lain yang dapat diisi ulang. Tapi coba pembaca bayangkan, berapa plastik yang digunakan pabrik tersebut untuk berproduksi selama sebulan, dan itu juga berarti sama dengan banyaknya limbah plastik yang dihasilkan oleh konsumen korek api tersebut. Kita juga tahu bahwa plastik adalah zat yang tidak mudah terurai dan tidak ramah lingkungan.

Ya begitulah sulitnya menerapkan green living, seperti halnya lampu LED ataupun solarcell, karena harganya masih mahal, maka masih sedikit sekali orang yang memanfaatkannya, dan karena alasan ekonomis inilah yang membuat orang tidak bisa menerapkan green living. Mungkin anda juga akan bertanya dengan kebiasaan saya merokok, sementara saya belum berkomitmen untuk berhenti, namun proses untuk pengurangan konsumsi sudah saya lakukan walaupun belum signifikan. Maka dari itu saya belum berani mengajak pembaca untuk berkomitmen dengan green living :)

Saturday, January 1, 2011

Uang

Kalo kita bicara tentang uang, tidak akan ada habisnya, karena pokok bahasannya sangat luas. Dari fungsi utama dari uang yaitu sebagai sarana bertransaksi, sampai pengaruh negatif dari uang. Sebenarnya pengaruh yang terjadi yang 'diakibatkan' oleh uang merupakan efek akibat keserahan manusia.

Tidak jarang kita dengar ada keretakan hubungan antar sesama manusia yang diakibatkan karena uang. Entah itu hubungan persaudaraan(darah) ataupun hubungan pertemanan. Sehingga banyak pendapat dari kawan-kawan saya bahwa uang itu jahat. Sebaiknya pertemanan jangan sampai ada sangkut pautnya dengan uang. Uang itu jahat. Kata mereka, namun menurut saya itu juga tergantung dari pribadi masing-masing manusianya. Jika ada niat buruk, tentulah akan ada kejadian yang kurang menyenangkan akan menyertainya.

Pernah suatu hari, saya 'memberi harga' konsumen dengan sejumlah uang. Hal ini terjadi karena niat baik saya untuk menolongnya akhirnya disalahgunakan. Selama ini bisnis saya dijalankan dengan sistem tunai, karena suatu kasus khusus, sang pelanggan bercerita tentang kesulitannya kepada saya, setelah saya pertimbangkan akhirnya saya putuskan untuk menolong. Pertama-tama pembayarannya tepat waktu, sesuai dengan apa yang telah dijanjikan. Namun lama-kelamaan konsumen itu mempergunakan kesempatan yang telah saya berikan. Mulai dari pembayaran yang tidak tepat waktu, namonalnya pun tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan. Dan pada suatu waktu, hilanglah si konsumen tersebut.

Saya coba menerapkan 'manajemen ikhlas', mungkin rejeki itu belum menjadi hak saya atau saya kurang berderma, jadi inilah saatnya berderma dengan cara yang lain. Namun hal itu baru muncul setelah beberapa saat setelah kejadian tersebut, pada saat kejadian banyak hal yang berkecamuk dalam kepala saya. 'Apa benar nilai konsumen itu hanya X rupiah?', 'Apakah dia lebih memilih X rupiah daripada harga dirinya?', dan pikiran-pikiran negatif yang lain.

Dan pada Misa Natal(kebetulan saya beragama Katholik) saya mendapat pandangan baru. Kerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh, dan anda tidak akan menemui satu titik puas jika segala sesuatunya hanya ditakar dengan uang. Uang itu penting, namun hanya sebagai sarana. Yang terpenting dalam hidup ini adalah ketulusan dalam menjalankan segala sesuatu dengan sepenuh hati.

Bagaimana dengan anda? Setujukah dengan pandangan saya terhadap'uang' dan maukah anda melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati?(Walau terkadang, melakukan suatu hal tanpa pamrih itu suatu hal yang susah :) )

Saturday, December 25, 2010

KESEMPATAN yang KESEMPITAN

Seiring dengan menanjaknya prestasi timnas sepakbola Indonesia(Christian Gonzales, Irfan Bachim,Bambang Pamuingkas,Bustami, Firman Utina,dkk) ada banyak kesempatan yang dapat kita pergunakan. Dalam dunia politik, seperti yang kita bisa kita baca di surat kabar, banyak partai yang membagikan tiket untuk menonton pertandingan final di jakarta. Ada acara bertemu dengan para pemimpin partai, yang mungkin mereka ingin mengapresiasi keberhasilan timnas sepakbola kita menembus final, namun menurut beberapa pengamat waktunya kurang pas.

