Sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari seseorang ingin diperlakukan istimewa. Contoh yang paling sering kita jumpai adalah orang ingin didahulukan dalam dilayani.
Saya ambil contoh kasus dimana orang ingin didahulukan /dilayani terlebih dahulu di suatu toko. Mungkin karena tergesa-gesa, atau merasa lebih(mungkin merasa kaya, berpangkat, atau mempunyai nama/lebih dikenal) mereka dengan santai tak menghiraukan atau mengacuhkan orang yang terlebih dahulu datang ke toko tersebut. Mereka minta dilayani lebih dahulu. Jika kita lihat lebih seksama, apakah karena alasan-alasan diatas mereka 'dibenarkan' untuk minta dilayani lebih dahulu?
Saya rasa, jawabannya tidak, walaupun mereka tergesa karena suatu hal, bukankah itu sudah menjadi tanggung jawab mereka sendiri, kenapa mereka tidak merencanakan lebih dahulu segala sesuatunya. Kalaupun benar-benar dalam keadaan yg sulit, kenapa mereka tidak dengan sopan meminta ijin terlebih dahulu kepada pengunjung yang datang lebih dahulu. Dan jika sudah meminta ijin terlebih dahulu, bukan berarti pengunjung yang lain harus 'mengijinkan', bukankah meminta tolong juga tergantung dari orang yang dimintai tolong. Apabila orang yang dimintai tolong juga tergesa-gesa, mereka juga berhak untuk menolaknya.
Jika tidak tergesa-gesa, dan yang menjadi judul tulisan ini, apa yang membuat mereka ingin diistimewakan? Kelebihan apa yang mereka miliki dan tidak dapat ditandingi oleh orang lain. Bukankah di sekolah dasar kita sudah dikenalkan dengan peribahasa yang menggambarkan tentang kearifan tanaman padi. Semakin berisi, semakin menunduk. Dan bukankah segala kelebihan bersifat duniawi yang kita miliki hanya titipan Tuhan, dan kelebihan rohani hanya Tuhan yang dapat menilainya.
Namun siapakah saya, yang membahas perilaku orang lain. Hahaha, berarti saya juga termasuk orang yang salah karena telah membahas masalah ini. Maafkan saya jika ada yang tidak berkenan dengan tulisan saya ini, karena saya juga termasuk orang yang salah.
Thursday, November 4, 2010
Tuesday, November 2, 2010
Jujur, berani, naif
Kalau ada orang yang berpendapat dengan logat surabaya mungkin akan seperti ini 'cek eman e rek, loro sing nang ngarep wes ciamik, la kok buntut e ngisin-ngisini'. Apabila diterjemahkan dalam bahasa indonesia adalah, alangkah sayangnya, 2(kata sifat) yang di depan sudah bagus, tapi yang paling belakang kok membuat malu. Tiga kata sifat yang saya ambil sebagai judul, (terus terang) saya ambil dari dialog dalam film 'Robin Hood' yang dibintangi oleh Russel Crowe.
Dialog itu sungguh berkesan bagi saya, robin longstride( Russel Crowe,sebagai prajurit) mendapat penilaian dari rajanya sebagai orang yang memiliki ketiga sifat tersebut setelah ditanya, apakah dia bangga menjadi seorang prajurit yang berpatisipasi dalam perang salib. Dan dengan jujur,berani dan naif(atas penilaian raja) dia berkata 'tidak bangga', karena perang yang diatasnamakan agama, menjadikan dia seperti orang yang tidak ber-Tuhan, dengan pembantaian kepada orang yang memiliki kepercayaan / beragama lain.
Ya, mungkin memang ketiga kata sifat itu sudah menjadi takdir untuk orang yang mempunyai idealisme tinggi. Dunia itu tidak seindah bayangan kita, keserakahan, memperjuangkan kepentingan kita adalah hal yang tidak bisa dihindarkan dari kehidupan ini.
Dan celakanya, robin hood dengan konsisten menjalankan ketiga sifat diatas. Dia menjadi naif dan membangun dunia yang sesuai dengan anggan-anggannya. Di saat pemerintahan menjadi tirani, dimana ketidak adilan terjadi, dia menjadi naif dengan mengejar suatu keadaan dunia yang sesuai dengan keinginannya.
