Ini bukan menceritakan kisah seorang guru yang tinggal di kota Malang, dan bukan juga cerita romantisme anak asuh yang jatuh cinta kepada gurunya(kebanyakan nonton sinetron kali yeeee). Cerita ini berawal dari obrolan santai sebuah Group di perangkat keras telepon seluler buatan Kanada. Kebetulan kami alumnus sebuah perguruan tinggi membuat group untuk sekedar ngobrol atau bertukar informasi.
Pada saat suatu topik membahas dosen, seorang teman yang telah berprofesi sebagai guru berbagi cerita, kalau beberapa dosen pernah ke sekolahnya untuk mempresentasikan kampus kami. Betapa bahagianya teman saya itu, bisa membanggakan kampusnya dahulu, dan bertemu dengan dosen yang pernah mengajarnya.Mungkin teman saya juga sudah siap jika sang dosen tidak menggingat teman saya, maklum anak asuhnya bertambah dari tahun ke tahun , dan jika teman saya tidak mempunyai ciri khas, tentunya sang dosen tidak mengginggatnya.
Setelah bercakap-cakap, sang dosen terkejut karena salah seorang guru di sekolah yersebut adalah anak didiknya. Tapi teman saya dibuat lebih terkejut lagi dengan pernyataan seorang dosen 'dengan ipk(indek prestasi kuliah) yang hanya cukup, apakah kamu bisa mengajar?'.
Yang buat saya berpikir, begitu congkaknya orang-orang pandai yang telah menjadi dosen. Dan yang lebih mengenaskan, kenapa dosennya tidak merasa ikut senang atas kesuksesan muridnya, terlepas dari berapa ipknya. Begitu malangnya dosenku, dan begitu sayangnya guruku(teman yang menjadi dosen).
Tuesday, April 26, 2011
Thursday, January 20, 2011
Rasanya.......
Jika berhubungan dengan makanan, ada pedas, asin, manis, asam atau campuran dari beberapa rasa. Yang mana yang enak, suatu hal yang sangatlah subjektif. Namun yang paling menyiksa jika seseorang suka suatu rasa, semisal pedas, namun karena suatu dan lain hal, orang tersebut tidak dapat lagi mengonsumsi makanan pedas, bisa karena orang tersebut mempunyai penyakit maag(lambung)
Dan jika menyangkut hati atau perasaan orang, rasa adalah yang brhungan dengan hati. Senang, susah, jatuh cinta, marah, benci dan masih banyak poerasaan yang lain. Hal ini juga merupakan sesuatu yang subjektif, seperti rasa makanan. Yang dapat menilai adalah individu per individu. Dan yang lebih mencengangkan, rasa tidak ada takaran atau standarnya.
Lalu mengapa saya membahas sesuatu tentang rasa, suatu hal yuang tidak terukur dan subjektif? Karena saya merasa hal ini adalah kelebihan manusia. Segala kegiatan tentulah berhubungan dengan rasa. Dan itu berpengaruh kepada hasil akhir suatu kegiatan. Entah dari kualitas dari hasil maupun waktu yang dibutuhkan oleh individu untuk mencapai suatu tujuan.
Kadang kala saya merasa kasihan dimana ada orang yang takut atau khawatir jika pekerjaannya tergantikan oleh orang lain, yang lebih mengenaskan jika ada orang yang ketakutan jika profesinya tergantikan oleh mesin. Bukanlah robot atau mesin tidak mempunyai perasaan? Bukankah kita sebagai makhluk yang dikaruniai perasaan akan mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan robot ataupun mesin? Lalu akan muncul pertanyaan, mengapa diciptakan mesin? Orang menciptakan mesin karena kita butuh standarisasi produk, dan efisiensi. Namun kalau tidak ada manusia, apakah mesin atau robot akan 'ada' dan lebih jauh lagi dapat beroperasi? Bukankah mesin juga membutuhkan manusia. Dan yang lebih mendasar lagi, apakah anda percaya jika rejeki itu adalaj karunia Yang DiAtas dan Dia tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan umat-Nya? Jika ya maka pergunakanlah hati sebaik-baiknya dan jagalah kondisinya. Dan pertanyaan terakhir setujukah anda dengan pandangan saya?