Tidak hanya para politisi, perusahaan besar saja yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapat apa yang menjadi tujuan mereka. Ternyata pedagang kaki lima juga mendapat rejeki, dengan menjual kaos timnas sepakbola, tujuan pedagang kaki lima untuk meraup untung juga kesampaian. Dan yang lebih mengejutkan, ternyata bukan hanya pedagang kaki lima di Indonesia saja yang kebagian kesempatan untuk meraup keuntungan, ternyata ada pedagang kaki lima di Malaysia yang memanfaatkan momen ini.

Bagi pedagang kaki lima, ini merupakan KESEMPATAN yang keSEMPITan. Karena kurang beberapa hari final pertemuan edua akan berlangsung, dimana hal ini juga berarti bahwa tenggat waktu untuk mencari keuntungan telah habis. Selain itu setiap hari kompetitor bertambah banyak. Jadi yang ada sekarang adalah siapa cepat dia dapat.kak

Thursday, December 23, 2010

Korupsi dimana-mana

Sebenarnya saya binggung untuk memulai cerita dari mana, memang ini antara curahan hati(bahasa bekennya CURHAT), hasil analisa dan kenyataan. Awal mula saya akan coba deskripsikan mengenai korupsi, korupsi menurut saya adalah sesuatu yang kita pergunakan atau terima tetapi bukan merupakan hak kita.

Nah sekarang saya ingin berbagi cerita, saya mempunyai kios di sebuah pasar tradisional, lebih tepatnya memakai kios orang tua saya untuk mencoba mencari sesuap nasi(dramatis sekali...). Usaha utama dari kios adalah penjualan seragam sekolah. Setiap orang kenal atau menetahui jenis usaha saya sebagian orang pasti memberikan saran untuk mencoba menjadi pemasok sekolah, dan hal itu selalu saya tolak dengan alasan saya tidak biasa bermain'amplop'. Seperti kita tahu sudah menjadi hal yang lumrah jika kita 'membagikan' sedikit rejeki kepada orang yang telah membantu usaha kita. Alasan penolakan saya, saya harus menghitung ulang harga barang supaya harganya kompetitif namun tidak rugi jika harus memberikan 'amplop'. Menurut saya itu merepotkan, dan bisa jadi saya dijadikan 'langganan' atas pungli-pungli itu.

Roda kehidupan berputar, dan sampailah di saat saya harus berhadapan dengan pihak sekolah. Bisa dibilang ini suatu rejeki yang tidak saya harapan. Rejeki karena dimana keadaan pasar yang baru sepi namun saya mendapat konsumen baru, sedangkan hal ini tidak saya harapkan karena saya harus memberikan sesuatu yang bukan haknya. Pihak sekolah meminta saya memberikan stempel, hal yang tidak biasa terjadi di pasar tradisional, untungnya dapat saya tolak. Percobaan pertama telah terlewati, karena saya telah menghindari membantu korupsi. Jikalau nantinya oknum-oknum tersebut nota palsu, saya tidak menanggung dosa tersebut.

Setelah selesai transaksi, mereka meminta bonus, hal yang membuat saraf ketawa saya berkontraksi, anda siapa? Baru berbelanja sekian rupiah kok sudah meminta bonus, sedangkan banyak dari langganan saya yang transaksinya lebih rutin dan sebagian nominalnya melebihi oknum sekolah ini saja tidak pernah meminta bonus, pertimbangan apa yang mengharuskan saya memberi anda bonus.

Ternyata masalah belum selesai sampai titik ini, ternyata dari pertama kali oknum sekolah sampai di tempat saya, sudah ada 3 orang yang meminta komisi atas jasanya mengantarkan konsumen ke kios saya. Tiga orang??? Gila, preman dari mana saja ini? Karena saya tidak pernah menjumpai kejadian semacam ini, saya bertanya kepada karyawan saya(sudah berkecimpung di pasar selama 10 tahun), adat kebiasaannya bagaimana? Karyawan saya berkata, bahwa dia juga baru kali ini menjumpai hal ini, meski sudah lama bekerja di beberapa kios dan lama menjadi karyawan pasar. Saya mengutarakan, kalau dikasih X rupiah bagaimana? Wajarkah? Karyawan saya hanya menimpali, seikhlasnya saja, daripada memberi tetapi tidak ikhlas. Dan akhirnya diputuskan memberi sejumlah uang kepada salah seorang dan tolong dibagi buat bertiga.