Dimana letak kenaifannya? Saat dia mencuri/merampok barang yang bukan haknya, untuk mencapai keadaan dunia yang dia inginkan tanpa mengindahkan norma agama manapun(halal atau haram). Lalu yang menjadi pertanyaan, benar atau salahkah perbuatannya? Silahkan anda berpendapat, untuk mengungkapkan pendapat anda, saya yakin (dan semoga benar) itu adalah suatu kebebasan, dan kecil kemungkinannya ada gugatan tentang pencemaran nama baik hahahaha
Dialog itu sungguh berkesan bagi saya, robin longstride( Russel Crowe,sebagai prajurit) mendapat penilaian dari rajanya sebagai orang yang memiliki ketiga sifat tersebut setelah ditanya, apakah dia bangga menjadi seorang prajurit yang berpatisipasi dalam perang salib. Dan dengan jujur,berani dan naif(atas penilaian raja) dia berkata 'tidak bangga', karena perang yang diatasnamakan agama, menjadikan dia seperti orang yang tidak ber-Tuhan, dengan pembantaian kepada orang yang memiliki kepercayaan / beragama lain.
Ya, mungkin memang ketiga kata sifat itu sudah menjadi takdir untuk orang yang mempunyai idealisme tinggi. Dunia itu tidak seindah bayangan kita, keserakahan, memperjuangkan kepentingan kita adalah hal yang tidak bisa dihindarkan dari kehidupan ini.
Dan celakanya, robin hood dengan konsisten menjalankan ketiga sifat diatas. Dia menjadi naif dan membangun dunia yang sesuai dengan anggan-anggannya. Di saat pemerintahan menjadi tirani, dimana ketidak adilan terjadi, dia menjadi naif dengan mengejar suatu keadaan dunia yang sesuai dengan keinginannya.
Dimana letak kenaifannya? Saat dia mencuri/merampok barang yang bukan haknya, untuk mencapai keadaan dunia yang dia inginkan tanpa mengindahkan norma agama manapun(halal atau haram). Lalu yang menjadi pertanyaan, benar atau salahkah perbuatannya? Silahkan anda berpendapat, untuk mengungkapkan pendapat anda, saya yakin (dan semoga benar) itu adalah suatu kebebasan, dan kecil kemungkinannya ada gugatan tentang pencemaran nama baik hahahaha
Labels:
agama,
berani,
crowe,
halal,
haram,
hood,
idealisme,
jujur,
longstride,
naif,
norma agama,
perang,
perang salib,
robin,
Robin hood,
russel,
russel crowe,
salib
Wednesday, October 27, 2010
Alangkah Lucunya (negeri ini-2010)
Sebuah film nasional yang memuat pesan moral, dan menggambarkan kerumitan hidup di negara Indonesia. Sebuah komplektivitas antara religi, moral, dan realita kehidupan.
Dalam film ini diceritakan, dimana seorang yang berpendidikan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Karena ilmu yang didapat adalah manajemen, maka ia mencoba mengatur kehidupan gerombolan pencopet supaya dapat menjadi orang yang mempunyai pekerjaan yang halal. Konflik dalam dirinya terjadi ketika hal ini dihubungkan dengan kehidupan rohani atau religinya, karena 'membenarkan' mencari modal dari hasil pekerjaan haram supaya para pencopet dapat bekerja secara halal.
Setelah modal terkumpul, dan dapat digunakan sebagai modal, bukannya masalah telah terselesaikan, bahkan sebaliknya, timbul masalah baru. MORAL, dimana para pencopet biasa mendapat penghasilan yang dapat dikatakan besar, mereka tidak dapat menerima jika pendapatannya berkurang jika mereka berubah menjadi pengasong. Adapun beberapa orang telah mau menjadi pengasong, persoalan belum juga selesai. Para pengasong dikejar-kejar oleh aparat pemerintah karena 'dianggap' menggangu ketertiban umum.
Sungguh ironi, dimana orang yang berniat baik dan terkendala modal dicap sebagai orang yang melanggar nilai agama. Dan setelah orang mau bertobat malah menjadi pelaku pelanggaran peraturan pemerintah. Lantas harus dimulai dari mana agar negara ini dapat mengurangi angka kemiskinan dan memperbaiki moral rakyatnya? Sudikah anda berbagi pendapat untuk memutus lingkaran setan ini?