Dan jika menyangkut hati atau perasaan orang, rasa adalah yang brhungan dengan hati. Senang, susah, jatuh cinta, marah, benci dan masih banyak poerasaan yang lain. Hal ini juga merupakan sesuatu yang subjektif, seperti rasa makanan. Yang dapat menilai adalah individu per individu. Dan yang lebih mencengangkan, rasa tidak ada takaran atau standarnya.
Lalu mengapa saya membahas sesuatu tentang rasa, suatu hal yuang tidak terukur dan subjektif? Karena saya merasa hal ini adalah kelebihan manusia. Segala kegiatan tentulah berhubungan dengan rasa. Dan itu berpengaruh kepada hasil akhir suatu kegiatan. Entah dari kualitas dari hasil maupun waktu yang dibutuhkan oleh individu untuk mencapai suatu tujuan.
Kadang kala saya merasa kasihan dimana ada orang yang takut atau khawatir jika pekerjaannya tergantikan oleh orang lain, yang lebih mengenaskan jika ada orang yang ketakutan jika profesinya tergantikan oleh mesin. Bukanlah robot atau mesin tidak mempunyai perasaan? Bukankah kita sebagai makhluk yang dikaruniai perasaan akan mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan robot ataupun mesin? Lalu akan muncul pertanyaan, mengapa diciptakan mesin? Orang menciptakan mesin karena kita butuh standarisasi produk, dan efisiensi. Namun kalau tidak ada manusia, apakah mesin atau robot akan 'ada' dan lebih jauh lagi dapat beroperasi? Bukankah mesin juga membutuhkan manusia. Dan yang lebih mendasar lagi, apakah anda percaya jika rejeki itu adalaj karunia Yang DiAtas dan Dia tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan umat-Nya? Jika ya maka pergunakanlah hati sebaik-baiknya dan jagalah kondisinya. Dan pertanyaan terakhir setujukah anda dengan pandangan saya?
Saturday, January 8, 2011
Rapor
Bagi yang masih sekolah, mungkin sekarang saatnya pengembalian rapor karena habis libur tengah semester, kalau anda sedang kuliah, sekarang ini masa dimana jantung anda berolahraga, menantikan hasil mata kuliah yang anda tempuh selama setengah tahun yang lalu. Namun disini saya bukan ingin membahas rapor seperti bayangan anda. Melainkan 'Rapor kehidupan'.
Aneh??? Sedikit aneh menurut saya kehidupan ini bak kita menempuh pendidikan. Dimana banyak mata pelajaran yang harus kita ambil, dan di tiap mata pelajaran memiliki nilai. Kalau anda binggung dan tidak percaya mari kita bahas lebih mendalam.
Kita akan bernostalgia dengan keadaan atau situasi sewaktu di SD. Tentunya kita semua pernah menempuh pendidikan itu. Simpel saja, di SD ada mata pelajaran Agama. Di kehidupan ini mata pelajaran tersebut akan kita ikuti sampai kita 'kembali kepadaNya. Suatu yang berhubungan dengan kedekatan kita pada Sang Pencipta. Ada juga pelajaran PPKN(jaman saya sekolah lebih dikenal dengan PMP), pelajaran tentang moral, kalau pelajaran Agama bersifat vertikal, maka PPKN lebih bersifat horisontal, namun tetap pondasi atau dasarnuya adalah hati. Lalu ada pelajaran IPS, yang mengajak kita lebih menjadi makhluk sosial, dan IPA yang berhubungan dengan alam.
Lalu apa yang menjadikan menarik? Ternyata hidup lebih kondisional, dimana kita dihadapkan pilihan mata pelajaran mana yang akan kita prioritaskan. Tidak seperti sekolah, dengan belajar supaya dapat mengerjakan ujian, maka nilai di rapor kita tentu akan bagus semuanya. Di saat kita ingin menjadi makmur, maka banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mencapai tujuan kita. Jika ongin cepat makmur, maka konsekuensinya akan ada nilai di rapor kita yang merah. Contoh extrem dengan berjudi(walau sebenarnya hidup adalah perjudian), atau menipu orang.