Apakah tulisan saya ini menandakan saya belum ikhlas? Sebetulnya tidak, saya ikhlas, disini saya hanya ingin berbagi, kalau transaksi di pasar tradisional saja pungutan liarnya sudah seperti itu, ditambah (diskusi dari oknum sekolah yang saya dengar) rencana penjualan seragam yang akan di mark up(diambil untung yang tidak wajar), lalu saya berpikir mau jadi apa negeri ini? Bekerja mencari laba itu sudah pasti, akan tetapi alngkah lebih bijak tidak menggunakan kekuasaan atau pangkat untuk menumpuk kekayaan pribadi. Jika seorang oknum dari sekolah berbisnis peralatan sekolah, menurut pandangan saya kurang elok, dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi kasus. Sudah berapa berita di koran yang memberitakan 'mantan' oknum sekolah yang terkena kasus korupsi.

Ya itu pandangan dari saya, jika hal ini menyinggung pembaca, saya mohon maaf, saya adalah orang naif yang hidup di waktu yang salah, karena idealisme yang tinggi dan ingin merubah dunia, tetapi malah menjerumuskan tiga orang ke jalan yang menurut saya salah.....pelajaran hidup ini semoga membawa saya menjadi orang yang lebih tegas.

Thursday, November 4, 2010

Apa yang membuat anda ingin di'istimewakan' ?

Sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari seseorang ingin diperlakukan istimewa. Contoh yang paling sering kita jumpai adalah orang ingin didahulukan dalam dilayani.

Saya ambil contoh kasus dimana orang ingin didahulukan /dilayani terlebih dahulu di suatu toko. Mungkin karena tergesa-gesa, atau merasa lebih(mungkin merasa kaya, berpangkat, atau mempunyai nama/lebih dikenal) mereka dengan santai tak menghiraukan atau mengacuhkan orang yang terlebih dahulu datang ke toko tersebut. Mereka minta dilayani lebih dahulu. Jika kita lihat lebih seksama, apakah karena alasan-alasan diatas mereka 'dibenarkan' untuk minta dilayani lebih dahulu?

Saya rasa, jawabannya tidak, walaupun mereka tergesa karena suatu hal, bukankah itu sudah menjadi tanggung jawab mereka sendiri, kenapa mereka tidak merencanakan lebih dahulu segala sesuatunya. Kalaupun benar-benar dalam keadaan yg sulit, kenapa mereka tidak dengan sopan meminta ijin terlebih dahulu kepada pengunjung yang datang lebih dahulu. Dan jika sudah meminta ijin terlebih dahulu, bukan berarti pengunjung yang lain harus 'mengijinkan', bukankah meminta tolong juga tergantung dari orang yang dimintai tolong. Apabila orang yang dimintai tolong juga tergesa-gesa, mereka juga berhak untuk menolaknya.

Jika tidak tergesa-gesa, dan yang menjadi judul tulisan ini, apa yang membuat mereka ingin diistimewakan? Kelebihan apa yang mereka miliki dan tidak dapat ditandingi oleh orang lain. Bukankah di sekolah dasar kita sudah dikenalkan dengan peribahasa yang menggambarkan tentang kearifan tanaman padi. Semakin berisi, semakin menunduk. Dan bukankah segala kelebihan bersifat duniawi yang kita miliki hanya titipan Tuhan, dan kelebihan rohani hanya Tuhan yang dapat menilainya.

Namun siapakah saya, yang membahas perilaku orang lain. Hahaha, berarti saya juga termasuk orang yang salah karena telah membahas masalah ini. Maafkan saya jika ada yang tidak berkenan dengan tulisan saya ini, karena saya juga termasuk orang yang salah.

Tuesday, November 2, 2010

Jujur, berani, naif

Kalau ada orang yang berpendapat dengan logat surabaya mungkin akan seperti ini 'cek eman e rek, loro sing nang ngarep wes ciamik, la kok buntut e ngisin-ngisini'. Apabila diterjemahkan dalam bahasa indonesia adalah, alangkah sayangnya, 2(kata sifat) yang di depan sudah bagus, tapi yang paling belakang kok membuat malu. Tiga kata sifat yang saya ambil sebagai judul, (terus terang) saya ambil dari dialog dalam film 'Robin Hood' yang dibintangi oleh Russel Crowe.