Dalam film ini diceritakan, dimana seorang yang berpendidikan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Karena ilmu yang didapat adalah manajemen, maka ia mencoba mengatur kehidupan gerombolan pencopet supaya dapat menjadi orang yang mempunyai pekerjaan yang halal. Konflik dalam dirinya terjadi ketika hal ini dihubungkan dengan kehidupan rohani atau religinya, karena 'membenarkan' mencari modal dari hasil pekerjaan haram supaya para pencopet dapat bekerja secara halal.
Setelah modal terkumpul, dan dapat digunakan sebagai modal, bukannya masalah telah terselesaikan, bahkan sebaliknya, timbul masalah baru. MORAL, dimana para pencopet biasa mendapat penghasilan yang dapat dikatakan besar, mereka tidak dapat menerima jika pendapatannya berkurang jika mereka berubah menjadi pengasong. Adapun beberapa orang telah mau menjadi pengasong, persoalan belum juga selesai. Para pengasong dikejar-kejar oleh aparat pemerintah karena 'dianggap' menggangu ketertiban umum.
Sungguh ironi, dimana orang yang berniat baik dan terkendala modal dicap sebagai orang yang melanggar nilai agama. Dan setelah orang mau bertobat malah menjadi pelaku pelanggaran peraturan pemerintah. Lantas harus dimulai dari mana agar negara ini dapat mengurangi angka kemiskinan dan memperbaiki moral rakyatnya? Sudikah anda berbagi pendapat untuk memutus lingkaran setan ini?
Wednesday, September 29, 2010
Sepanjang Jalan.....
Saya mau berbagi tentang impian dan ide yang berhubungan dengan green living. Sudah lama saya tertarik dengan konsep hidup yang lebih baik untuk mengurangi beban bumi karena pemanasan global. Terlebih lagi kalau memngingat beberapa waktu lalu di negara kita tercinta, Indonesia terjadi kekurangan pasokan listrik.
Dalam suatu perjalanan ke kota Jogjakarta, saya melewati salah satu jalan alternatif, dimana disamping jalan tersebut terdapat saluran irigrasi yang panjang dan selalu dialiri dengan air. Terbesit sebuah ide, jika di sepanjang aliran ini dibangun PLTA skala kecil, apakah dapat mengurangi defisit pasokan listrik. Dari beberapa pendapat teman saya yang juga mempunyai kertetarikan dengan konsep hidup yang ramah lingkungan, banyak dari mereka mengatakan, bahwa hal itu kurang sesuai dengan nilai ke-ekonomisan. Dikarenakan nilai investasi yang terlalu besar untuk membangun PLTA-PLTA kecil sesuai dengan anggan-anggan saya sedangkan listrik yang dihasilkan relatif kecil.
Namun setelah membaca salah satu artikel di harian Kompas beberapa waktu yang lalu, saya jadi mempunyai keyakinan bahwa ide saya bukan hanya menjadi khayalan. Pada artikel itu terttulis di daerah Gunung Kidul Jogjakarta yang notabene merupakan daerah yang terkenal dengan kesulitannya dalam hal mendapatkan air, namun dengan kemauan warga, mereka berhasil membangun PLTA yang mampu menerangi seluruh jalan di sebuah desa. Kenapa hanya jalan desa? Ini lebih dikarenakan kebijakan dari warga supaya tidak terjadi kecemburuan antarwarga karena kebutuhan listrik setiap rumah berbeda. Lalu apa keuntungan dari warga desa tersebut setelah seluruh jalan menjadi terang? Keamanan di desa mereka jadi meningkat, tindak kejahatan di malam hari jauh berkurang.
Kalau kita hitung, berapa banyak saluran irigrasi di negara kita? Tentulah sangat banyak jika menilik bahwasannya negara kita merupakan negara agraris. Jika kita berhitung, tentunya hal ini dalam menerangi seluruh jalan di pedesaan yang memiliki saluran irigrasi. Berapa KWH yang mampu dihasilkan dan membantu percepatan menyediakan listrik 10.000 Megawatt yang merupakan program dari pemerintah. Semoga anggan-anggan saya Menggugah pihak-pihak terkait, khususnya instansi yang berkaitan dengan listrik yaitu PLN. semoga ......