Memang kita bisa mendapat nilai yang sedang-sedang di semua mata pelajaran, namun konsekuensinya tujuan kita juga akan lamban juga tercapainya. Nah, sekarang nilai rapor kehidupan anda sepenuhnya ada di tangan anda, mau mengorbankan salah satu mata pelajaran, atau anda lebih memilih nilai yang rata-rata namun hidup tentram. Selamat menjalani hidup ini.....
Aneh??? Sedikit aneh menurut saya kehidupan ini bak kita menempuh pendidikan. Dimana banyak mata pelajaran yang harus kita ambil, dan di tiap mata pelajaran memiliki nilai. Kalau anda binggung dan tidak percaya mari kita bahas lebih mendalam.
Kita akan bernostalgia dengan keadaan atau situasi sewaktu di SD. Tentunya kita semua pernah menempuh pendidikan itu. Simpel saja, di SD ada mata pelajaran Agama. Di kehidupan ini mata pelajaran tersebut akan kita ikuti sampai kita 'kembali kepadaNya. Suatu yang berhubungan dengan kedekatan kita pada Sang Pencipta. Ada juga pelajaran PPKN(jaman saya sekolah lebih dikenal dengan PMP), pelajaran tentang moral, kalau pelajaran Agama bersifat vertikal, maka PPKN lebih bersifat horisontal, namun tetap pondasi atau dasarnuya adalah hati. Lalu ada pelajaran IPS, yang mengajak kita lebih menjadi makhluk sosial, dan IPA yang berhubungan dengan alam.
Lalu apa yang menjadikan menarik? Ternyata hidup lebih kondisional, dimana kita dihadapkan pilihan mata pelajaran mana yang akan kita prioritaskan. Tidak seperti sekolah, dengan belajar supaya dapat mengerjakan ujian, maka nilai di rapor kita tentu akan bagus semuanya. Di saat kita ingin menjadi makmur, maka banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mencapai tujuan kita. Jika ongin cepat makmur, maka konsekuensinya akan ada nilai di rapor kita yang merah. Contoh extrem dengan berjudi(walau sebenarnya hidup adalah perjudian), atau menipu orang.
Memang kita bisa mendapat nilai yang sedang-sedang di semua mata pelajaran, namun konsekuensinya tujuan kita juga akan lamban juga tercapainya. Nah, sekarang nilai rapor kehidupan anda sepenuhnya ada di tangan anda, mau mengorbankan salah satu mata pelajaran, atau anda lebih memilih nilai yang rata-rata namun hidup tentram. Selamat menjalani hidup ini.....
Thursday, January 6, 2011
Korek Api
Barang yang kecil, sepele, tapi banyak manfaatnya. Bayangkan jika tidak ada korek api, betapa susahnya ibu-ibu rumah tangga jika ingin memasak(terutama beberapa tahun yang lalu sebelum adanya kebijakan gas 3kg). Betapa susahnya juga bagi perokok( kebetulan saya juga seorang perokok).
Namun bukan itu semua yang mengelitik pikiran saya, saya kebetulan juga memiliki kertetarikan dengan green living(mungkin saya belum dapat mengaplikasikan dari hal yang kecil, karena saya perokok). Terlepas dari itu semua, saya hanya ada sebuah pemikiran yang mungkin sepele tapi mungkin akan menjadi bahan yang menarik untuk disimak. Antara keekonomisan suatu barang dan green living, dua hal yang sangat bertolak belakang.
Dari banyaknya merk korek api gas, ada salah satu merk korek api(Cri***t) yang tidak dapat diisi ulang. 'Lalu apa yang meresahkan anda jika suatu korek api tidak bisa diisi ulang, toh harga korek api gas berapa sih? Sehingga hal tersebut memancing anda untuk membahasnya'Mungkin pertanyanyaan-pertanyaan ini yang akan muncul di benak pembaca.