Dialog itu sungguh berkesan bagi saya, robin longstride( Russel Crowe,sebagai prajurit) mendapat penilaian dari rajanya sebagai orang yang memiliki ketiga sifat tersebut setelah ditanya, apakah dia bangga menjadi seorang prajurit yang berpatisipasi dalam perang salib. Dan dengan jujur,berani dan naif(atas penilaian raja) dia berkata 'tidak bangga', karena perang yang diatasnamakan agama, menjadikan dia seperti orang yang tidak ber-Tuhan, dengan pembantaian kepada orang yang memiliki kepercayaan / beragama lain.

Ya, mungkin memang ketiga kata sifat itu sudah menjadi takdir untuk orang yang mempunyai idealisme tinggi. Dunia itu tidak seindah bayangan kita, keserakahan, memperjuangkan kepentingan kita adalah hal yang tidak bisa dihindarkan dari kehidupan ini.

Dan celakanya, robin hood dengan konsisten menjalankan ketiga sifat diatas. Dia menjadi naif dan membangun dunia yang sesuai dengan anggan-anggannya. Di saat pemerintahan menjadi tirani, dimana ketidak adilan terjadi, dia menjadi naif dengan mengejar suatu keadaan dunia yang sesuai dengan keinginannya.

Dimana letak kenaifannya? Saat dia mencuri/merampok barang yang bukan haknya, untuk mencapai keadaan dunia yang dia inginkan tanpa mengindahkan norma agama manapun(halal atau haram). Lalu yang menjadi pertanyaan, benar atau salahkah perbuatannya? Silahkan anda berpendapat, untuk mengungkapkan pendapat anda, saya yakin (dan semoga benar) itu adalah suatu kebebasan, dan kecil kemungkinannya ada gugatan tentang pencemaran nama baik hahahaha

Wednesday, October 27, 2010

Alangkah Lucunya (negeri ini-2010)

Sebuah film nasional yang memuat pesan moral, dan menggambarkan kerumitan hidup di negara Indonesia. Sebuah komplektivitas antara religi, moral, dan realita kehidupan.
Dalam film ini diceritakan, dimana seorang yang berpendidikan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Karena ilmu yang didapat adalah manajemen, maka ia mencoba mengatur kehidupan gerombolan pencopet supaya dapat menjadi orang yang mempunyai pekerjaan yang halal. Konflik dalam dirinya terjadi ketika hal ini dihubungkan dengan kehidupan rohani atau religinya, karena 'membenarkan' mencari modal dari hasil pekerjaan haram supaya para pencopet dapat bekerja secara halal.
Setelah modal terkumpul, dan dapat digunakan sebagai modal, bukannya masalah telah terselesaikan, bahkan sebaliknya, timbul masalah baru. MORAL, dimana para pencopet biasa mendapat penghasilan yang dapat dikatakan besar, mereka tidak dapat menerima jika pendapatannya berkurang jika mereka berubah menjadi pengasong. Adapun beberapa orang telah mau menjadi pengasong, persoalan belum juga selesai. Para pengasong dikejar-kejar oleh aparat pemerintah karena 'dianggap' menggangu ketertiban umum.

Sungguh ironi, dimana orang yang berniat baik dan terkendala modal dicap sebagai orang yang melanggar nilai agama. Dan setelah orang mau bertobat malah menjadi pelaku pelanggaran peraturan pemerintah. Lantas harus dimulai dari mana agar negara ini dapat mengurangi angka kemiskinan dan memperbaiki moral rakyatnya? Sudikah anda berbagi pendapat untuk memutus lingkaran setan ini?

Wednesday, September 29, 2010

Sepanjang Jalan.....

Saya mau berbagi tentang impian dan ide yang berhubungan dengan green living. Sudah lama saya tertarik dengan konsep hidup yang lebih baik untuk mengurangi beban bumi karena pemanasan global. Terlebih lagi kalau memngingat beberapa waktu lalu di negara kita tercinta, Indonesia terjadi kekurangan pasokan listrik.

Dalam suatu perjalanan ke kota Jogjakarta, saya melewati salah satu jalan alternatif, dimana disamping jalan tersebut terdapat saluran irigrasi yang panjang dan selalu dialiri dengan air. Terbesit sebuah ide, jika di sepanjang aliran ini dibangun PLTA skala kecil, apakah dapat mengurangi defisit pasokan listrik. Dari beberapa pendapat teman saya yang juga mempunyai kertetarikan dengan konsep hidup yang ramah lingkungan, banyak dari mereka mengatakan, bahwa hal itu kurang sesuai dengan nilai ke-ekonomisan. Dikarenakan nilai investasi yang terlalu besar untuk membangun PLTA-PLTA kecil sesuai dengan anggan-anggan saya sedangkan listrik yang dihasilkan relatif kecil.