Dalam suatu perjalanan ke kota Jogjakarta, saya melewati salah satu jalan alternatif, dimana disamping jalan tersebut terdapat saluran irigrasi yang panjang dan selalu dialiri dengan air. Terbesit sebuah ide, jika di sepanjang aliran ini dibangun PLTA skala kecil, apakah dapat mengurangi defisit pasokan listrik. Dari beberapa pendapat teman saya yang juga mempunyai kertetarikan dengan konsep hidup yang ramah lingkungan, banyak dari mereka mengatakan, bahwa hal itu kurang sesuai dengan nilai ke-ekonomisan. Dikarenakan nilai investasi yang terlalu besar untuk membangun PLTA-PLTA kecil sesuai dengan anggan-anggan saya sedangkan listrik yang dihasilkan relatif kecil.
Namun setelah membaca salah satu artikel di harian Kompas beberapa waktu yang lalu, saya jadi mempunyai keyakinan bahwa ide saya bukan hanya menjadi khayalan. Pada artikel itu terttulis di daerah Gunung Kidul Jogjakarta yang notabene merupakan daerah yang terkenal dengan kesulitannya dalam hal mendapatkan air, namun dengan kemauan warga, mereka berhasil membangun PLTA yang mampu menerangi seluruh jalan di sebuah desa. Kenapa hanya jalan desa? Ini lebih dikarenakan kebijakan dari warga supaya tidak terjadi kecemburuan antarwarga karena kebutuhan listrik setiap rumah berbeda. Lalu apa keuntungan dari warga desa tersebut setelah seluruh jalan menjadi terang? Keamanan di desa mereka jadi meningkat, tindak kejahatan di malam hari jauh berkurang.
Kalau kita hitung, berapa banyak saluran irigrasi di negara kita? Tentulah sangat banyak jika menilik bahwasannya negara kita merupakan negara agraris. Jika kita berhitung, tentunya hal ini dalam menerangi seluruh jalan di pedesaan yang memiliki saluran irigrasi. Berapa KWH yang mampu dihasilkan dan membantu percepatan menyediakan listrik 10.000 Megawatt yang merupakan program dari pemerintah. Semoga anggan-anggan saya Menggugah pihak-pihak terkait, khususnya instansi yang berkaitan dengan listrik yaitu PLN. semoga ......
Labels:
10.000,
green,
green living,
irigrasi,
listrik,
living,
pemerintah,
PLTA,
program,
watt
Tuesday, March 30, 2010
Wiraswasta itu enak(menurut pendapat banyak orang)
Kerja apa pak? Tanya seorang yang baru saya kenal disela-sela waktu menunggu kedatangan kereta api yang akan membawa kami ke kota tujuan yang sama. 'Wiraswasta' jawab saya. Sepontan bapak yang baru saya kenal mengutarakan pendapatnya 'Enak ya jadi wiraswasta, kerja tidak ada yang memarahi, hasilnya lumayan'. Ya begitulah pandangan kebanyakan orang tentang wiraswasta.
Hal yang sudah umum untuk melihat sesuatu hanya dari segi positifnya saja atas pekerjaan orang lain. Sebenarnya dibalik segi positif yang terlihat begitu menggiurkan ternyata tersimpan juga sisi negatifnya(resiko dan kesulitan) dalam berwiraswasta.
Banyak hal sisi negatif sebagai wiraswasta. Yang pertama dan mendasar adalah modal, untuk membangun usaha kita memerlukan modal. Dengan asumsi kita sudah memiliki gagasan atas usaha yang akan kita geluti. Nominal uang yang dibutuhkan juga tidak sedikit, karena selain kita harus menyediakan modal awal sebagai awal usaha kita, kita juga harus menyediakan dana untuk operasional usaha kita minimal 1 tahun setelah usaha kita dimulai. Karena usaha baru ada kemungkinan bisa dikatakan mulai berjalan setelah 1 tahun. Kita mesthi besabar dalam membentuk pasar yang menjadi target penjualan(konsumen) atas usaha kita.