Mari kita lihatdari segi ekonomi, secara bisnis perusahaan itu telah dengan baik menerapkan strategi bisnisnya, dimana orang diharuskan membeli korek api jika gasnya telah habis. Perlu juga untuk para pembaca ketahui, harga korek api merk Cri***t lebih mahal dari korek api merk lain yang dapat diisi ulang. Tapi coba pembaca bayangkan, berapa plastik yang digunakan pabrik tersebut untuk berproduksi selama sebulan, dan itu juga berarti sama dengan banyaknya limbah plastik yang dihasilkan oleh konsumen korek api tersebut. Kita juga tahu bahwa plastik adalah zat yang tidak mudah terurai dan tidak ramah lingkungan.
Ya begitulah sulitnya menerapkan green living, seperti halnya lampu LED ataupun solarcell, karena harganya masih mahal, maka masih sedikit sekali orang yang memanfaatkannya, dan karena alasan ekonomis inilah yang membuat orang tidak bisa menerapkan green living. Mungkin anda juga akan bertanya dengan kebiasaan saya merokok, sementara saya belum berkomitmen untuk berhenti, namun proses untuk pengurangan konsumsi sudah saya lakukan walaupun belum signifikan. Maka dari itu saya belum berani mengajak pembaca untuk berkomitmen dengan green living :)
Namun bukan itu semua yang mengelitik pikiran saya, saya kebetulan juga memiliki kertetarikan dengan green living(mungkin saya belum dapat mengaplikasikan dari hal yang kecil, karena saya perokok). Terlepas dari itu semua, saya hanya ada sebuah pemikiran yang mungkin sepele tapi mungkin akan menjadi bahan yang menarik untuk disimak. Antara keekonomisan suatu barang dan green living, dua hal yang sangat bertolak belakang.
Dari banyaknya merk korek api gas, ada salah satu merk korek api(Cri***t) yang tidak dapat diisi ulang. 'Lalu apa yang meresahkan anda jika suatu korek api tidak bisa diisi ulang, toh harga korek api gas berapa sih? Sehingga hal tersebut memancing anda untuk membahasnya'Mungkin pertanyanyaan-pertanyaan ini yang akan muncul di benak pembaca.
Mari kita lihatdari segi ekonomi, secara bisnis perusahaan itu telah dengan baik menerapkan strategi bisnisnya, dimana orang diharuskan membeli korek api jika gasnya telah habis. Perlu juga untuk para pembaca ketahui, harga korek api merk Cri***t lebih mahal dari korek api merk lain yang dapat diisi ulang. Tapi coba pembaca bayangkan, berapa plastik yang digunakan pabrik tersebut untuk berproduksi selama sebulan, dan itu juga berarti sama dengan banyaknya limbah plastik yang dihasilkan oleh konsumen korek api tersebut. Kita juga tahu bahwa plastik adalah zat yang tidak mudah terurai dan tidak ramah lingkungan.
Ya begitulah sulitnya menerapkan green living, seperti halnya lampu LED ataupun solarcell, karena harganya masih mahal, maka masih sedikit sekali orang yang memanfaatkannya, dan karena alasan ekonomis inilah yang membuat orang tidak bisa menerapkan green living. Mungkin anda juga akan bertanya dengan kebiasaan saya merokok, sementara saya belum berkomitmen untuk berhenti, namun proses untuk pengurangan konsumsi sudah saya lakukan walaupun belum signifikan. Maka dari itu saya belum berani mengajak pembaca untuk berkomitmen dengan green living :)
Saturday, January 1, 2011
Uang
Kalo kita bicara tentang uang, tidak akan ada habisnya, karena pokok bahasannya sangat luas. Dari fungsi utama dari uang yaitu sebagai sarana bertransaksi, sampai pengaruh negatif dari uang. Sebenarnya pengaruh yang terjadi yang 'diakibatkan' oleh uang merupakan efek akibat keserahan manusia.
Tidak jarang kita dengar ada keretakan hubungan antar sesama manusia yang diakibatkan karena uang. Entah itu hubungan persaudaraan(darah) ataupun hubungan pertemanan. Sehingga banyak pendapat dari kawan-kawan saya bahwa uang itu jahat. Sebaiknya pertemanan jangan sampai ada sangkut pautnya dengan uang. Uang itu jahat. Kata mereka, namun menurut saya itu juga tergantung dari pribadi masing-masing manusianya. Jika ada niat buruk, tentulah akan ada kejadian yang kurang menyenangkan akan menyertainya.