Namun setelah membaca salah satu artikel di harian Kompas beberapa waktu yang lalu, saya jadi mempunyai keyakinan bahwa ide saya bukan hanya menjadi khayalan. Pada artikel itu terttulis di daerah Gunung Kidul Jogjakarta yang notabene merupakan daerah yang terkenal dengan kesulitannya dalam hal mendapatkan air, namun dengan kemauan warga, mereka berhasil membangun PLTA yang mampu menerangi seluruh jalan di sebuah desa. Kenapa hanya jalan desa? Ini lebih dikarenakan kebijakan dari warga supaya tidak terjadi kecemburuan antarwarga karena kebutuhan listrik setiap rumah berbeda. Lalu apa keuntungan dari warga desa tersebut setelah seluruh jalan menjadi terang? Keamanan di desa mereka jadi meningkat, tindak kejahatan di malam hari jauh berkurang.

Kalau kita hitung, berapa banyak saluran irigrasi di negara kita? Tentulah sangat banyak jika menilik bahwasannya negara kita merupakan negara agraris. Jika kita berhitung, tentunya hal ini dalam menerangi seluruh jalan di pedesaan yang memiliki saluran irigrasi. Berapa KWH yang mampu dihasilkan dan membantu percepatan menyediakan listrik 10.000 Megawatt yang merupakan program dari pemerintah. Semoga anggan-anggan saya Menggugah pihak-pihak terkait, khususnya instansi yang berkaitan dengan listrik yaitu PLN. semoga ......

Tuesday, March 30, 2010

Wiraswasta itu enak(menurut pendapat banyak orang)

Kerja apa pak? Tanya seorang yang baru saya kenal disela-sela waktu menunggu kedatangan kereta api yang akan membawa kami ke kota tujuan yang sama. 'Wiraswasta' jawab saya. Sepontan bapak yang baru saya kenal mengutarakan pendapatnya 'Enak ya jadi wiraswasta, kerja tidak ada yang memarahi, hasilnya lumayan'. Ya begitulah pandangan kebanyakan orang tentang wiraswasta.

Hal yang sudah umum untuk melihat sesuatu hanya dari segi positifnya saja atas pekerjaan orang lain. Sebenarnya dibalik segi positif yang terlihat begitu menggiurkan ternyata tersimpan juga sisi negatifnya(resiko dan kesulitan) dalam berwiraswasta.

Banyak hal sisi negatif sebagai wiraswasta. Yang pertama dan mendasar adalah modal, untuk membangun usaha kita memerlukan modal. Dengan asumsi kita sudah memiliki gagasan atas usaha yang akan kita geluti. Nominal uang yang dibutuhkan juga tidak sedikit, karena selain kita harus menyediakan modal awal sebagai awal usaha kita, kita juga harus menyediakan dana untuk operasional usaha kita minimal 1 tahun setelah usaha kita dimulai. Karena usaha baru ada kemungkinan bisa dikatakan mulai berjalan setelah 1 tahun. Kita mesthi besabar dalam membentuk pasar yang menjadi target penjualan(konsumen) atas usaha kita.

Setelah modal ada dan persiapan memulai usaha telah selesai, kita memulai fase untuk diuji kesabarannya. Pada umumnya pada awal-awal memulai usaha penghasilan bersihnya (laba) mengalami angka minus atau merugi. Hal ini disebabkan konsumen belum terlalu banyak. Untuk bisa menutupi biaya operasional(gaji pegawai,listrik, dan pengeluaran rutin untuk berjalannya usaha kita) pada beberapa bulan setelah kita membuka usaha adalah pencapaian yang bagus. Meski ada juga jenis usaha yang ramai diawal memulai usaha dan jika tidak sesuai dengan selera pasar malah merugi setelah beberapa saat usaha dimulai, contohnya usaha makanan. Biasanya orang akan tertarik untuk mencoba makan di rumah makan baru untuk mengetahui rasa,suasana dan pelayanannya, apakah sesuai dengan harga jual. Dan hal ini yang membuat banyak orang berbondong-bondong mencoba makan di rumah makan baru tersebut, dan jika harga,pelayanam, dan suasananya tidak sebanding dengan harga makan berangsur-angsur konsumen tidak akan makan dirumah makan tersebut lagi.