Setelah modal ada dan persiapan memulai usaha telah selesai, kita memulai fase untuk diuji kesabarannya. Pada umumnya pada awal-awal memulai usaha penghasilan bersihnya (laba) mengalami angka minus atau merugi. Hal ini disebabkan konsumen belum terlalu banyak. Untuk bisa menutupi biaya operasional(gaji pegawai,listrik, dan pengeluaran rutin untuk berjalannya usaha kita) pada beberapa bulan setelah kita membuka usaha adalah pencapaian yang bagus. Meski ada juga jenis usaha yang ramai diawal memulai usaha dan jika tidak sesuai dengan selera pasar malah merugi setelah beberapa saat usaha dimulai, contohnya usaha makanan. Biasanya orang akan tertarik untuk mencoba makan di rumah makan baru untuk mengetahui rasa,suasana dan pelayanannya, apakah sesuai dengan harga jual. Dan hal ini yang membuat banyak orang berbondong-bondong mencoba makan di rumah makan baru tersebut, dan jika harga,pelayanam, dan suasananya tidak sebanding dengan harga makan berangsur-angsur konsumen tidak akan makan dirumah makan tersebut lagi.
Kesulitan yang lain sebagai wiraswasta adalah pengelolaan keuangan. Dimana mereka mendapat pemasukan sedikit setiap hari, namun pada saat tertentu pengeluarannya besar untuk membeli barang dagangan. Disini wiraswasta dituntut untuk dapat membedakan pendapatan yang merupakan laba atau simpanan untuk membeli barang dagangan.
Setelah usaha berjalan(laba dapat menutupi biaya operasional) wiraswasta mesti mengusahakan supaya usahanya terus berkembang. Supaya usahanya tidak tergerus kemajuan jaman, wiraswasta harus membuka wawasan agar usahanya bisa tetap berjalan seiring kemajuan jaman.
Susah juga ya jadi wiraswasta? :) . Tapi yang seharusnya selalu berpikir positif adalah wiraswasta itu sendiri,supaya usahanya terus berkembang. Karena karyawan yang anda pekerjakan juga mengginginkan perkembangan taraf hidupnya.
Hal yang sudah umum untuk melihat sesuatu hanya dari segi positifnya saja atas pekerjaan orang lain. Sebenarnya dibalik segi positif yang terlihat begitu menggiurkan ternyata tersimpan juga sisi negatifnya(resiko dan kesulitan) dalam berwiraswasta.
Banyak hal sisi negatif sebagai wiraswasta. Yang pertama dan mendasar adalah modal, untuk membangun usaha kita memerlukan modal. Dengan asumsi kita sudah memiliki gagasan atas usaha yang akan kita geluti. Nominal uang yang dibutuhkan juga tidak sedikit, karena selain kita harus menyediakan modal awal sebagai awal usaha kita, kita juga harus menyediakan dana untuk operasional usaha kita minimal 1 tahun setelah usaha kita dimulai. Karena usaha baru ada kemungkinan bisa dikatakan mulai berjalan setelah 1 tahun. Kita mesthi besabar dalam membentuk pasar yang menjadi target penjualan(konsumen) atas usaha kita.
Setelah modal ada dan persiapan memulai usaha telah selesai, kita memulai fase untuk diuji kesabarannya. Pada umumnya pada awal-awal memulai usaha penghasilan bersihnya (laba) mengalami angka minus atau merugi. Hal ini disebabkan konsumen belum terlalu banyak. Untuk bisa menutupi biaya operasional(gaji pegawai,listrik, dan pengeluaran rutin untuk berjalannya usaha kita) pada beberapa bulan setelah kita membuka usaha adalah pencapaian yang bagus. Meski ada juga jenis usaha yang ramai diawal memulai usaha dan jika tidak sesuai dengan selera pasar malah merugi setelah beberapa saat usaha dimulai, contohnya usaha makanan. Biasanya orang akan tertarik untuk mencoba makan di rumah makan baru untuk mengetahui rasa,suasana dan pelayanannya, apakah sesuai dengan harga jual. Dan hal ini yang membuat banyak orang berbondong-bondong mencoba makan di rumah makan baru tersebut, dan jika harga,pelayanam, dan suasananya tidak sebanding dengan harga makan berangsur-angsur konsumen tidak akan makan dirumah makan tersebut lagi.
Kesulitan yang lain sebagai wiraswasta adalah pengelolaan keuangan. Dimana mereka mendapat pemasukan sedikit setiap hari, namun pada saat tertentu pengeluarannya besar untuk membeli barang dagangan. Disini wiraswasta dituntut untuk dapat membedakan pendapatan yang merupakan laba atau simpanan untuk membeli barang dagangan.