Pernah suatu hari, saya 'memberi harga' konsumen dengan sejumlah uang. Hal ini terjadi karena niat baik saya untuk menolongnya akhirnya disalahgunakan. Selama ini bisnis saya dijalankan dengan sistem tunai, karena suatu kasus khusus, sang pelanggan bercerita tentang kesulitannya kepada saya, setelah saya pertimbangkan akhirnya saya putuskan untuk menolong. Pertama-tama pembayarannya tepat waktu, sesuai dengan apa yang telah dijanjikan. Namun lama-kelamaan konsumen itu mempergunakan kesempatan yang telah saya berikan. Mulai dari pembayaran yang tidak tepat waktu, namonalnya pun tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan. Dan pada suatu waktu, hilanglah si konsumen tersebut.
Saya coba menerapkan 'manajemen ikhlas', mungkin rejeki itu belum menjadi hak saya atau saya kurang berderma, jadi inilah saatnya berderma dengan cara yang lain. Namun hal itu baru muncul setelah beberapa saat setelah kejadian tersebut, pada saat kejadian banyak hal yang berkecamuk dalam kepala saya. 'Apa benar nilai konsumen itu hanya X rupiah?', 'Apakah dia lebih memilih X rupiah daripada harga dirinya?', dan pikiran-pikiran negatif yang lain.
Dan pada Misa Natal(kebetulan saya beragama Katholik) saya mendapat pandangan baru. Kerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh, dan anda tidak akan menemui satu titik puas jika segala sesuatunya hanya ditakar dengan uang. Uang itu penting, namun hanya sebagai sarana. Yang terpenting dalam hidup ini adalah ketulusan dalam menjalankan segala sesuatu dengan sepenuh hati.
Bagaimana dengan anda? Setujukah dengan pandangan saya terhadap'uang' dan maukah anda melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati?(Walau terkadang, melakukan suatu hal tanpa pamrih itu suatu hal yang susah :) )
Tidak jarang kita dengar ada keretakan hubungan antar sesama manusia yang diakibatkan karena uang. Entah itu hubungan persaudaraan(darah) ataupun hubungan pertemanan. Sehingga banyak pendapat dari kawan-kawan saya bahwa uang itu jahat. Sebaiknya pertemanan jangan sampai ada sangkut pautnya dengan uang. Uang itu jahat. Kata mereka, namun menurut saya itu juga tergantung dari pribadi masing-masing manusianya. Jika ada niat buruk, tentulah akan ada kejadian yang kurang menyenangkan akan menyertainya.
Pernah suatu hari, saya 'memberi harga' konsumen dengan sejumlah uang. Hal ini terjadi karena niat baik saya untuk menolongnya akhirnya disalahgunakan. Selama ini bisnis saya dijalankan dengan sistem tunai, karena suatu kasus khusus, sang pelanggan bercerita tentang kesulitannya kepada saya, setelah saya pertimbangkan akhirnya saya putuskan untuk menolong. Pertama-tama pembayarannya tepat waktu, sesuai dengan apa yang telah dijanjikan. Namun lama-kelamaan konsumen itu mempergunakan kesempatan yang telah saya berikan. Mulai dari pembayaran yang tidak tepat waktu, namonalnya pun tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan. Dan pada suatu waktu, hilanglah si konsumen tersebut.
Saya coba menerapkan 'manajemen ikhlas', mungkin rejeki itu belum menjadi hak saya atau saya kurang berderma, jadi inilah saatnya berderma dengan cara yang lain. Namun hal itu baru muncul setelah beberapa saat setelah kejadian tersebut, pada saat kejadian banyak hal yang berkecamuk dalam kepala saya. 'Apa benar nilai konsumen itu hanya X rupiah?', 'Apakah dia lebih memilih X rupiah daripada harga dirinya?', dan pikiran-pikiran negatif yang lain.