Kesulitan yang lain sebagai wiraswasta adalah pengelolaan keuangan. Dimana mereka mendapat pemasukan sedikit setiap hari, namun pada saat tertentu pengeluarannya besar untuk membeli barang dagangan. Disini wiraswasta dituntut untuk dapat membedakan pendapatan yang merupakan laba atau simpanan untuk membeli barang dagangan.

Setelah usaha berjalan(laba dapat menutupi biaya operasional) wiraswasta mesti mengusahakan supaya usahanya terus berkembang. Supaya usahanya tidak tergerus kemajuan jaman, wiraswasta harus membuka wawasan agar usahanya bisa tetap berjalan seiring kemajuan jaman.

Susah juga ya jadi wiraswasta? :) . Tapi yang seharusnya selalu berpikir positif adalah wiraswasta itu sendiri,supaya usahanya terus berkembang. Karena karyawan yang anda pekerjakan juga mengginginkan perkembangan taraf hidupnya.

Wiraswasta itu enak(menurut pendapat banyak orang)

Kerja apa pak? Tanya seorang yang baru saya kenal disela-sela waktu menunggu kedatangan kereta api yang akan membawa kami ke kota tujuan yang sama. 'Wiraswasta' jawab saya. Sepontan bapak yang baru saya kenal mengutarakan pendapatnya 'Enak ya jadi wiraswasta, kerja tidak ada yang memarahi, hasilnya lumayan'. Ya begitulah pandangan kebanyakan orang tentang wiraswasta.

Hal yang sudah umum untuk melihat sesuatu hanya dari segi positifnya saja atas pekerjaan orang lain. Sebenarnya dibalik segi positif yang terlihat begitu menggiurkan ternyata tersimpan juga sisi negatifnya(resiko dan kesulitan) dalam berwiraswasta.

Banyak hal sisi negatif sebagai wiraswasta. Yang pertama dan mendasar adalah modal, untuk membangun usaha kita memerlukan modal. Dengan asumsi kita sudah memiliki gagasan atas usaha yang akan kita geluti. Nominal uang yang dibutuhkan juga tidak sedikit, karena selain kita harus menyediakan modal awal sebagai awal usaha kita, kita juga harus menyediakan dana untuk operasional usaha kita minimal 1 tahun setelah usaha kita dimulai. Karena usaha baru ada kemungkinan bisa dikatakan mulai berjalan setelah 1 tahun. Kita mesthi besabar dalam membentuk pasar yang menjadi target penjualan(konsumen) atas usaha kita.

Setelah modal ada dan persiapan memulai usaha telah selesai, kita memulai fase untuk diuji kesabarannya. Pada umumnya pada awal-awal memulai usaha penghasilan bersihnya (laba) mengalami angka minus atau merugi. Hal ini disebabkan konsumen belum terlalu banyak. Untuk bisa menutupi biaya operasional(gaji pegawai,listrik, dan pengeluaran rutin untuk berjalannya usaha kita) pada beberapa bulan setelah kita membuka usaha adalah pencapaian yang bagus. Meski ada juga jenis usaha yang ramai diawal memulai usaha dan jika tidak sesuai dengan selera pasar malah merugi setelah beberapa saat usaha dimulai, contohnya usaha makanan. Biasanya orang akan tertarik untuk mencoba makan di rumah makan baru untuk mengetahui rasa,suasana dan pelayanannya, apakah sesuai dengan harga jual. Dan hal ini yang membuat banyak orang berbondong-bondong mencoba makan di rumah makan baru tersebut, dan jika harga,pelayanam, dan suasananya tidak sebanding dengan harga makan berangsur-angsur konsumen tidak akan makan dirumah makan tersebut lagi.

Kesulitan yang lain sebagai wiraswasta adalah pengelolaan keuangan. Dimana mereka mendapat pemasukan sedikit setiap hari, namun pada saat tertentu pengeluarannya besar untuk membeli barang dagangan. Disini wiraswasta dituntut untuk dapat membedakan pendapatan yang merupakan laba atau simpanan untuk membeli barang dagangan.

Setelah usaha berjalan(laba dapat menutupi biaya operasional) wiraswasta mesti mengusahakan supaya usahanya terus berkembang. Supaya usahanya tidak tergerus kemajuan jaman, wiraswasta harus membuka wawasan agar usahanya bisa tetap berjalan seiring kemajuan jaman.