Setelah usaha berjalan(laba dapat menutupi biaya operasional) wiraswasta mesti mengusahakan supaya usahanya terus berkembang. Supaya usahanya tidak tergerus kemajuan jaman, wiraswasta harus membuka wawasan agar usahanya bisa tetap berjalan seiring kemajuan jaman.
Susah juga ya jadi wiraswasta? :) . Tapi yang seharusnya selalu berpikir positif adalah wiraswasta itu sendiri,supaya usahanya terus berkembang. Karena karyawan yang anda pekerjakan juga mengginginkan perkembangan taraf hidupnya.
Wiraswasta itu enak(menurut pendapat banyak orang)
Kerja apa pak? Tanya seorang yang baru saya kenal disela-sela waktu menunggu kedatangan kereta api yang akan membawa kami ke kota tujuan yang sama. 'Wiraswasta' jawab saya. Sepontan bapak yang baru saya kenal mengutarakan pendapatnya 'Enak ya jadi wiraswasta, kerja tidak ada yang memarahi, hasilnya lumayan'. Ya begitulah pandangan kebanyakan orang tentang wiraswasta.
Hal yang sudah umum untuk melihat sesuatu hanya dari segi positifnya saja atas pekerjaan orang lain. Sebenarnya dibalik segi positif yang terlihat begitu menggiurkan ternyata tersimpan juga sisi negatifnya(resiko dan kesulitan) dalam berwiraswasta.
Banyak hal sisi negatif sebagai wiraswasta. Yang pertama dan mendasar adalah modal, untuk membangun usaha kita memerlukan modal. Dengan asumsi kita sudah memiliki gagasan atas usaha yang akan kita geluti. Nominal uang yang dibutuhkan juga tidak sedikit, karena selain kita harus menyediakan modal awal sebagai awal usaha kita, kita juga harus menyediakan dana untuk operasional usaha kita minimal 1 tahun setelah usaha kita dimulai. Karena usaha baru ada kemungkinan bisa dikatakan mulai berjalan setelah 1 tahun. Kita mesthi besabar dalam membentuk pasar yang menjadi target penjualan(konsumen) atas usaha kita.
Setelah modal ada dan persiapan memulai usaha telah selesai, kita memulai fase untuk diuji kesabarannya. Pada umumnya pada awal-awal memulai usaha penghasilan bersihnya (laba) mengalami angka minus atau merugi. Hal ini disebabkan konsumen belum terlalu banyak. Untuk bisa menutupi biaya operasional(gaji pegawai,listrik, dan pengeluaran rutin untuk berjalannya usaha kita) pada beberapa bulan setelah kita membuka usaha adalah pencapaian yang bagus. Meski ada juga jenis usaha yang ramai diawal memulai usaha dan jika tidak sesuai dengan selera pasar malah merugi setelah beberapa saat usaha dimulai, contohnya usaha makanan. Biasanya orang akan tertarik untuk mencoba makan di rumah makan baru untuk mengetahui rasa,suasana dan pelayanannya, apakah sesuai dengan harga jual. Dan hal ini yang membuat banyak orang berbondong-bondong mencoba makan di rumah makan baru tersebut, dan jika harga,pelayanam, dan suasananya tidak sebanding dengan harga makan berangsur-angsur konsumen tidak akan makan dirumah makan tersebut lagi.
Kesulitan yang lain sebagai wiraswasta adalah pengelolaan keuangan. Dimana mereka mendapat pemasukan sedikit setiap hari, namun pada saat tertentu pengeluarannya besar untuk membeli barang dagangan. Disini wiraswasta dituntut untuk dapat membedakan pendapatan yang merupakan laba atau simpanan untuk membeli barang dagangan.
Setelah usaha berjalan(laba dapat menutupi biaya operasional) wiraswasta mesti mengusahakan supaya usahanya terus berkembang. Supaya usahanya tidak tergerus kemajuan jaman, wiraswasta harus membuka wawasan agar usahanya bisa tetap berjalan seiring kemajuan jaman.
Susah juga ya jadi wiraswasta? :) . Tapi yang seharusnya selalu berpikir positif adalah wiraswasta itu sendiri,supaya usahanya terus berkembang. Karena karyawan yang anda pekerjakan juga mengginginkan perkembangan taraf hidupnya.