Dan pada Misa Natal(kebetulan saya beragama Katholik) saya mendapat pandangan baru. Kerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh, dan anda tidak akan menemui satu titik puas jika segala sesuatunya hanya ditakar dengan uang. Uang itu penting, namun hanya sebagai sarana. Yang terpenting dalam hidup ini adalah ketulusan dalam menjalankan segala sesuatu dengan sepenuh hati.
Bagaimana dengan anda? Setujukah dengan pandangan saya terhadap'uang' dan maukah anda melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati?(Walau terkadang, melakukan suatu hal tanpa pamrih itu suatu hal yang susah :) )
Saturday, December 25, 2010
KESEMPATAN yang KESEMPITAN
Seiring dengan menanjaknya prestasi timnas sepakbola Indonesia(Christian Gonzales, Irfan Bachim,Bambang Pamuingkas,Bustami, Firman Utina,dkk) ada banyak kesempatan yang dapat kita pergunakan. Dalam dunia politik, seperti yang kita bisa kita baca di surat kabar, banyak partai yang membagikan tiket untuk menonton pertandingan final di jakarta. Ada acara bertemu dengan para pemimpin partai, yang mungkin mereka ingin mengapresiasi keberhasilan timnas sepakbola kita menembus final, namun menurut beberapa pengamat waktunya kurang pas.
Tidak hanya para politisi, perusahaan besar saja yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapat apa yang menjadi tujuan mereka. Ternyata pedagang kaki lima juga mendapat rejeki, dengan menjual kaos timnas sepakbola, tujuan pedagang kaki lima untuk meraup untung juga kesampaian. Dan yang lebih mengejutkan, ternyata bukan hanya pedagang kaki lima di Indonesia saja yang kebagian kesempatan untuk meraup keuntungan, ternyata ada pedagang kaki lima di Malaysia yang memanfaatkan momen ini.
Bagi pedagang kaki lima, ini merupakan KESEMPATAN yang keSEMPITan. Karena kurang beberapa hari final pertemuan edua akan berlangsung, dimana hal ini juga berarti bahwa tenggat waktu untuk mencari keuntungan telah habis. Selain itu setiap hari kompetitor bertambah banyak. Jadi yang ada sekarang adalah siapa cepat dia dapat.kak
Tidak hanya para politisi, perusahaan besar saja yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapat apa yang menjadi tujuan mereka. Ternyata pedagang kaki lima juga mendapat rejeki, dengan menjual kaos timnas sepakbola, tujuan pedagang kaki lima untuk meraup untung juga kesampaian. Dan yang lebih mengejutkan, ternyata bukan hanya pedagang kaki lima di Indonesia saja yang kebagian kesempatan untuk meraup keuntungan, ternyata ada pedagang kaki lima di Malaysia yang memanfaatkan momen ini.
Bagi pedagang kaki lima, ini merupakan KESEMPATAN yang keSEMPITan. Karena kurang beberapa hari final pertemuan edua akan berlangsung, dimana hal ini juga berarti bahwa tenggat waktu untuk mencari keuntungan telah habis. Selain itu setiap hari kompetitor bertambah banyak. Jadi yang ada sekarang adalah siapa cepat dia dapat.kak
Thursday, December 23, 2010
Korupsi dimana-mana
Sebenarnya saya binggung untuk memulai cerita dari mana, memang ini antara curahan hati(bahasa bekennya CURHAT), hasil analisa dan kenyataan. Awal mula saya akan coba deskripsikan mengenai korupsi, korupsi menurut saya adalah sesuatu yang kita pergunakan atau terima tetapi bukan merupakan hak kita.
Nah sekarang saya ingin berbagi cerita, saya mempunyai kios di sebuah pasar tradisional, lebih tepatnya memakai kios orang tua saya untuk mencoba mencari sesuap nasi(dramatis sekali...). Usaha utama dari kios adalah penjualan seragam sekolah. Setiap orang kenal atau menetahui jenis usaha saya sebagian orang pasti memberikan saran untuk mencoba menjadi pemasok sekolah, dan hal itu selalu saya tolak dengan alasan saya tidak biasa bermain'amplop'. Seperti kita tahu sudah menjadi hal yang lumrah jika kita 'membagikan' sedikit rejeki kepada orang yang telah membantu usaha kita. Alasan penolakan saya, saya harus menghitung ulang harga barang supaya harganya kompetitif namun tidak rugi jika harus memberikan 'amplop'. Menurut saya itu merepotkan, dan bisa jadi saya dijadikan 'langganan' atas pungli-pungli itu.