Susah juga ya jadi wiraswasta? :) . Tapi yang seharusnya selalu berpikir positif adalah wiraswasta itu sendiri,supaya usahanya terus berkembang. Karena karyawan yang anda pekerjakan juga mengginginkan perkembangan taraf hidupnya.

Thursday, March 25, 2010

Manajemen keuangan itu fleksibel

Manajemen keuangan fleksibel disini dikarenakan disesuaikan dengan masing pekerjaan anda. Bukannya kita dapat merubah(pada umumnya pengeluarannya membengkak) sesuai keinginan kita, bukannya karena kebutuhan terutama kebutuhan yang mendadak.

Tiap pekerjaan yang kita tekuni memiliki manajemen keuangan yang berbeda-beda. Meskipun sama-sama berdagang, tentunya akan berbeda cara mengatur keuangan jika jenis barang yang diperdagangkan juga berbeda.

Contohnya usaha dagang dengan barang dagangan barang kebutuhan pokok (lebih dikenal dengan toko kelontong /meracangan) dengan toko pakaian. Toko yang menjual barang kebutuhan pokok akan lebih mementingkan omsetnya. Karena mayoritas keuntungannya relatif kecil, namun toko yang menjual pakaian tentunya akan cenderung lebih mengutamakan kualitas dari laba. Hal ini dikarenakan orang tidak tiap hari membutuhkan(membeli) pakaian sedangkan barang kebutuhan pokok dibutuhkan setiap hari oleh manusia untuk kelangsungan hidupnya.

Meski sama-sama bekerja sebagai pedagan, namun manajemen keuangannya sudah berbeda. Bagaimana kalau pekerjaannya berbeda jauh? Semisal petani dan karyawan. Karyawan tiap awal bulan menerima gaji, mereka perlu mengatur keuangannya agar dapat bertahan hinga akhir bulan. Sedangkan petani menerima pendapatan tiap habis memanen dan harus menyisakan sebagian pendapatannya untuk persiapan musim tanam berikutnya dan mengatur pendapatannya sampai masa panen berikutnya.

Lebih enak yang mana? Pedagang yang setiap hari memperoleh pendapatan, karyawan yang tiap bulan mendapat gaji atau petani yang pada masa panen mendapat penghasilan? Pendapat saya, sama saja. Karena pendapatan tiap hari dari pedagang dalam satu bulan kurang lebih equivalen(setara) dengan gaji karyawan tiap bulannya. Begitu juga jika pendapatan karyawan dan pedagang dibandingkan dengan pendapatan petani. Yang berbeda hanya waktu penerimaannya saja.

Untuk jumlah pendapatan, tergantung dari besar kecilnya usaha. Jika petani ingin berpendapatan lebih maka yang harus dilakukan adalah menambah luas tanah garapan, sedangkan pedagang dengan menambah omset penjualan dan karyawan dengan naik jabatan.

Hal ini menarik untuk saya tulis atas dasar keluhan seorang teman yang berprofesi sebagai petani. Dia mengeluh karena pendapatan yang diperolehnya beberapa bulan sekali.

Sebenarnya yang menjadi masalah bukan kapan kita mendapatkan penghasilan, namun bagaimana mengelola pendapatan kita. Setujukah anda akan hal ini?

Thursday, March 18, 2010

Tidak ada yang abadi di dunia ini KECUALI PERUBAHAN

Suatu hal yang saya yakini dan saya diyakinkan dengan pernyataan dari seseorang yang baru saya kenal 4 jam. Dalam suatu percakapan yang santai dengan orang yang baru saya kenal, meluncurlah sebuah pernyataan 'tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan'.

Sebelumnya akan saya akan sedikit bercerita tentang orang tersebut (inisial M) dan yang melatarbelakangi perkenalan saya dengannya. Kebetulan tunangan saya menjadi anggota franchise dan salah satu hak dari tunangan saya adalah mendapat kunjungan dari pusat untuk mengevaluasi usahanya. Sebagai pihak yang kedatangan tamu, saya sedikit mengenalkan beberapa macam makanan tradisional dari daerah tempat saya tinggal(kebetulan saya berdomisili di sebuah kota yang menjadi salah satu tujuan wisata dan wisata kuliner menjadi salah satu daya tariknya, Surakarta atau lebih dikenal denpan sebutan Solo).