Hal yang sudah umum untuk melihat sesuatu hanya dari segi positifnya saja atas pekerjaan orang lain. Sebenarnya dibalik segi positif yang terlihat begitu menggiurkan ternyata tersimpan juga sisi negatifnya(resiko dan kesulitan) dalam berwiraswasta.
Banyak hal sisi negatif sebagai wiraswasta. Yang pertama dan mendasar adalah modal, untuk membangun usaha kita memerlukan modal. Dengan asumsi kita sudah memiliki gagasan atas usaha yang akan kita geluti. Nominal uang yang dibutuhkan juga tidak sedikit, karena selain kita harus menyediakan modal awal sebagai awal usaha kita, kita juga harus menyediakan dana untuk operasional usaha kita minimal 1 tahun setelah usaha kita dimulai. Karena usaha baru ada kemungkinan bisa dikatakan mulai berjalan setelah 1 tahun. Kita mesthi besabar dalam membentuk pasar yang menjadi target penjualan(konsumen) atas usaha kita.
Setelah modal ada dan persiapan memulai usaha telah selesai, kita memulai fase untuk diuji kesabarannya. Pada umumnya pada awal-awal memulai usaha penghasilan bersihnya (laba) mengalami angka minus atau merugi. Hal ini disebabkan konsumen belum terlalu banyak. Untuk bisa menutupi biaya operasional(gaji pegawai,listrik, dan pengeluaran rutin untuk berjalannya usaha kita) pada beberapa bulan setelah kita membuka usaha adalah pencapaian yang bagus. Meski ada juga jenis usaha yang ramai diawal memulai usaha dan jika tidak sesuai dengan selera pasar malah merugi setelah beberapa saat usaha dimulai, contohnya usaha makanan. Biasanya orang akan tertarik untuk mencoba makan di rumah makan baru untuk mengetahui rasa,suasana dan pelayanannya, apakah sesuai dengan harga jual. Dan hal ini yang membuat banyak orang berbondong-bondong mencoba makan di rumah makan baru tersebut, dan jika harga,pelayanam, dan suasananya tidak sebanding dengan harga makan berangsur-angsur konsumen tidak akan makan dirumah makan tersebut lagi.
Kesulitan yang lain sebagai wiraswasta adalah pengelolaan keuangan. Dimana mereka mendapat pemasukan sedikit setiap hari, namun pada saat tertentu pengeluarannya besar untuk membeli barang dagangan. Disini wiraswasta dituntut untuk dapat membedakan pendapatan yang merupakan laba atau simpanan untuk membeli barang dagangan.
Setelah usaha berjalan(laba dapat menutupi biaya operasional) wiraswasta mesti mengusahakan supaya usahanya terus berkembang. Supaya usahanya tidak tergerus kemajuan jaman, wiraswasta harus membuka wawasan agar usahanya bisa tetap berjalan seiring kemajuan jaman.
Susah juga ya jadi wiraswasta? :) . Tapi yang seharusnya selalu berpikir positif adalah wiraswasta itu sendiri,supaya usahanya terus berkembang. Karena karyawan yang anda pekerjakan juga mengginginkan perkembangan taraf hidupnya.
Thursday, March 25, 2010
Manajemen keuangan itu fleksibel
Manajemen keuangan fleksibel disini dikarenakan disesuaikan dengan masing pekerjaan anda. Bukannya kita dapat merubah(pada umumnya pengeluarannya membengkak) sesuai keinginan kita, bukannya karena kebutuhan terutama kebutuhan yang mendadak.
Tiap pekerjaan yang kita tekuni memiliki manajemen keuangan yang berbeda-beda. Meskipun sama-sama berdagang, tentunya akan berbeda cara mengatur keuangan jika jenis barang yang diperdagangkan juga berbeda.
Contohnya usaha dagang dengan barang dagangan barang kebutuhan pokok (lebih dikenal dengan toko kelontong /meracangan) dengan toko pakaian. Toko yang menjual barang kebutuhan pokok akan lebih mementingkan omsetnya. Karena mayoritas keuntungannya relatif kecil, namun toko yang menjual pakaian tentunya akan cenderung lebih mengutamakan kualitas dari laba. Hal ini dikarenakan orang tidak tiap hari membutuhkan(membeli) pakaian sedangkan barang kebutuhan pokok dibutuhkan setiap hari oleh manusia untuk kelangsungan hidupnya.