Roda kehidupan berputar, dan sampailah di saat saya harus berhadapan dengan pihak sekolah. Bisa dibilang ini suatu rejeki yang tidak saya harapan. Rejeki karena dimana keadaan pasar yang baru sepi namun saya mendapat konsumen baru, sedangkan hal ini tidak saya harapkan karena saya harus memberikan sesuatu yang bukan haknya. Pihak sekolah meminta saya memberikan stempel, hal yang tidak biasa terjadi di pasar tradisional, untungnya dapat saya tolak. Percobaan pertama telah terlewati, karena saya telah menghindari membantu korupsi. Jikalau nantinya oknum-oknum tersebut nota palsu, saya tidak menanggung dosa tersebut.
Setelah selesai transaksi, mereka meminta bonus, hal yang membuat saraf ketawa saya berkontraksi, anda siapa? Baru berbelanja sekian rupiah kok sudah meminta bonus, sedangkan banyak dari langganan saya yang transaksinya lebih rutin dan sebagian nominalnya melebihi oknum sekolah ini saja tidak pernah meminta bonus, pertimbangan apa yang mengharuskan saya memberi anda bonus.
Ternyata masalah belum selesai sampai titik ini, ternyata dari pertama kali oknum sekolah sampai di tempat saya, sudah ada 3 orang yang meminta komisi atas jasanya mengantarkan konsumen ke kios saya. Tiga orang??? Gila, preman dari mana saja ini? Karena saya tidak pernah menjumpai kejadian semacam ini, saya bertanya kepada karyawan saya(sudah berkecimpung di pasar selama 10 tahun), adat kebiasaannya bagaimana? Karyawan saya berkata, bahwa dia juga baru kali ini menjumpai hal ini, meski sudah lama bekerja di beberapa kios dan lama menjadi karyawan pasar. Saya mengutarakan, kalau dikasih X rupiah bagaimana? Wajarkah? Karyawan saya hanya menimpali, seikhlasnya saja, daripada memberi tetapi tidak ikhlas. Dan akhirnya diputuskan memberi sejumlah uang kepada salah seorang dan tolong dibagi buat bertiga.
Apakah tulisan saya ini menandakan saya belum ikhlas? Sebetulnya tidak, saya ikhlas, disini saya hanya ingin berbagi, kalau transaksi di pasar tradisional saja pungutan liarnya sudah seperti itu, ditambah (diskusi dari oknum sekolah yang saya dengar) rencana penjualan seragam yang akan di mark up(diambil untung yang tidak wajar), lalu saya berpikir mau jadi apa negeri ini? Bekerja mencari laba itu sudah pasti, akan tetapi alngkah lebih bijak tidak menggunakan kekuasaan atau pangkat untuk menumpuk kekayaan pribadi. Jika seorang oknum dari sekolah berbisnis peralatan sekolah, menurut pandangan saya kurang elok, dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi kasus. Sudah berapa berita di koran yang memberitakan 'mantan' oknum sekolah yang terkena kasus korupsi.
Ya itu pandangan dari saya, jika hal ini menyinggung pembaca, saya mohon maaf, saya adalah orang naif yang hidup di waktu yang salah, karena idealisme yang tinggi dan ingin merubah dunia, tetapi malah menjerumuskan tiga orang ke jalan yang menurut saya salah.....pelajaran hidup ini semoga membawa saya menjadi orang yang lebih tegas.