Pembicaraan dari awal pertemuan kami sudah pasti lebih banyak tentang usaha yang digeluti tunangan saya, namun Bapak M ternyata mempunyai wawasan luas, dan dapat beradaptasi dalam bersosialisasi dengan cepat. Mungkin pengaruh dari lingkungan tempat tinggalnya, dia berdomisili di ibukota negara(Jakarta). Sembari berbagi pengalaman dan wawasan yang menyangkut usaha tunangan saya, terselip pembicaraan yang pokok bahasannya cukup umum, dan entah dari mana awal mulanya, maka terucap pernyataan dari Bapak M 'tidak ada yang abadi/kekal di dunia ini kecuali perubahan'.

Saya sangat setuju dengan hal itu dan menjadi yakin akan pandangan saya setelah mendengar pernyataan Bapak M. Orang yang baru saya kenal kurang dari 24jam. Coba kita amati, mulai dari kehidupan ekonomi sampai sosial semuanya berubah dengan dinamis menyesuaikan dengan berjalannya waktu.

Contoh dari aspek ekonomi, pada awal tahun 80an, sepatu bata menjadi salah satu merk favorit, namun seiring berjalannya waktu, merk luar pun mulai mengambil alih peran sepatu bata. Walau tidak dipungkiri masih ada pengemar atau pemakai setia dari bata, namun kue(bagian) pangsa pasarnya telah tergerus/berkurang oleh merk lain. Bahkan dalam tulisan marathon(100 edisi) pakar marketing (Hermawan Kertajaya) di salah satu harian terkemuka juga sepaham jika perubahan mutlak diperlukan untuk berkembang atau minimal sekedar bertahan.

Dari segi kepribadian, hal tersebut(perubahan) juga diperlukan, supaya kita menjadi orang yang lebih baik. Dengan menjadi orang mau mengembangkan dirinya, diharapkan hidup yang kita jalani akan lebih baik lagi. Pengembangan diri dapat dari aspek prilaku, pandangan hidup, keahlian, dan masik banyak lain.

Dalam mengembangkan diri juga tidak terlalu sulit, asal kita mau membuka diri dan mempunyai niat. Membuka diri adalah hal yang perlu dilakukan agar kita jangan tebelenggu dalam suasana pembenaran diri, karena hal itu menghambat pemgembangan diri kita. Namun jangan terlalu dibuka, karena akan berbahaya jika tidak ada penyaringnya, kita akan salah arah jika tidak menyaring masukkan yang kita terima.

Nah,siapkah kita untuk berubah?

Friday, March 5, 2010

Pengamen

Orang atau sekumpulan orang yang mempunyai keahlian dalam bidang seni, mempertunjukkan keahliannya dalam bidang seni dan 'berharap' apresiasi dari yang menikmati karya seninya.

Kenapa kata berhara saya beri tanda kutip, karena menurut saya hukumnya tidak wajib untuk memberikan apresiasi. Karena seni sifatnya subyektif, tidak terukur malah lebih cenderung atas dasar suka atau tidak suka(like and dislike). Apresiasi kepada karyaseni juga bermacam-macam, dapat berupa penghargaan, tepuk tangan(tanda menyukai atau kagum) namun juga dapat berupa materi.

Nah, sekarang saya akan mencoba mengutarakan pendapat saya mengenai seni di bidang tarik suara. Saya akan memberikan materi berupa uang kepada pengamen, jika saya merasa suka dengan keahliannya bermusik, santun(dalam artian mereka tetap 'berharap' apresiasi) dan menghargai apresiasi saya. Yang saya tidak suka dari pengamen adalah mereka 'memaksa' diapresiasi, hanya menjadikan pengamen sebagai kedok mengemis(bermodalkan alat musik yang terbuat dari tutup botol minuman bersoda, tanpa menyanyi,kadang dibumbui muka masam ketika tidak diberi uang), atau pengamen di pusat keramaian dimana setiap beberapa menit silih berganti pengamen datang dan lebih parahnya terkadang alat musik yang digunakan sama.

Memang banyak cerita pengamen menjadi orang terkenal. Dan mungkin dari pengamen merupakan jalan untuk menyalurkan hobi seni atau jalan menuju sukses. Namun alangkah lebih bijak jika anda menyalurkan hobi anda tanpa menganggu kenyamanan orang lain.

Tulisan ini untuk memberikan penjelasan yang lebih rinci atas pengunaan kata pengamen pada tulisan saya dengan judul 'Teguran di Persimpangan Jalan'. Mohon maaf jika ada pihak yang kurang berkenan dengan tulisan-tulisan saya.