Meski sama-sama bekerja sebagai pedagan, namun manajemen keuangannya sudah berbeda. Bagaimana kalau pekerjaannya berbeda jauh? Semisal petani dan karyawan. Karyawan tiap awal bulan menerima gaji, mereka perlu mengatur keuangannya agar dapat bertahan hinga akhir bulan. Sedangkan petani menerima pendapatan tiap habis memanen dan harus menyisakan sebagian pendapatannya untuk persiapan musim tanam berikutnya dan mengatur pendapatannya sampai masa panen berikutnya.
Lebih enak yang mana? Pedagang yang setiap hari memperoleh pendapatan, karyawan yang tiap bulan mendapat gaji atau petani yang pada masa panen mendapat penghasilan? Pendapat saya, sama saja. Karena pendapatan tiap hari dari pedagang dalam satu bulan kurang lebih equivalen(setara) dengan gaji karyawan tiap bulannya. Begitu juga jika pendapatan karyawan dan pedagang dibandingkan dengan pendapatan petani. Yang berbeda hanya waktu penerimaannya saja.
Untuk jumlah pendapatan, tergantung dari besar kecilnya usaha. Jika petani ingin berpendapatan lebih maka yang harus dilakukan adalah menambah luas tanah garapan, sedangkan pedagang dengan menambah omset penjualan dan karyawan dengan naik jabatan.
Hal ini menarik untuk saya tulis atas dasar keluhan seorang teman yang berprofesi sebagai petani. Dia mengeluh karena pendapatan yang diperolehnya beberapa bulan sekali.
Sebenarnya yang menjadi masalah bukan kapan kita mendapatkan penghasilan, namun bagaimana mengelola pendapatan kita. Setujukah anda akan hal ini?
Tiap pekerjaan yang kita tekuni memiliki manajemen keuangan yang berbeda-beda. Meskipun sama-sama berdagang, tentunya akan berbeda cara mengatur keuangan jika jenis barang yang diperdagangkan juga berbeda.
Contohnya usaha dagang dengan barang dagangan barang kebutuhan pokok (lebih dikenal dengan toko kelontong /meracangan) dengan toko pakaian. Toko yang menjual barang kebutuhan pokok akan lebih mementingkan omsetnya. Karena mayoritas keuntungannya relatif kecil, namun toko yang menjual pakaian tentunya akan cenderung lebih mengutamakan kualitas dari laba. Hal ini dikarenakan orang tidak tiap hari membutuhkan(membeli) pakaian sedangkan barang kebutuhan pokok dibutuhkan setiap hari oleh manusia untuk kelangsungan hidupnya.
Meski sama-sama bekerja sebagai pedagan, namun manajemen keuangannya sudah berbeda. Bagaimana kalau pekerjaannya berbeda jauh? Semisal petani dan karyawan. Karyawan tiap awal bulan menerima gaji, mereka perlu mengatur keuangannya agar dapat bertahan hinga akhir bulan. Sedangkan petani menerima pendapatan tiap habis memanen dan harus menyisakan sebagian pendapatannya untuk persiapan musim tanam berikutnya dan mengatur pendapatannya sampai masa panen berikutnya.
Lebih enak yang mana? Pedagang yang setiap hari memperoleh pendapatan, karyawan yang tiap bulan mendapat gaji atau petani yang pada masa panen mendapat penghasilan? Pendapat saya, sama saja. Karena pendapatan tiap hari dari pedagang dalam satu bulan kurang lebih equivalen(setara) dengan gaji karyawan tiap bulannya. Begitu juga jika pendapatan karyawan dan pedagang dibandingkan dengan pendapatan petani. Yang berbeda hanya waktu penerimaannya saja.
Untuk jumlah pendapatan, tergantung dari besar kecilnya usaha. Jika petani ingin berpendapatan lebih maka yang harus dilakukan adalah menambah luas tanah garapan, sedangkan pedagang dengan menambah omset penjualan dan karyawan dengan naik jabatan.
Hal ini menarik untuk saya tulis atas dasar keluhan seorang teman yang berprofesi sebagai petani. Dia mengeluh karena pendapatan yang diperolehnya beberapa bulan sekali.
Sebenarnya yang menjadi masalah bukan kapan kita mendapatkan penghasilan, namun bagaimana mengelola pendapatan kita. Setujukah anda akan hal ini?
Subscribe to:
Posts (Atom)