Nah sekarang saya ingin berbagi cerita, saya mempunyai kios di sebuah pasar tradisional, lebih tepatnya memakai kios orang tua saya untuk mencoba mencari sesuap nasi(dramatis sekali...). Usaha utama dari kios adalah penjualan seragam sekolah. Setiap orang kenal atau menetahui jenis usaha saya sebagian orang pasti memberikan saran untuk mencoba menjadi pemasok sekolah, dan hal itu selalu saya tolak dengan alasan saya tidak biasa bermain'amplop'. Seperti kita tahu sudah menjadi hal yang lumrah jika kita 'membagikan' sedikit rejeki kepada orang yang telah membantu usaha kita. Alasan penolakan saya, saya harus menghitung ulang harga barang supaya harganya kompetitif namun tidak rugi jika harus memberikan 'amplop'. Menurut saya itu merepotkan, dan bisa jadi saya dijadikan 'langganan' atas pungli-pungli itu.
Roda kehidupan berputar, dan sampailah di saat saya harus berhadapan dengan pihak sekolah. Bisa dibilang ini suatu rejeki yang tidak saya harapan. Rejeki karena dimana keadaan pasar yang baru sepi namun saya mendapat konsumen baru, sedangkan hal ini tidak saya harapkan karena saya harus memberikan sesuatu yang bukan haknya. Pihak sekolah meminta saya memberikan stempel, hal yang tidak biasa terjadi di pasar tradisional, untungnya dapat saya tolak. Percobaan pertama telah terlewati, karena saya telah menghindari membantu korupsi. Jikalau nantinya oknum-oknum tersebut nota palsu, saya tidak menanggung dosa tersebut.
Setelah selesai transaksi, mereka meminta bonus, hal yang membuat saraf ketawa saya berkontraksi, anda siapa? Baru berbelanja sekian rupiah kok sudah meminta bonus, sedangkan banyak dari langganan saya yang transaksinya lebih rutin dan sebagian nominalnya melebihi oknum sekolah ini saja tidak pernah meminta bonus, pertimbangan apa yang mengharuskan saya memberi anda bonus.
Ternyata masalah belum selesai sampai titik ini, ternyata dari pertama kali oknum sekolah sampai di tempat saya, sudah ada 3 orang yang meminta komisi atas jasanya mengantarkan konsumen ke kios saya. Tiga orang??? Gila, preman dari mana saja ini? Karena saya tidak pernah menjumpai kejadian semacam ini, saya bertanya kepada karyawan saya(sudah berkecimpung di pasar selama 10 tahun), adat kebiasaannya bagaimana? Karyawan saya berkata, bahwa dia juga baru kali ini menjumpai hal ini, meski sudah lama bekerja di beberapa kios dan lama menjadi karyawan pasar. Saya mengutarakan, kalau dikasih X rupiah bagaimana? Wajarkah? Karyawan saya hanya menimpali, seikhlasnya saja, daripada memberi tetapi tidak ikhlas. Dan akhirnya diputuskan memberi sejumlah uang kepada salah seorang dan tolong dibagi buat bertiga.
Apakah tulisan saya ini menandakan saya belum ikhlas? Sebetulnya tidak, saya ikhlas, disini saya hanya ingin berbagi, kalau transaksi di pasar tradisional saja pungutan liarnya sudah seperti itu, ditambah (diskusi dari oknum sekolah yang saya dengar) rencana penjualan seragam yang akan di mark up(diambil untung yang tidak wajar), lalu saya berpikir mau jadi apa negeri ini? Bekerja mencari laba itu sudah pasti, akan tetapi alngkah lebih bijak tidak menggunakan kekuasaan atau pangkat untuk menumpuk kekayaan pribadi. Jika seorang oknum dari sekolah berbisnis peralatan sekolah, menurut pandangan saya kurang elok, dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi kasus. Sudah berapa berita di koran yang memberitakan 'mantan' oknum sekolah yang terkena kasus korupsi.
Ya itu pandangan dari saya, jika hal ini menyinggung pembaca, saya mohon maaf, saya adalah orang naif yang hidup di waktu yang salah, karena idealisme yang tinggi dan ingin merubah dunia, tetapi malah menjerumuskan tiga orang ke jalan yang menurut saya salah.....pelajaran hidup ini semoga membawa saya menjadi orang yang lebih tegas.
Subscribe to:
Posts (Atom)